Thursday, January 29, 2009

Berdiri Di Dalam Struktur - Kewajiban Sosial

Malam Imlek... dan seperti biasa anggota keluarga besar akan berkumpul di rumah kami, karena di rumah ini ada yang tertua, dan dituakan, dianggap tua, dihargai karena tua, dan berbagai tua-tua lainnya.

Di sore hari (gw masih berdua dengan ipar saya saja, bahkan kakak-kakak dan keponakan gw belum ada), kami minum kopi dan ngobrol-ngobrol tentang kesannya hidup di kota kelahiran gw selama beberapa minggu terakhir, tentang rencana pembangunan lahan baru, dan rencana kehidupannya ke depan.

Tidak lama kemudian, ketika matahari sudah mulai tenggelam, kami mulai mempersiapkan diri untuk makan malam bersama. Sebenarnya setelah makan malam bersama ini, kami juga mendapat undangan dari salah satu sahabat keluarga kami, untuk makan malam merayakan hari ulang tahun perkawinan mereka di sebuah restoran yang cukup ternama. Awalnya gw males pergi, tapi sekali lagi, segala sesuatu bukan karena keinginan dan kesenangan pribadi. Banyak kewajiban yang harus dipenuhi. Maka gw harus pergi, dan berbasa-basi di tempat tersebut. Gw harus pergi untuk memperkenalkan diri dan membawa nama baik keluarga.

Di restoran kami pun makan malam di sebuah ruangan yang memang direserve khusus untuk acara itu. Ruangan tersebut hanya terdiri dari enam meja yang setiap mejanya hanya dapat menampung sepuluh orang. Ketika masuk, kami dibagi berdasarkan jenis kelamin dan kedudukan kami dalam keluarga, maka gw dan ibu gw kepisah, dan gw duduk dalam satu meja dengan yang empunya pesta bersama ayah dan ipar gw.

Delapan macam makanan keluar bergantian, dan kami pun diharuskan untuk memakan ke-delapan makanan tersebut, dengan berbagai alasan yang sering kali berbunyi, "Kamu memalukan ayahmu kalau tidak bisa menghabiskan makanan itu." Dan gw hanya tersenyum mengambil sedikit, dan akhirnya menolak. Dalam hati gw dah bilang, "Emangnya kalo gw gendut dan sakit-sakitan lo mau nanggung?"

Di antara semua itu ada berbagai basa-basi lagi yang harus dilakukan, termasuk memuji, berbicara mengenai pekerjaan (yang mana gw males ngomong kalau sedang tidak bekerja), serta berbicara mengenai pernikahan, berkeluarga, dan berbagai tetek bengek yang kadang hanya membuat gw senyum-senyum sendiri...

Dan akhirnya malam pun tiba... dan kami harus pulang... Semua berpamitan, foto bersama... dan saya harus mengucapkan terima kasih on behalf of my family, and then we went home. Kembali ke rumah di mana saudara-saudara dan tante gw sudah kembali ke rumah masing-masing.

Meskipun dengan keluarga sendiri tetap berbasa-basi, tapi gw lebih memilih berada di antara keluarga sendiri daripada pergi keluar memenuhi undangan seperti itu. Tapi seperti kata ibu saya, "Ini adalah kewajiban sosial, dan banyak hal harus dilakukan untuk itu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan."

Dan demikianlah... manusia diciptakan sebagai mahluk sosial

2 comments:

Reis's said...

It's difficult ya, to be the oldest son in the family. Bebannya dikali dua: satu beban anak cowok (yang harus married atas nama patriarki - bener ga seh nulisnya? hehe), satu lagi beban anak sulung...

daysandminds said...

hahaha.... reis's... somehow... gw sering gak mau mikirin itu... tapi setiap kali pulang kampung semuanya datang begitu saja di depan mata gw... :D