Friday, March 27, 2009

Kawin Mawin Manusia Sempurna

Setelah beberapa tema pernikahan, dan kejadian tentang pernikahan di dunia nyata yang gw temukan secara langsung beberapa waktu belakangan ini, gw kembali teringat dengan beberapa pikiran bawah sadar gw tentang pernikahan. Sering banget muncul di dalam "mimpi" gw...

Buat gw, menikah adalah suatu hal yang sangat besar. Saking besarnya sampai kalau gw berdiri di dekatnya gw berasa kecil sekali. Berasa sekecil semut yang berdiri di sebelah gajah. Takut keinjek karena gak keliatan. Kalau keinjek berharap masuk di antara keriputan kakinya, jadi gak mati. Setelah gw lepas dari kakinya, gw berharap bisa lari menjauh dan tidak bertemu dengan kaki lainnya. Kurang lebih itu gambaran gw.

Beberapa dari teman gw, yang juga cong, memutuskan untuk menikah. Menikah untuk kehidupan yang lebih baik. Menikah untuk menjalankan agamanya dengan baik. Menikah untuk mengerti apa maksud kehidupan. Atau hanya sekedar menikah karena butuh status dan anak yang mungkin akan menjadi objek yang merawat dia ketika dia tua nanti.

Tidak menghina. Tidak juga mengecilkan arti pernikahan mereka. Tapi gw ketakutan untuk bertemu dengan pernikahan karena gw takut dengan konsekuensi yang akan gw hadapi setelah itu:
  1. Gw tidak bisa menjadi ayah yang baik. Seberapa hebat pun gw coba, gw takut gw akan menjadi si ayah cacat bagi anak-anak gw
  2. Istri gw akan dikecewakan karena ternyata cinta gw buat dia adalah cinta karena kebutuhan, bukan karena sesungguhnya
  3. Dan yang ini paling gw takut, gw menemukan cinta yang lebih baik di luar sana dengan lelaki lain yang menurut gw dapat melengkapi gw.
  4. Dan akhirnya, ketika gw mencintai dia, gw akan menjadi kekasih yang brengsek karena menyuruh pihaknya berkorban untuk gw dan keluarga gw.
Trus akhirnya air mata bakalan berlinangan, kemudian terjadi tanggul bocor sambil berteriak Situ Gintung? (Situ Ganteng? -red), dan akhirnya bukannya mendapatkan apa yang seharusnya gw dapet, tapi gw kehilangan semua-semuanya, dan tidak ada satupun yang tertinggal. Maruk masalahnya...

Yah, gw sendiri juga masih dalam pencarian kali ya? Gw belajar dari teman gw, jalanin aja hidup ini baik-baik seperti apa yang menurut elo baik, karena lo jadi tenang dan sadar saat ini. Buahnya juga mudah-mudahan bakalan baik di kemudian hari. AMEEN...

14 comments:

Apisindica said...

Satu kata. Kerennnnn....
Days balik lagi dengan salah satu postingan yang syarat makna. Sederhana tapi indah.

Gue sangat setuju dengan poin 3 dan 4. Bagaimana jadinya ketika kita sudah menikah, kita menemukan cinta lain yang notabene laki-laki juga karena kita berpikir kehadirannya bikin kita utuh dan lengkap. Terus kita akan bertransformasi menjadi kekasih brengsek yang selalu meminta pengorbanan lebih dari si kekasih gelap untuk senantiasa memahami kita. Setidaknya mau berbagi perhatian dengan istri dan anak kita.

Satu pertanyaan : Adilkah itu?

Tidak berusaha untuk mengecilkan arti cong yang menikah juga, tapi itu faktanya. itu stereotipenya. Artinya, ketika kita sudah memutuskan untuk menikah, jalani dengan benar. Berbuatlah sesuatu yang adil. Setidaknya adil sama diri kita sendiri. kalau masih merasa berat, jangan menikah dulu. Karena itu akan jauh sangat tidak adil bagi istri dan anak-anak kita.

(Days: maaf komennya kepanjangan dan ngelantur!)

Zhou Yu said...

Aduh, ternyata day sudah nulis tentang marriage. Padahal aku juga baru tergelitik pengen nulis topik ini karena ada temen yang ngajak ngobrol di YM.

Dia kepengen nyari cinta cong, tapi atas dasar temporary. Soalnya mau pacaran ma cowok, nantinya tetep harus putus karena harus nikah.

Semua tetep kembali ke pribadi masing dan C.A.C. (alias Choice, Action, and Consequences)

Laa - Aysra said...

Days, salam kenal...

Hum...jadi inti dari deskripsi loe diatas kalo menurut gw adalah kata "maruk"...

1. Kalo menjadi ayah yang baik, itu kan relatif. Cacat atau tidak cacatnya, tergantung kata "maruk" itu kan...
2. Gw gak ngerti dengan yang ini. Belom sampe taraf ini kali ya...
3. Menemukan cinta diluar sana, mungkin gak akan jadi masalah. Asal loe gak ambil cinta itu. Artinya, biarin aja orang laen yang ngambil. Coz loe dah punya cinta yang ada. Intinya cukup satu, jangan dua, jangan "maruk"
4. Berkorban dalam hal apa dulu niy days..secara bukannya "cinta" adalah pengorbanan. Kalo pengorbanan yang ada dapat mendapatkan hasil yang kita inginkan, menurut gw itu gak brengsek. Gi pula, mencintai adalah memberi, bukan memberi dan menerima. Tapi alangkah lebih baik kalo kedua belah pihak sama sama memberi.

(how???)...

montirmanusia said...

don't worry days...
gw juga dalam proses belajar.

(something I wanna confess, let's talk on the phone if you wake up tomorrow morning)

daysandminds said...

dooh gw gak tau mau komen gimana lagi. Yang pasti mencinta itu harus sungguh-sungguh

Gw sebenarnya belajar untuk lebih berhati-hati dalam mengatakan kata "tidak akan", "tidak pernah", "tidak mungkin", atau sesuatu yang berbau seperti itu...

It's harder when you are in the shoes...

Sinting Maut said...

hmmm...

Gw takut melakukan 'ini' karena beberapa orang yg gw ketahui setelah melakukan 'ini' akan menjadi seperti 'itu'

kemudian gw berada dipersimpangan jalan, apakah gw akan tetap melakukan 'ini' dengan segala ketakutan-ketakutan yang gw punya dan segala konsekuensi yang akhirnya dihadapi oleh orang-orang yang gw kenal? atau gw ngga harus melakukan 'ini' supaya gw juga ngga seperti mereka yang akhirnya merasakan 'itu'

ketakutan-ketakutan 'ini' akhirnya tertanam begitu dalam dan sangat subur dalam benak gw sehingga dengan tidak sengaja mindset "TAKUT AKAN HAL INI" terbentuk dalam diri gw. Tapi tenang, meskipun begitu gw masih tetep dalam tahap belajar kok untuk memahami hal 'ini'

ya... semoga aja proses pembelajaran dengan mindset 'takut ini' yang tertanam kuat dalam benak gw ngga cuma jadi tameng untuk mementahkan semua hal yang berlawanan dengan mindset gw...

Good Luck for us Bro...

Nei said...

Sial kamu days....mencongkel luka. suka deh dengan kamu! Hehehehe....kawin? Aku tahu aku akan lebih menderita kalo kawin, makanya saya say no to kawin.

lucky said...

Mmmmmm.....

I feel gay marriage syndrom - GMS ( if I may say that) too since Im gonna married soon, less than one year from now.

I hope that your GMS number 3 and 4wont happen to me. I will close my eyes, switch off my gaydar, and keep saying to myself:"my time is over"

I know that's not as easy as I write now, but that's a price to pay for my decision.

daysandminds said...

Nei... singkat dan dalem... asli dalem... hahaha... gw lagi belajar untuk tidak bilang tidak pernah atau semacamnya...

Lucky, sante aja... jangan terlalu dipikirkan. Segala sesuatunya lo yang tau paling baik buat elo... dan jadinya elo juga yang bisa nentuin yang baik buat elo...

Sinting maut... mari kita belajar di kelas... hehehehe

Ga ada ada yang tau masa depan

Noel said...

Hmm.. dalem nih maksudnya.. But overall setuju lah.. :). Ga ada yang tau masa depan hehe..

daysandminds said...

Stubuh noel... memang demikianlah hidup... ternyata seperti itu kenyataannya... semakin berumur gw semakin belajar...

nisiaro said...

Gue sih salut ya sama gay yang memilih untuk kawin, sepanjang komitmennya beneran... masalah hati ini yang susah ya, dan bukan cuma hati gay tobat ini ya, gimana kalo sampe bini dan (amit-amit) anaknya tau kalo bapaknya leading a double life.

Baru nemu blognya, dan suka sama tulisan ini.

supernova_blast said...

Gw aprreciate buat yg punya keberanian untuk menikah dg berbagai alasan: entah itu buat kamuflase, pengen pny keturunan, biar kl tua ada yg ngurus, atau 'berobat jalan' he he he... Tp lakukanlah dengan yakin jgn sampe nengok lg masa lalu, atau kambuh lagi. jgn jd penjahat buat anak dan istri.jgn egois, kasian mereka.
Kl gw sih lebih happy being single adn verry happy he he he... gw ga suka pura (dan bkn berarti jg hrs ngaku ke seluruh dunia kl gw gay. gw ga ingin pernikahan jadi penjara buat gw, gw ga mau hrs berdusta sm orang lain dan mendustai diri sendiri... Tapi semua itu adalah pilihan... take it or leave it... tergantung keyakinan kita.

daysandminds said...

Thanks nisiaro... datang lagi ya

Supernova_blast... tapi biar begitu ternyata banyak lho yang merasa perlu dengan dua-dua sisinya... dooh gw takut jadi seperti itu... gw takut