
Ketika orang sudah tua, biasanya waktu akan berjalan semakin lambat. Tapi meskipun waktu itu berjalan semakin lambat, jarak waktu menjadi semakin pendek. Untuk beberapa orang, waktu yang memendek itu merupakan suatu berkah, bahwa akhirnya mereka akan menyelesaikan hidup ini juga dengan baik. Mungkin juga berkah karena dia akan meninggalkan dunia yang menyebalkan ini.
Tapi ada juga yang ketakutan dengan waktu yang semakin memendek itu. Mereka-mereka yang cenderung memang takut mati. Yang merasa kalau waktu bisa distop pada saat itu, distop aja, biar mereka menjadi highlander. Gak bakal mati-mati. Dengan begitu mereka bisa terus menikmati hidup tanpa merasakan mati. Tanpa merasakan akhir yang tidak pasti dan memulai sesuatu yang lebih tidak pasti setelahnya (kalau mereka memang mempercayai hal tersebut).
Bukan ketakutan itu yang mau gw bahas. Tapi melambatnya waktu yang mau gw bahas. Mengapa waktu melambat?
Ketika tua seseorang akan mengalami pengurangan tenaga yang dramatis dibandingkan ketika mereka masih muda. Pengurangan tenaga yang dramatis itu membuat mereka menjadi tidak sesehat ketika muda, tidak se'sakti' ketika masih berotak tajam, dan tidak segagah ketika masih berkulit licin dan berotot keras.
Ketika tua seseorang akan mengalami pengurangan kemampuan dalam bidang kehidupannya. Terkadang hal tersebut membuat mereka frustasi. Menjadikan mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa dunia terus berjalan, tetapi mesin dalam dirinya sudah menjadi tua, sudah mulai karatan, mendekati masa akhir penggunaannya, kapabilitasnya telah menurun. Frustasi mengakibatkan orang berusaha untuk menjadikan dirinya seorang highlander. Mencegah diri menjadi tua, bila tidak menghentikan waktu.
Tapi terkadang ada yang dilupakan orang dengan menjadi tua. Pengalaman adalah sesuatu yang dimiliki oleh orang yang menjadi tua dan tidak dengan serta merta didapatkan oleh orang yang masih berusia pendek. Kebijaksanaan yang merupakan manifestasi dari pengalaman juga merupakan hal yang dimiliki oleh si tua dibandingkan dengan pemuda tampan. Mungkin beberapa pernah mengetahui pernyataan yang bunyinya seperti ini:
"Kebijaksanaan setara dengan jumlah keriput pada wajah dan uban pada rambut"
Sedikit banyak bener juga pernyataan itu, tapi sebenar apa? Gak bisa dipukul rata jugalah… Ada beberapa orang tua yang merupakan orang tua yang pemarah. Orang tua yang pemarah dalam ilmu jiwa dinyatakan terbentuk karena adanya penyesalan yang terhadap masa lalunya. Mengapa ada penyesalan terhadap masa lalu? Karena mereka tidak memetik pengalaman dan kebijaksanaan dari hal tersebut.
Kita semua sedang berjalan menuju ketuaan dengan segala permasalahan yang ada pada saat itu. Tapi bagaimana kita dapat menjadi tua yang bahagia? Tidak ada formula yang pas yang bisa gw bilang. Satu hal yang gw lihat dari banyak orang tua di sekitar gw, (whether they are single or married), bahwa mereka akan bahagia ketika mereka menerima ketuaannya, melepaskan kemudaannya, dan menjadi bijaksana.
























