Friday, January 30, 2009

Berdiri Di Dalam Struktur - Harapan dan Kenyataan

Pagi imlek sudah datang. Gw bangun dengan mata lumayan berat... masih beleran, dan ternyata bonyok gw dah bangun duluan. Belum sempet mandi dan ganti baju, gw harus cepat-cepat berburu mengucapkan selamat ke orang tua gw. Dan akhirnya untuk pertama kalinya gw bisa ngasih amplop merah ke orang tua gw. Meskipun isinya tidak seberapa, tapi akhirnya bisa ngasih.

Untuk tahun pertama ini, gw hanya nyiapin tiga lembar amplop merah dengan isi ala kadarnya, untuk bokap, nyokap, dan nenek gw. Kalau kata nyokap gw, bukan isinya yang berarti, tapi amplopnya. Amplopnya berarti kesejahteraan dan kebahagiaan untuk orang tua. Semoga mereka semua berbahagia. Apa yang menjadi kebahagiaan mereka? Gw kira-kira bisa merasakan dan itu membutuhkan pengorbanan yang cukup besar... Entah gw mampu atau tidak.

Setelah itu, sekali lagi gw mulai mengambil posisi sebagai anak lelaki tertua, di mana gw menjadi seseorang yang menerima tamu, memperkenalkan ipar gw ke para tamu, dan mengajak mereka satu per satu bercerita (lebih tepatnya berbasa-basi).

Beberapa dari tamu adalah tamu yang berulang datang (atau paling tidak gw kenal baik). Beberapa di antaranya adalah tamu yang tidak pernah gw ketemu, tapi mereka bercerita tentang mengenal baik nenek atau bokap gw, dengan berbagai cerita "heroisme". Ada beberapa di antaranya yang bahkan terharu dan meneteskan air mata ketika ternyata nenek gw mengenalinya dan mengetahui separuh kecil mengenai dirinya.

Ada juga yang datang minta didoakan untuk kesembuhan dirinya dari penyakit besar yang menimpa dirinya. Juga beberapa biarawan dan biarawati datang mengucapkan selamat dan memberikan doanya untuk kelangsungan dan kebahagiaan keluarga kami.

Setelah semua itu, beberapa harapan mulai dilemparkan ke diri gw.

Gw hanya bisa tersenyum.

Gw seringkali tidak menjawab.

Gw pun menangis di dalam hati.

Berdiri Di Dalam Struktur - Leluhur dan Keluarga

Siang hari sebelum makan malam imlek, untuk pertama kalinya dalam (mungkin) sepuluh tahun, gw ikutan acara sembahyang leluhur. Ya, leluhur gw yang terdiri dari kakek, orang tua nenek, dan kakak nenek, beserta suaminya. Yang lainnya ke mana? Yang lainnya, merupakan jatah dari keluarga yang lain.

Dalam sembahyang leluhur, kami harus menyiapkan meja dengan berbagai jenis makanan, melibatkan makanan pembuka seperti jing jian bao (sejenis bakpao yang berisi lapchiong), makanan utaman nasi, ikan rebus, capcay, serta hidangan penutup dodol manis, pisang, jeruk. Juga ada minuman berupa teh, dan arak anggur. Dupa dan lilin merah sudah merupakan keharusan, dan tidak lupa uang-uang kertas dengan lapisan emas dan perak untuk bekal perjalanan pulang ke surga, yang dibentuk seperti kapal-kapalan kecil oleh kami sekeluarga.

Ketika semuanya sudah siap, maka acara sembahyang pun mulai dibuka oleh bokap gw, dan dilanjutkan oleh nenek gw, kemudian gw (sekarang gw sudah bertindak di depan nyokap gw), lalu nyokap gw, dan ditutup oleh ipar gw.

Lalu ketika mulai akan melakukan sembahyang, nyokap gw mulai berkata, "Minta supaya dimohonkan kepada Yang Empunya Hidup, supaya kamu bisa baik-baik dan bisa sukses untuk keluarga, mempunyai keluarga yang baik, istri yang baik, dan anak yang baik juga." Saya hanya bisa diam tertegun. Mungkin kalau memang para leluhur bisa melihat isi hati gw, mereka pasti sedang melihat gw berteriak di dalam hati. Mereka malah mungkin bisa ngomong, "Aduh, susah... anak sekong gitu." (ada istilah sekong gak sih di atas sana?)

Dan setelah menunggu beberapa saat, selayaknya menunggu orang makan hingga selesai, maka gw pun akhirnya mengambil jatah kerja untuk menutup meja. Ritual menutup meja adalah ketika kami mulai membakar uang-uangan surga tersebut, dengan seluruh dupa doa kami, dan penghormatan terakhir, sampai akhirnya beberapa cuil "sample" makanan diletakkan juga di dalam api. Biasanya ritual ini dilakukan oleh tuan rumah lelaki atau yang dituakan. Posisi itu ditempati oleh nenek gw yang berusia lebih dari satu abad itu, kemudian oleh bokap gw, dan kemudian gw.

Sambil menutup meja tersebut... di kepala gw mulai berbicara, "Bisakah gw mengambil tanggung jawab ini? Bila bukan gw siapa lagi?"

Untuk memikirkan hal ini saja gw sudah mulai pusing

Thursday, January 29, 2009

Berdiri Di Dalam Struktur - Kewajiban Sosial

Malam Imlek... dan seperti biasa anggota keluarga besar akan berkumpul di rumah kami, karena di rumah ini ada yang tertua, dan dituakan, dianggap tua, dihargai karena tua, dan berbagai tua-tua lainnya.

Di sore hari (gw masih berdua dengan ipar saya saja, bahkan kakak-kakak dan keponakan gw belum ada), kami minum kopi dan ngobrol-ngobrol tentang kesannya hidup di kota kelahiran gw selama beberapa minggu terakhir, tentang rencana pembangunan lahan baru, dan rencana kehidupannya ke depan.

Tidak lama kemudian, ketika matahari sudah mulai tenggelam, kami mulai mempersiapkan diri untuk makan malam bersama. Sebenarnya setelah makan malam bersama ini, kami juga mendapat undangan dari salah satu sahabat keluarga kami, untuk makan malam merayakan hari ulang tahun perkawinan mereka di sebuah restoran yang cukup ternama. Awalnya gw males pergi, tapi sekali lagi, segala sesuatu bukan karena keinginan dan kesenangan pribadi. Banyak kewajiban yang harus dipenuhi. Maka gw harus pergi, dan berbasa-basi di tempat tersebut. Gw harus pergi untuk memperkenalkan diri dan membawa nama baik keluarga.

Di restoran kami pun makan malam di sebuah ruangan yang memang direserve khusus untuk acara itu. Ruangan tersebut hanya terdiri dari enam meja yang setiap mejanya hanya dapat menampung sepuluh orang. Ketika masuk, kami dibagi berdasarkan jenis kelamin dan kedudukan kami dalam keluarga, maka gw dan ibu gw kepisah, dan gw duduk dalam satu meja dengan yang empunya pesta bersama ayah dan ipar gw.

Delapan macam makanan keluar bergantian, dan kami pun diharuskan untuk memakan ke-delapan makanan tersebut, dengan berbagai alasan yang sering kali berbunyi, "Kamu memalukan ayahmu kalau tidak bisa menghabiskan makanan itu." Dan gw hanya tersenyum mengambil sedikit, dan akhirnya menolak. Dalam hati gw dah bilang, "Emangnya kalo gw gendut dan sakit-sakitan lo mau nanggung?"

Di antara semua itu ada berbagai basa-basi lagi yang harus dilakukan, termasuk memuji, berbicara mengenai pekerjaan (yang mana gw males ngomong kalau sedang tidak bekerja), serta berbicara mengenai pernikahan, berkeluarga, dan berbagai tetek bengek yang kadang hanya membuat gw senyum-senyum sendiri...

Dan akhirnya malam pun tiba... dan kami harus pulang... Semua berpamitan, foto bersama... dan saya harus mengucapkan terima kasih on behalf of my family, and then we went home. Kembali ke rumah di mana saudara-saudara dan tante gw sudah kembali ke rumah masing-masing.

Meskipun dengan keluarga sendiri tetap berbasa-basi, tapi gw lebih memilih berada di antara keluarga sendiri daripada pergi keluar memenuhi undangan seperti itu. Tapi seperti kata ibu saya, "Ini adalah kewajiban sosial, dan banyak hal harus dilakukan untuk itu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan."

Dan demikianlah... manusia diciptakan sebagai mahluk sosial

Berdiri Di Dalam Struktur

Dan gw pulang ke rumah. Ke rumah maksudnya ke kampung halaman. Kalau pulang ke kampung halaman artinya gw akan pulang dan menduduki kursi kerajaan dengan banyak yang memenuhi kebutuhan gw secara otomatis, tapi dengan segala acara kenegaraan yang harus dijalankan juga.

Hari pertama gw nyampe, gw langsung ke dukacita bekas guru Playgroup gw... yes, pada saat itu dia adalah playgroup pertama dan satu-satunya playgroup di kota kami. Dia membawa konsep itu dari luar negeri.

Guru gw ini meninggal setelah mengalami sakit satu tahun. Sakit yang cukup serius. Meskipun demikian, dia meninggal juga dalam usia yang cukup lanjut. Di usia delapan puluhan. Dengan meninggalkan banyak cucu. Meskipun hanya memiliki satu anak sungguh, dia memiliki banyak anak tiri, yang semuanya mencintainya kembali karena dia juga mencintai mereka dengan sungguh hati.

Mayatnya disemayamkan di sebuah gereja, yang sejak kecil sering gw lalui. Ketika memasuki gereja itu saya terkejut dengan suasana seperti gereja dalam setting film-film Chiung Yao. Ternyata setelah gw liat di salah satu prasastinya, gereja tersebut dibangun di sekitar awal abad ke-20 oleh missionaris dari daratan Cina. Hingga seluruh pelayanan di dalam sana menggunakan bahasa Mandarin, dan tulisan di dalam gereja pun semuanya berbahasa Mandarin. Ketika berada di dalam gereja itu serasa sedang berada di Shanghai sebelum perang dunia kedua. Kolot banget... belum lagi dengan semua bahasa Mandarin yang digunakan. Gereja itu cukup dekat dengan rumah gw, tapi gw sendiri tidak menyadarinya sampai hari itu.

Dan demikianlah suatu kewajiban harus diselesaikan. Pergi melayat, mewakili keluarga, untuk nama baik keluarga. Dan kewajiban berikutnya menanti, karena hari itu adalah malam Imlek. Berbagai tata aturan dan struktur kekeluargaan menanti...

So... welcome home, dear!

Monday, January 19, 2009

Not Feeling Well

Not feeling very well nih... padahal besok dah pulang... kok bisa ya? Ketularan pasien kali ya?

Padahal masih banyak nih report yang harus dibuat... dan waktu gw berjalan terus... hanya sampe besok siang...

Hayo semangat!!! Minum obat dan jangan hiraukan meriangnya...

Friday, January 16, 2009

Cermin Cermin... Siapakah Yang Ngondek?

Beneran gw mulai kerasa gak ada kerjaan banget di tempat kerja gw. Most of my days gw pake buat browsing dan chatting, either on Yahoo! Messenger, or Facebook, or even I've started mIRC (after about 5 years of none existance.... I even have forgotten the unsaid rules of speaking there).

Browsing juga macam-macam. Mulai dari cek email, facebook, friendster (gw dah jarang banget cek), wikipedia (ampe kebaca semua artikel), a little bit bokep (ok... I admit I did a bunch), even I was browsing on some of my friends' friends in their ad.

I came into Khatam's ad, both in friendster and facebook, sambil chatting dengan Oom. Ngeliat teman-temannya, gw bilang ke oom,
"Hebat ya... teman-temannya keren-keren lho! Gaya-gaya banget!"
dan si Oom ngejawab gw, "Iyalah! Si Khatam mah emang gak ada matinya. Tapi kan lo riwayat pacar-pacarnya okay okay!",
kemudian dengan besar kepala gw berusaha merendah (hihihihi... ilmu padi ceritanya, tapi dengan unsur narsisistik dan membanggakan diri), "Ngga lah. Sapa yang cakep? Paling hanya Tj doang. Kalo RW mah bodynya doang bagus. Tapi cakep? Ngga gimana-gimana kali."
Dan cerita kita mengarah ke Tj, di mana malam minggu kemaren teman-teman gw ketemu dia di Muster Point (Area Berkumpul). Dan salah seorang teman gw dari sebelah paling Barat Indonesia pengen ngedekatin dia dan si oom berkomentar,
"Kurang ngondek lo. Dia gak tertarik,"
dan menurut si oom ngga lama kemudian dia (Tj) mendekati seseorang yang goyangnya ke mana-mana (kalau gak salah istilahnya jelampratan?).

Trus gw langsung nanya kalau begitu gw ngondek dunk dulu. Dan jawabannya,
"Emang dulu doang?"
PLAK....
PLOK....
PLAK....
PLOK....
(jurus seribu tamparan ke wajah bodoh)
Ternyata gw ngondek ya sekarang...
untung temen gw ngomong (cermin gak pernah bohong)

Wednesday, January 14, 2009

Anak SMP Blingsatan

Buka komputer, gw nyapa temen gw di YM (rutinitas pagi), gak lama dia bilang,
"Si De, sekarang bukan model lagi ya?"
Langsung gw bilang,
"Masaaaa?
Tau dari mana lo?
Lo kenal dia?
Mau dong dikenalin!"
(berbagai pertanyaan dan permintaan beruntun buat dia, yang sebenarnya gak penting juga dijawab hehehehe...)

Setelah dapat info seperti itu, mulailah gw membuka halaman dia di salah satu ad internet yang terkemuka saat ini. Dan VOILA... GOTCHA! Yang heboh, benernya bukan dapetnya, tapi reaksi gw yang berlebihan itu.
  1. Gw langsung tersenyum lebar... diikuti deg-degan (hahahaha... malu-maluin bener)... gw sendiri bingung... kok gw deg-degan (gak penting), tapi asli gw deg-degan... mungkin malah gw blushing kalo gw bisa liat muka di cermin waktu itu
  2. Trus gw dengan kebingungannya bertanya-tanya ke teman-teman gw (bukan hanya satu artinya) perlu gw add gak ya? apa gw perlu kirim message dulu atau nge-add dulu? Bakal di add gak ya gw?
  3. Habis itu akhirnya gw add dia dengan tambahan message di sana... berharap-harap cemas di add balik. Bukan hanya berharap-harap cemas, tapi sungguh berharap. Hahahaha
Waktu gw cerita ama Yuda, trus gw dikatain kayak anak SMP. Hahahaha... Iya... SMP abis! Kayak anak kecil... anak belum gede malah... hahaha... tapi sebenarnya that's the age when I spotted him in my sibling's magazine. Sampe-sampe pada waktu itu gw suka bawa tidur tuh majalah, supaya waktu bangun gw bisa ngeliat dia. Huahahaha... Pura-puranya ketiduran waktu baca majalah. Atau kebaca waktu tidur?

Gosh... I found him as cute as before... even though it's only a picture on an ad. Still... and I was drown back to my early age.

Sunday, January 11, 2009

And Here Comes The Clinician


Ada satu episode Grey's Anatomy di mana mereka nginep di rumah sakit sampai 14 hari (tidak pulang-pulang) untuk memenangkan pertandingan bedah. Jadi untuk setiap tindakan yang mereka lakukan bakalan dapet nilai tertentu, dan pada akhirnya nilai itu bakalan dijumlahkan dan yang tertinggi jadi pemenang.

Sepanjang film terlihat kalau semuanya bersemangat tinggi. Mulai dari Cristina (tentunya bersemangat) yang lari (dia kayaknya memang selalu lari) dan menyenggol si Izzie sampe jatuh. Atau waktu Izzie yang berburu pasien dan memeriksa pasien yang flu dengan berbagai macam pemeriksaan laboratorium karena mencurigai adanya penyakit alergi atau apapun itu (sampai mencapai harga USD 120 000... untung yang nanggung asuransi ya... kalo di Indonesia dah mati aja tuh bayarnya... gw aja gak bisa bayar 12 juta hanya buat lab). Ada juga waktu Karev yang rebutan ngejahit dengan Cristina, atau waktu Meredith kesenangan (kejam gak sih sebenarnya) waktu menemukan orangnya menderita tumor.

Dari semua kejadian itu, intinya mereka semua begitu bahagia dengan pekerjaannya sampai-sampai rela mengorbankan kesenangannya untuk pekerjaan. Atau bukan mengorbankan kesenangan, tapi karena kesenangannya ada di pekerjaan itu sendiri. Mereka bahagia dengan apa yang mereka kerjakan.

Selama ini, sebagai dokter, gw belum menemukan apa yang sebenarnya jadi kesenangan gw. Garis bawahi kata "yang sebenarnya". Gw senang bertemu dengan pasien, tapi kadang kala kalau udah terlalu banyak mengurus pasien, gw cape juga, dan mau tidur. Gw seneng ngurus pasien, tapi kalau temen gw dah nelpon gw, rasanya pengen cepet-cepet pulang ketemu mereka.

Gw inget waktu masih di dunia co-assistant (seringkali dikenal dengan nama koas), temen-temen gw selalu bersemangat dan memang kami (termasuk gw) selalu rebutan pasien. Tapi akhirnya selalu gw bilang elo ajalah kalau memang jam malam sudah tiba. Karena mereka sudah mengerti, jadi selalu gw yang jaga sampe jam 10 malam dan mereka tidur, lalu kemudian mereka akan jaga, dan gw bakal bangun jam 3 pagi untuk melanjutkan jaga sampe matahari ketemu muka lagi.

Pada saat itu, gw lebih banyak berurusan dengan mengatur administratif mereka (giliran jaga, maju kasus, lobby pembimbing, dan lain sebagainya). Mereka dengan senang hati memberikan semua tugas-tugas tidak penting itu untuk gw.

Lalu gw memutuskan untuk mengetes air ke dunia manajemen (meskipun pertemuan gw dengan pasien tidak gw putuskan sama sekali), ternyata excitement yang gw harapkan juga belum gw temukan. Lebih hebatnya lagi, ternyata gw masih lebih senang bertemu dengan pasien.

Kemudian gw mulai berpikir mau gw apa ya? Hmmm... gw pengen bisa merasakan excitement seperti yang ada di dalam Grey's Anatomy. Gw pengen merasakan indahnya bekerja, dan jatuh cinta pada pekerjaan itu. Seperti teman-teman gw sekarang. Mereka semua sudah jatuh cinta pada pekerjaannya.

Seperti kata Izzie,
"I envy the love and passion Cristina has."
I think I'll going back to the clinical world. COME ON!! You've got to move fast... time is ticking... age is counting...

PS: Satu hal yang gw dah tau pasti... gw seneng kalo dapet duit... hehehehe... Cina abeesss...

Saturday, January 10, 2009

Maunya?


Blog pertama di tahun yang baru. Sebenarnya gw masih juga belum mau menuliskan blog. Beberapa alasan adalah
  1. Gw lagi ga punya ide yang menarik (sebenarnya biasanya juga gak menarik-menarik amat), tapi maksudnya, gw gak punya ide menjadikan dalam bentuk kata-kata kejadian di sekitar gw.
  2. Gw sejak pulang ke darat maunya olahraga mulu... nge-gym tanpa henti. Abis gym yoga, abis yoga berenang, abis berenang lari. Dan semua kembali lagi ke siklus semula.
  3. Belum lagi begitu gw di darat, gw kalap nerima kerjaan jaga rumah sakit, jaga praktek, dan berbagai yang bisa menghasilkan uang.
  4. Ketambahan lagi gw waktu tahun baru jalan keluar sama teman mulu.
Praktis gw gak punya waktu untuk berpikir apa sih yang gw mau tulis (atau gw membuat seakan gw gak punya waktu karena otak gw gak dipake buat mikir? Sok sibuk abis... situ selebritis {atau selebrita... orang yang membuat berita} hehehehe). Akhirnya gw mencoba kembali menulis kembali apa yang ada di pikiran gw.

Pernah beberapa saat yang lalu gw begitu marah, dan tidak senang dengan seseorang yang menurut gw mengambil dunia gw yang gw anggap sudah stabil dan seharusnya bisa menetap seperti itu. Seperti halnya si Zhou Yu yang begitu menyenangi rutinitas dan kebosanan, yang menurut dia adalah suatu keindahan, gw juga kurang lebih begitu. Tapi kalau mau gw seperti itu dan Yang Punya Hidup bilang ngga, ya ceritanya bakal berkata lain.

Beberapa saat yang lalu gw sudah mulai bisa tidak memperdulikan kehilangan gw akibat hal di atas. Gw sudah mulai tidak menghiraukan. Mulai jadi apatis kalau gw bilang. Keingatan omongan teman gw, Berlian (yang baru kehilangan keluarga dan anaknya karena sesuatu dan lain alasan),
"Pada akhirnya kita memang akan sendiri. Sendiri dalam hidup. Keterikatan kita pada teman, suami, anak, orang tua, dan lainnya. Akhirnya harus kita lepaskan juga."

Dari apatis yang gw alami akhirnya gw mulai berpindah (secara tidak sadar) ke secara tulus melepaskan, dan gw akhirnya mengakui di dalam hati gw kalau gw masih sayang dengan sahabat gw satu itu. Gw bisa dengan tulus melepaskan apa yang menjadi indah buat dia, menjadikannya bahagia, adalah sesuatu yang baik buat gw juga. Gw hanya perlu mencari hidup dan teman yang baru.

Seperti dalam buku Who Move My Cheese, gw harus menjadi tikus yang selalu mencari sumber-sumber keju baru, dan dengan demikian gw akan selalu siap ketika kehabisan yang lama. Pemikiran gw yang menyatakan bahwa kejadian yang waktu itu adalah egoisme dari seorang sahabat yang melupakan sahabatnya, juga mungkin perlu gw periksa lebih jauh lagi dengan melihat bahwa egoisme itu juga melibatkan diri gw sendiri yang ternyata juga tidak bisa memberikan ruang gerak yang besar. Tidak memperhatikan kebutuhan orang lain. Karena merasa dunia berputar di sekitar dirinya sendiri.

Mungkin seperti apa yang gw sering kali ketemu di Alkitab, tapi gw sendiri jarang dan sulit mengimplementasikannya adalah:
"Why do you look at the speck of sawdust in your brother's eye and pay no attention to the plank in your own eye? 4How can you say to your brother, 'Let me take the speck out of your eye,' when all the time there is a plank in your own eye? 5You hypocrite, first take the plank out of your own eye, and then you will see clearly to remove the speck from your brother's eye." (Matthew 7:3-5)
Rasanya pengen teriak ama diri sendiri, "BENCOOOONG!!!! It's time for you to give people time. Dunia gak berputar di sekitar lo doang tau!" (tetep ya... masih ada yang berputar di sekitar gw... hehehehe)