Wednesday, February 25, 2009

Suatu Sore dengan 610

Gw lagi buru-buru menuju ke suatu tempat. Sore-sore agak gerimis-gerimis romantis. Waktu itu juga tidak terlalu rame. Setelah melewati jejeran rak sepatu, baju, tas, dan jualan lainnya, yang ditawarkan dengan harga sangat miring di terminal Blok M, gw naik ke bus 610.

Di mulut keluar jalur bus tersebut sebelum meninggalkan terminal Blok M, tiba-tiba si kernet bilang, "A*^$#g, b@&i, tuh aparat pemerintah." Si sopir kemudian bersuara, "Sudahlah... sudahlah..." Tidak lama kemudian ada petugas berbaju biru, dengan perut super tambun yang bisa dijadikan tatakan gelas, dengan topi model polisi berwarna biru, dan kaca mata hitam gaya bikers tahun 60an bergagang emas, lewat sambil bernyanyi ringan... dan si kernet memberikan tiga lembar berwarna biru kehijauan lusuh.

Belum juga lepas terminal Blok M, si kernet sudah berteriak lagi, "Sudah! Sudah! Sudah ku kasih dua orang di belakang sana." Mata gw mau lompat keluar rasanya melihat si baju biru itu. Biru-biru tambun dapat biru-biru agak ijo. Lalu si kernet berbicara lagi, "Hanya bisa minta-minta aja tuh orang. Orang susah pula yang ditadahin."

Bus ini kemudian melanjutkan perjalanannya, menyusuri Jl. Fatmawati. Sepanjang perjalanan, si kernet hanya memaki dengan berbagai kebun binatang haram (binatang yang disebutinnya gak ada yang halal). Pada saat tertentu, bus hampir penuh. Kemudian hampir kosong lagi. Setelah melewati ITC Fatmawati, mungkin saking desperatenya, si kernet berteriak-teriak, "Naik! naik! Dapat snack! Dapat snack! Ada permen juga!" Gw ketawa geli...

Tepat di depan halte bus sekolahan dekat D'Best, tiba-tiba si kernet berteriak lagi, "Baru 90ribu hari ini. Tak cukup. Bla bla bla (dalam bahasa yang tidak gw tau). Dan akhirnya dia mengeluarkan dua lembar lagi biru-biru kehijauannya. Dalam hati gw bilang, "Pantesan aja ongkos bus kita susah turunnya."

Memang semua orang butuh uang, dan gw gak punya hak menyatakan siapa yang salah. Si baju biru itu juga keliatannya tidak mendapatkan penghasilan yang cukup. Semua orang bisa berkata, hidup itu susah. Entahlah...

7 comments:

ceritayuda said...

Thanks God, sekarang day lebih manusiawi. Huahahahahaha.

Tumben Dok, pake bis?! Gue nggak berhenti ngebayangin, muka jutek lu waktu si kernet nyaci maki menggunakan bahasa kebun binatang haram itu. Hehehehehehe, pasti lucu!

Zhou Yu said...

Yah, anggap aja makian itu kaya lagu pengamen, day! hiburan gitu!

daysandminds said...

Gw sih gak terganggu dengan kebun binatang haramnya... gw hanya amazed aja dengan rentetan baju biru gendut dapat biru-biru kehijauan...

Btw, Yud... apanya yang lebih manusiawi? Gak nangkep dah gw...

BoewatChat said...

Lebih membumi kali maksudnya :) Dgn brcerita ttg orang2 "biasa" dan merhatiin si baju biru gendut itu..
Anyway, di semua level ada kok yg kaya si baju biru itu. Makin ke atas makin menjijikkan keserakahannya.. Pantes negara kita miskin terus..

ceritayuda said...

Day, lebih manusiawi topiknya. Lebih menjejak bumi. Hehehehe.

daysandminds said...

oom... memang makanya sapa yang salah ato bener gak bisa ditentuin kalo dah gitu... ntah lah...

makasih, yuda

plainami said...

yang kayak gini memang selalu bikin miris ya :(