Pagi imlek sudah datang. Gw bangun dengan mata lumayan berat... masih beleran, dan ternyata bonyok gw dah bangun duluan. Belum sempet mandi dan ganti baju, gw harus cepat-cepat berburu mengucapkan selamat ke orang tua gw. Dan akhirnya untuk pertama kalinya gw bisa ngasih amplop merah ke orang tua gw. Meskipun isinya tidak seberapa, tapi akhirnya bisa ngasih.
Untuk tahun pertama ini, gw hanya nyiapin tiga lembar amplop merah dengan isi ala kadarnya, untuk bokap, nyokap, dan nenek gw. Kalau kata nyokap gw, bukan isinya yang berarti, tapi amplopnya. Amplopnya berarti kesejahteraan dan kebahagiaan untuk orang tua. Semoga mereka semua berbahagia. Apa yang menjadi kebahagiaan mereka? Gw kira-kira bisa merasakan dan itu membutuhkan pengorbanan yang cukup besar... Entah gw mampu atau tidak.
Setelah itu, sekali lagi gw mulai mengambil posisi sebagai anak lelaki tertua, di mana gw menjadi seseorang yang menerima tamu, memperkenalkan ipar gw ke para tamu, dan mengajak mereka satu per satu bercerita (lebih tepatnya berbasa-basi).
Beberapa dari tamu adalah tamu yang berulang datang (atau paling tidak gw kenal baik). Beberapa di antaranya adalah tamu yang tidak pernah gw ketemu, tapi mereka bercerita tentang mengenal baik nenek atau bokap gw, dengan berbagai cerita "heroisme". Ada beberapa di antaranya yang bahkan terharu dan meneteskan air mata ketika ternyata nenek gw mengenalinya dan mengetahui separuh kecil mengenai dirinya.
Ada juga yang datang minta didoakan untuk kesembuhan dirinya dari penyakit besar yang menimpa dirinya. Juga beberapa biarawan dan biarawati datang mengucapkan selamat dan memberikan doanya untuk kelangsungan dan kebahagiaan keluarga kami.
Setelah semua itu, beberapa harapan mulai dilemparkan ke diri gw.
Gw hanya bisa tersenyum.
Gw seringkali tidak menjawab.
Gw pun menangis di dalam hati.
Men In SSS-Shorts : Rujak Banci, Mas?
3 hours ago

0 comments:
Post a Comment