Thursday, October 30, 2008

Tua dan Bahagia


Ketika orang sudah tua, biasanya waktu akan berjalan semakin lambat. Tapi meskipun waktu itu berjalan semakin lambat, jarak waktu menjadi semakin pendek. Untuk beberapa orang, waktu yang memendek itu merupakan suatu berkah, bahwa akhirnya mereka akan menyelesaikan hidup ini juga dengan baik. Mungkin juga berkah karena dia akan meninggalkan dunia yang menyebalkan ini.

Tapi ada juga yang ketakutan dengan waktu yang semakin memendek itu. Mereka-mereka yang cenderung memang takut mati. Yang merasa kalau waktu bisa distop pada saat itu, distop aja, biar mereka menjadi highlander. Gak bakal mati-mati. Dengan begitu mereka bisa terus menikmati hidup tanpa merasakan mati. Tanpa merasakan akhir yang tidak pasti dan memulai sesuatu yang lebih tidak pasti setelahnya (kalau mereka memang mempercayai hal tersebut).

Bukan ketakutan itu yang mau gw bahas. Tapi melambatnya waktu yang mau gw bahas. Mengapa waktu melambat? 

Ketika tua seseorang akan mengalami pengurangan tenaga yang dramatis dibandingkan ketika mereka masih muda. Pengurangan tenaga yang dramatis itu membuat mereka menjadi tidak sesehat ketika muda, tidak se'sakti' ketika masih berotak tajam, dan tidak segagah ketika masih berkulit licin dan berotot keras. 

Ketika tua seseorang akan mengalami pengurangan kemampuan dalam bidang kehidupannya. Terkadang hal tersebut membuat mereka frustasi. Menjadikan mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa dunia terus berjalan, tetapi mesin dalam dirinya sudah menjadi tua, sudah mulai karatan, mendekati masa akhir penggunaannya, kapabilitasnya telah menurun. Frustasi mengakibatkan orang berusaha untuk menjadikan dirinya seorang highlander. Mencegah diri menjadi tua, bila tidak menghentikan waktu.

Tapi terkadang ada yang dilupakan orang dengan menjadi tua. Pengalaman adalah sesuatu yang dimiliki oleh orang yang menjadi tua dan tidak dengan serta merta didapatkan oleh orang yang masih berusia pendek. Kebijaksanaan yang merupakan manifestasi dari pengalaman juga merupakan hal yang dimiliki oleh si tua dibandingkan dengan pemuda tampan. Mungkin beberapa pernah mengetahui pernyataan yang bunyinya seperti ini:

"Kebijaksanaan setara dengan jumlah keriput pada wajah dan uban pada rambut" 

Sedikit banyak bener juga pernyataan itu, tapi sebenar apa? Gak bisa dipukul rata jugalah… Ada beberapa orang tua yang merupakan orang tua yang pemarah. Orang tua yang pemarah dalam ilmu jiwa dinyatakan terbentuk karena adanya penyesalan yang terhadap masa lalunya. Mengapa ada penyesalan terhadap masa lalu? Karena mereka tidak memetik pengalaman dan kebijaksanaan dari hal tersebut. 

Kita semua sedang berjalan menuju ketuaan dengan segala permasalahan yang ada pada saat itu. Tapi bagaimana kita dapat menjadi tua yang bahagia? Tidak ada formula yang pas yang bisa gw bilang. Satu hal yang gw lihat dari banyak orang tua di sekitar gw, (whether they are single or married), bahwa mereka akan bahagia ketika mereka menerima ketuaannya, melepaskan kemudaannya, dan menjadi bijaksana.

Tuesday, October 28, 2008

Tular Menularkan Perasaan


Ketika seseorang terlibat dalam suatu masalah yang menurut dirinya pelik, terkadang dia akan kehilangan penghargaan terhadap dirinya sendiri. Penghargaan tersebut mengakibatkan dirinya merasa tertekan, merasa tidak berarti. Setelah merasa tidak berarti, dia menjadi tidak bersemangat sepanjang hari, mulai tidak berminat dengan hal-hal yang biasanya menyenangkan. Dan akhirnya tidur menjadi bermasalah, malam menjadi siang, siang menjadi malam, yang berakhir pada terganggunya kinerja, yang kemudian akan memperparah masalah yang sudah ada.

Beberapa saat lalu, ada seorang anak masuk ke rumah sakit dengan kondisi tidak makan selama 3 hari setelah beberapa hari sebelumnya terkena masalah yang cukup besar. Bermula dari hanya bersedih, diam tidak banyak bicara, kemudian mulai tidak keluar kamar, kemudian tidak mau makan, sampai akhirnya tidak sadarkan diri. Ketika dibawa ke rumah sakit, gula darahnya sudah sangat rendah, tetapi membaik secara signifikan setelah diberikan gula steril melalui pembuluh darahnya. Tetapi kondisinya tetap diam, tidak menyahut, tidak mau menanggapi, dan tidak terkendali.

Setelah pengobatan dan kondisinya kembali, kami bertanya, "Sebenarnya waktu tidak berbicara kemarin apa yang terjadi?" Dan dia menjawab, "Saya mendengar kok suaranya, tapi gak bisa nimpalin." Sebegitu sedihnya dirinya sampai seluruh kesedihannya menyerap tenaganya.

Tidak lama setelah itu gw sempat duduk di kantor oom, dan dari jauh terlihat tulisan di atas kartu ucapan dari Allianz yang mengutip kata-kata dari Oprah Winfrey, 
"The more you praise and celebrate your life, the more there is in life to celebrate."
Dan kemudian saya mulai berpikir. Benar juga keadaan itu. Seperti halnya pada orang depresi, ketika mereka kehilangan tenaganya untuk hidup karena terserap oleh pikirannya, demikian juga bagi orang yang mereka yang merayakan hidupnya sebagai sesuatu yang berarti. Ketika mereka merayakan hidupnya itu, maka akan semakin banyak hal dalam hidup ini untuk dirayakan bersama orang lain.

Dengan merayakan hal indah bersama orang lain, maka kebahagiaan pun akan ditularkan kepada orang lain. Harapannya orang yang tertular kebahagiaan tersebut, akan menularkannya lagi kepada orang lain. Dan seterusnya, sehingga paling tidak kita menjadi sumber kebahagiaan kecil bagi dunia (scoopnya kok gede banget ya?).

Mungkin seperti begini, kalau gelas kita tidak penuh, bagaimana mungkin kita bisa menumpahkan isinya keluar.

Hayo berbahagia!

Monday, October 27, 2008

Bali is Healing...


Kata temen yang orang Bali, kata Bali berasal dari Balian, yang artinya penyembuh. Balian itu, katanya, adalah dokter jaman dulu yang bertugas untuk menyembuhkan orang-orang dan hanya ada di Pulau Bali. Begitulah ceritanya sampai akhirnya dinamakan dengan Bali dan artinya Bali itu artinya Sembuh... begitu ya?

Jadi Bali itu dapat menyembuhkan...

Sebagian besar orang pergi ke Bali untuk berlibur (kecuali mereka yang memang tinggal dan bermata pencaharian di Bali). Ketika seseorang pergi untuk berlibur, maka ada banyak alasan mereka pergi liburan
  1. Memang lagi waktunya cuti, lagi ada duit, dan daripada bengong di rumah
  2. Lagi cape dengan kerjaan dan perlu pergi untuk menyegarkan diri
  3. Keluarga/persahabatan menjadi agak longgar karena semuanya sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing
  4. Lagi ada masalah dalam lingkungan keluarga/pertemanan/hubungan dan lingkungan tempat tinggal sehari-hari tidak mendukung untuk rekonsiliasi
  5. Lagi ada keputusan penting yang urgent tapi tidak emergency yang harus diambil
Dari semuanya itu, hanya nomer satu yang tidak perlu disembuhkan, meskipun tidak sepenuhnya tidak disembuhkan juga, karena kerja terus tanpa cuti dapat mengakibatkan kinerja dan efektivitas kerja menurun.

Lalu?

Kalau ada sesuatu (pikiran) yang perlu disembuhkan, 

atau

ada sesuatu (masalah hubungan) perlu diselesaikan,

atau

ada sesuatu (pikiran kusut) yang perlu diurai,

Pergilah berlibur... (ke Bali)... tinggallah di suatu tempat yang tenang, berjalan di antara persawahan, susuri air laut yang dingin, berjalan tanpa alas kaki di jalanan karena kaki kotor, tersenyumlah dengan orang asing ketika berpapasan, dan lihatlah orang-orang bekerja tanpa tekanan. Hubungi sahabat-sahabatmu yang tidak sedang berlibur di Bali, dan biarlah waktu berjalan tanpa jadwal, karena jadwal selama liburan adalah tanpa jadwal.

Dan semoga kesembuhan dapat menghampirimu ketika sampai di dunia nyata.

Saturday, October 25, 2008

Tanggungan Cinta

Di Grey's Anatomy waktu lagi perebutan posisi kepala departemen bedah (yang gw bingung, jadi posisi si dr. Richard Webber apa? Mungkin lebih tepat dengan Ketua Program Studi kali ya...) antara dr. Derek Shephard dan dr. Mark Sloan, ada percakapan antara si dr. Derek Shephard dengan resident Miranda Bailey. Percakapannya kurang lebih seperti ini (ditulis berdasarkan ingatan gw ya... tingkat kebenarannya agak diragukan... hehehe) :

DS: "Saya datang ke sini untuk menjadi kepala... dan hubungan saya dengan dia (Meredith Grey) membuat saya tidak bisa naik."
MB: "Memang seringkali akhirnya kita harus memilih antara karir atau kehidupan kita. Tapi pilihlah cinta maka semua akan cukup"
DS: "..."
MB: "Karena semuanya akan menjadi percuma jika engkau seorang diri."

Dalam sekali!!!

Menurut lo bener gak?

Gw sih terus terang aja setuju dengan semua yang diucapkan Miranda di atas. Tapi... ada tapinya...
  1. Yakin dengan cinta yang akan kau beri pengorbanan? Kalau yakin silahkan...
  2. Yakin dengan konsekuensi tidak mendapatkan apa yang diinginkan? Kalau yakin silahkan...
  3. Yakin bahwa pada suatu saat tidak akan menoleh ke belakang dan menyesali pilihan sebelumnya? Kalau yakin silahkan...
  4. Yakin kalau pada saat ada yang salah di depan kesalahan tidak akan dilontarkan ke pasangan yang dipilih? Kalau yakin silahkan...
Syaratnya banyak ya? Bagaimana bisa tahu semua ini? Kalau kata sahabat lekat gw yang sudah menjalani semua rasa dalam cinta yang berhitung dekade, "Dengerin aja kata hati elo. Kalau memang dia orangnya, he will ring your bell." Oh ya? Gw sering kayaknya bunyi belnya, tapi gak dapet-dapet juga (curcol)

Kalau menurut gw, memilih cinta itu seperti halnya dengan janji pernikahan yang diucapkan calon pasangan suami istri di gereja sebelum mereka diresmikan menjadi suami istri yang bunyinya seperti ini:

"Saya... (nama yang mau berjanji), menerima ... (nama yang akan dinikahi) sebagai suami/istri (coret yang tidak perlu) dalam senang dan susah, dalam untung dan malang, dalam kaya dan miskin, dalam sehat dan sakit. Dan saya mengucapkan janji saya ini di hadapan Tuhan yang menebus kita."

Jadi kalau nanti ada susah, dia akan tetap menjadi suami/istri, karena sudah diterima. Kalau ada malang, maka dia akan sama dengan ketika utung, dan kalau dia lagi sakit dan miskin, maka dia akan tetap menjadi sama, menjadi beban tanggungan cinta. Ketika pilihan sudah dijatuhkan, maka berbalik ke belakang dan menyesali apa yang pernah terjadi sudah menjadi pantangan juga.

PS: Bicara gampang... pelaksanaannya susah (gw termasuk orang yang suka berbalik ke belakang dan menyesali sesuatu yang pernah gw putuskan)

Friday, October 24, 2008

Gigih atau Bodoh?


Ndableg. Mungkin itu kata yang tepat untuk menyimpulkan pernyataan yang diucapkan ini.

"Gw heran, ada orang yang begitu mati-matian mempertahankan perasaannya, yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu mau ke mana arahnya."
Bingung ya?

Ceritanya gini, ada seseorang yang sedang jatuh cinta. Jatuh cintanya juga kalau di terminologi penyakit dikenal dengan insidious, terjadi perlahan-lahan, dan ini bukan pada pandangan pertama, tapi setelah pertemuan ke berapa, kok tiba-tiba nyetrum. Selama dalam proses jatuh cinta, berbagai manuver dilakukan. Mengajak pergi makan, ngajak nonton, ngajak jalan-jalan, dan macam-macam. Kadang kala si orang itu sampai putus asa, dan merasa, "Oh, dia memang hanya nice doang!" tapi di lain waktu dia bisa terkejut-kejut dengan perbuatan yang diperoleh dari sang arjuna (cieh...). Dan semangat timbul lagi.

Kalo kata teman yang lainnya, "Yang kayak gitu harus dibiasain, sampe akhirnya dia jadi seperti teman elo, dan akhirnya lo sudah tidak 'terganggu' lagi dengan keberadaannya." Masuk akal. Omongannya masuk akal. Dengan membiasakan diri menghadapinya, maka kejaran itu akan menjadi biasa, dan menjadi teman, mungkin menjadi sahabat. Setelah menjadi sahabat, getar-getar akan menghilang dengan sendirinya. Dan kalau sudah seperti itu, dia bisa jadi lebih tenang menjalankan pekerjaannya, berteman dengan banyak orang, dan mencari orang lain yang mungkin mau membuka hati untuk dirinya.

Tapi kenapa sampai sekarang dia masih tetap menaruh harapan dan masih mau berusaha dengan orang yang tampaknya tidak memberikan angin padanya? Beberapa pertanyaan pernah diajukan padanya dan ada beberapa jawaban yang muncul, antara lain:
  1. "Gw tahu dia orang baik, dan kalau gw sama dia gw bisa menjadi lebih baik"
  2. "Dia punya segala kualitas yang gw butuhkan dan itu sudah cukup buat gw."
  3. "Gw tau kalau gw sama dia, kita bisa berjalan lama dan jauh."
  4. "Gw suka sama dia, karena gw suka sama dia..."
Ketika pernyataan terakhir keluar, gw hanya bisa menghela napas mendengarkannya. Ugh... ternyata sampai seperti itu ya. Sudah tidak pasti dengan apa yang akan didapatkan masih tetap mau mengusahakan. Yang tertinggal hanya dia yakin bahwa dia memiliki perasaan itu, dan itu sudah cukup. 

Cukup untuk menjadi bodoh
Cukup untuk menaruh harapan pada keadaan yang tidak pasti
Cukup untuk memberikan tenaga untuk bertahan
Cukup untuk berbahagia menerima respon kebaikan yang mungkin tidak berarti banyak
Cukup untuk membuatnya berusaha menjadi orang yang lebih baik

Cinta itu memang susah dimengerti!

Thursday, October 23, 2008

Hayo Semangat!



Ada beberapa orang yang gw ketemu kayaknya begitu gampang dapat (atau ganti?) pacar. Baru putus seminggu trus tiba-tiba dah ketemu orang lagi, dan pacaran beberapa hari kemudian. Waktu itu dia berbahagia sekali, berbunga-bunga. Pacaran jalan hampir satu tahun, lalu putus lagi. Nanti kemudian beberapa hari kemudian udah ketemu dengan orang lain (padahal telek kebo-ne wae iseh anget). Trus siklusnya akan berputar kembali, dan begitu seterusnya

Ada beberapa orang yang bisa lebih lama sendiri daripada pacaran. Malah kayaknya intensitas pacaran dan ketemuan, bahkan tidur dengan orang semakin lama semakin melambat. Semakin memanjang dengan jarak pacaran yang lebih lama. Kalo ditanya selalu jawabannya,
"Belum ketemu aja yang cocok."
Tapi apa sih sebenarnya yang ada di dalam. Ini ada beberapa kemungkinan dari pemikiran gw (yang kata eR judgmental)
  1. Orangnya kehilangan kepercayaan diri untuk mampu mendapatkan seorang pasangan. Mungkin karena terlalu sering gagal, atau waktu suka seseorang, ternyata orang yang ditaksir ternyata tidak gayung bersambut (edoisme)... atau seringnya ketemu dengan orang yang gak genah, yang hanya mau tabrak lari, atau yang kepikir hanya buat happy-happy. Dia menjadi takut untuk memilih. Takut untuk memulai hal baru
  2. Orangnya emang sudah terlalu nyaman dengan sendirian. Sudah terbiasa dengan hidup sendiri. Sampai-sampai kalau ada kemungkinan ada orang yang mau berbagi kehidupan dengan dia, semuanya jadi agak menakutkan, dan dia akan mundur teratur. Dia merasa dirinya sudah cukup mapan dengan hidup sendiri, dan tidak mau diganggu equilibriumnya oleh orang "baru".
  3. Orangnya punya penyakit untuk bermain-main. Karena kapasitas mentalnya menetap di usia senang-senang, dan senang-senang adalah tujuan hidupnya. Karena senang-senang merupakan satu-satunya hal yang bisa dia andalkan untuk mengisi sedih-sedih dan kosong-kosong yang ada di dalam dirinya.
  4. Orangnya tidak tahu apa yang dia mau. Seperti halnya yang senang-senang, dia juga banyak melakukan senang-senang saja. Tapi di sini dia lakukan karena dia merasa bahwa suatu hari dia akan terlibat dalam sebuah pernikahan yang membuat dia tidak bisa bersenang-senang lagi. Jadi "puas-puasin aja deh sekarang" 
Terus terang kalau mikir soal sendiri, gw takut kalau gw bakal sendiri sampe gw tua. Gw takut sama yang namanya kesepian seumur hidup. Gw takut sama yang namanya gak punya pasangan hidup.

Pernah ada (sesama cong) yang ngomong ama gw,
"Kalau takut kesepian, ya ikutin aja jalanan normal yang udah ada."
Kata sapa kalau ngikutin jalanan itu bakalan gak kesepian? Semua orang akan merasa kesepian, suatu hari nanti. Terutama ketika mereka tua. Gw pernah bertemu dengan orang tua yang di usia tuanya tinggal sendiri di sebuah rumah kecil yang reyot, dengan suaminya yang stroke. Anak-anaknya adalah orang yang berhasil, mampu membiayai, tapi apa yang terjadi, kunjungan bagus kalau terjadi sekali dalam sebulan. Katanya dia pernah diajak pindah oleh anaknya ke rumah mereka, tapi dia menolak. Alasannya, "Meskipun di sini sepi dan susah, di sinilah hidup itu terjadi, di sinilah rumah itu berada."

Di tempat lain gw pernah juga bertemu dengan orang tua yang meskipun tinggal dengan anak dan menantunya yang menyayanginya dengan amat sangat, tetapi dia tetap merasa kesepian. Selalu takut mati sendiri, dan sedih melihat anggota keluarga yang tidak serumah dengannya datang dan pergi. Kadang kala ketika anggota keluarga berkumpul di rumah besar itu, dia akan tetap merasa kesepian, karena dia tidak mengerti apa yang menjadi bahan pembicaraan, apa yang ditertawakan, dan apa yang ditangisi. Karena dia sudah detach dari dunia ini. Dia sudah tinggal di dunianya yang tidak berkembang lagi. Dia sudah menunggu waktunya.

Dan akhirnya gw berkesimpulan:
Apapun orientasimu, suatu saat manusia akan kesepian juga, terutama di hari tuanya
Tetapi bagaimana kita menghadapi kesepian tersebut?
Dengan menyemai cinta di saat sekarang.

Hal ini gw pelajari dari seorang tante yang menikah selama 59 tahun hingga suaminya meninggal dunia. Ketika suaminya meninggal dunia, ia menjadi layu dan tidak bersemangat. Menjadi kesepian dan sedih. Tetapi dia akan tersenyum ketika mengingat betapa mereka sering saling marah dan bertengkar, saling tersenyum dan gembira, saling khawatir dan cemas, saling menyanyangi dan mencintai. Dan cinta yang sudah pernah ada itu sudah cukup untuk dirinya.

Gw mau seperti itu.

Wednesday, October 22, 2008

Karena Harus Dikerjakan Sebaik-Baiknya


Commitment of working in the clinical medicine means dealing ones life with misery

Mungkin itu yang kurang lebih gw bisa bilang.

Pernah denger gak kata-kata seperti ini
"Karna lo dokter jadi udah biasa ngeliat orang mati"

"Kalau ada orang meninggal dunia, kami dokter hanya perlu sedikit menahan diri dan melanjutkan pekerjaan"

"Perawat tuh kerjanya sehari-hari melihat darah di mana-mana dan harus tetap makan setelahnya. Kalau ngga ntar bisa sakit."

"Saat paling berat buat dokter adalah ketika pertama kali memberitahukan keluarga pasien bahwa kerabatnya sudah meninggal."

"Pasien gw baru aja meninggal... dan gw merasa kehilangan."

"Kemaren gw gagal CPR ke pasien di UGD. Harusnya dia bisa hidup kalau gw gak kecapean, harusnya dia masih bisa hidup kalau aja dia datang lebih cepat."

"Tadi pasien gw baru aja menunjuk-nunjuk ibunya karena depresi, sampai akhirnya ibunya menangis tersedu-sedu karena tuduhan itu. Gw nyaris nangis, tapi kan kita gak boleh ngeluarin emosi kita di depan pasien dan keluarganya."
... dan masih banyak lagi

Sebagian besar dari waktu para pekerja kesehatan yang terjun di dunia fungsional adalah bertemu dengan kesedihan. Kadang kala seharian merupakan deretan kesedihan yang tidak ada habisnya. 

Contohnya, pagi hari pasien datang dengan kecelakaan, koma, perdarahan hebat di dalam perut dan dada. Tiba-tiba ada keluarga memberondong masuk ke UGD sambil nangis-nangis, menarik-narik tangan para pekerja dan memohon untuk diselamatkan nyawa keluarganya. Semuanya sangat menyedihkan, tetapi semua harus tetap dijalankan sebaik mungkin. Lalu kami hanya perlu berpikir bahwa kami hanya perlu melakukan pekerjaan kami dengan sebaik-baiknya.

Di siang hari dilanjutkan dengan seorang anak yang datang dalam kondisi diare, kurang gizi, kesadaran menurun, dengan pneumonia, dan diare, serta keluarga tidak mampu membayar dan tidak dicakup oleh jaring pengaman sosial, tetapi sebagai tenaga kesehatan semuanya harus menolong. Kadang muncul di kepala, "Menolong dengan apa? Tenaga kami bisa gratis, tapi tidak selalu kami bisa membelikan obat." Lalu kami hanya perlu berpikir bahwa kami hanya perlu melakukan pekerjaan kami dengan sebaik-baiknya.

Setelah selesai pasien tersebut, masuk seorang ibu dengan dipasung selama satu minggu karena berbicara kacau, merusak rumah, memukul anggota keluarga, dan bertelanjang-telanjang. Keluarga merasa tidak mampu untuk menangani pasien tersebut dan menganggap mungkin saatnya untuk dititipkan seumur hidup di rumah sakit yang menangani kejiwaan. Kemudian hati bersuara, "Kami mengerti kalau memang keluarga merasakan tidak ada harapan dan mulai terganggu dengan keadaan. Tetapi apakah benar?" Lalu kami hanya perlu berpikir bahwa kami hanya perlu melakukan pekerjaan kami dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya datang polisi membawa seorang wanita yang sambil menangis sesenggukan, wajah lebam, juga ditemukan luka-luka di seluruh badannya, serta kerusakan pada alat kelaminnya meminta visum fisik untuk diajukan ke pengadilan. Gambaran dan kondisinya membuat bulu kuduk berdiri, dan kadang kala di dalam kepala muncul pikiran, "Ternyata ini bukan hanya terjadi di sinetron". Lalu kami hanya perlu berpikir bahwa kami hanya perlu melakukan pekerjaan kami dengan sebaik-baiknya.

Dan seterusnya berlanjut hingga jadwal tugas hari itu selesai. Dan pulanglah para pekerja kesehatan fungsional tersebut, bertemu dengan kehidupan pribadi, melakukan kegiatan sehari-hari berupa makan, tidur, bercengkerama dengan keluarga. Dan pikiran itu sebainya dilupakan, karena bila tidak semuanya akan mengganggu. Maka sebelum pulang ke rumah kami hanya perlu berpikir bahwa kami hanya perlu melakukan pekerjaan kami dengan sebaik-baiknya.

Lalu kesedihan, kemalangan, dan malapetaka perlu diajak berteman jika tidak disuruh berdiri di tepi untuk melihat lebih jauh. Sadar atau tidak, seringkali perasaan setelah bekerja menjadi sama tumpulnya ketika sedang bekerja, karena semuanya harus dijaga, dan profesionalitas harus dipegang. Dunia harus terus berputar, dan perputaran itu tidak pernah dapat dihentikan.

Monday, October 20, 2008

Merencanakan, Berpasrah, dan Mengendalikan Diri


Gw habis nonton film Miss Potter yang pemerannya Renee Zellweger, Ewan McGregor, dan Lloyd Owen. Beatrix Potter yang dimainkan oleh Renee Zellweger itu adalah penulis buku anak yang terkenal banget di zamannya. Dia yang membuat karakter Peter Rabbit.

Di akhir film, ada kata-kata yang nyentil gw banget. Begini kurang lebihnya, "Hal yang paling menyenangkan adalah ketika mulai menulis. Ketika mulai menulis, kita tidak akan tahu ke mana dia akan berakhir."

Ugh... kita hanya akan perlu memulai dan sisanya akan berjalan dengan sendirinya. Benarkah?

Di dunia ini ada tiga tipe orang dalam garis besar (menurut gw). 
  1. Tipe pertama yang merencanakan segala sesuatu, berusaha menjalankan segala sesuatunya sesuai rencana, dan kalau rencananya meleset, dia bakal anxiety lahir batin
  2. Tipe kedua adalah yang juga merencanakan, tapi kalau tidak jalan... ya udah... kenapa pusing? Kadang mereka membiarkan sesuatu tanpa rencana dulu, dan ketika terjadi sesuatu baru mulai merencanakan
  3. Tipe ketiga adalah yang tidak pernah merencanakan. Semua dijalanin aja apa adanya. Tidak ada kegelisahan dalam perencanaan. Prinsipnya let it flow.
Gw pribadi adalah orang tipe pertama. Waktu bangun pagi gw akan memiliki rencana akan melakukan apa dalam satu hari ini. Dan semuanya sudah ada breakdown jadwal kepalanya di kepala gw secara tidak sadar, apa yang harus gw bawa, dan apa yang harus gw lakukan pada hari itu dah lengkap. Jadi akan ada jadwal besar dan jadwal-jadwal kecil di dalamnya. Kurang lebih begitu. Kadang kalau ada yang mulai molor dikit... gw yang mulai rasanya gak terlalu seneng. Mulai kepanasan pantat gw. 

Contohnya gini, gw lagi di rumah sakit nih, dan mau pergi praktek, di antaranya gw dah itung ada 2jam lebih kosong. Gw bisa ngegym nih... dan gw dah ancang-ancang buat ngegym... nah kalo pas di rumah sakit molor, ntar gw kayak bisulan pantatnya... yang mulai gelisah, trus mulai dengan muka origami, dan kaki yang tidak berhenti melangkah... seperti ada aja yang mau dibikin.

Atau biasanya kalau pergi ama temen-temen gw, itinerary-nya bisa lengkap gw bikin dari jam segini kita pergi ke sini, trus ntar lanjut ke sana, trus ke sana, dan ke sana. Kalau dah pada telat datangnya... biasanya gw dah minum airnya jadi banyak banget...

Untungnya belakangan ini gw dah bisa rada meredam diri gw... jadi penyelesaiannya adalah gw sekarang gak nanya mau jam berapa. Menahan diri untuk bikin itinerary, dan kalau dah keluar rumah, pasti bawa laptop dan HSDPA atau buku... jadi kalau gw harus nunggu, gw online, baca buku, atau nelpon-nelpon orang yang gw gak ajak janjian hari itu. Huehehehe...

Intinya pengendalian diri... dan mengendalikan diri itu repot banget... Gw jadi pengen tau... gimana sih orang biasanya mengendalikan diri dan rasanya seperti apa sih waktu mengendalikan diri?

Sunday, October 19, 2008

Ocean View atau Garden View

Sebelum mulai nulis, supaya orang-orang tahu kalo tulisan ini bukan murni ide gw, jadi gw beritahukan di sini, kalau ini adalah hasil percakapan seseorang dengan orang lain (gw adalah orang ketiga tunggal waktu itu), dan gw hanya menuliskan, menempatkan interpretasi gw, dan menjadikannya seperti yang ada dalam pikiran gw. 


Kalo kata Re dan eR, "Memilih pasangan itu seperti memilih kamar di hotel. Mau ocean view atau garden view."

Waktu gw ditanya gitu... gw sempet mikir bentar, trus... jawaban gw adalah Garden View.

Alasan gw?
  1. Harganya pasti lebih murah dari ocean view... (Cina booo... harga itu penting)
  2. Kalau hotelnya sama, dengan kelas kamar yang sama, harusnya kenyamanan kamarnya (tanpa melibatkan jendela) juga sama.
  3. Garden view kalo pas lagi darurat jarang fully book seperti ocean view, jadi ketersediaannya lebih mudah
  4. Sewaktu menikmati kamar tidurnya, gw gak terganggu dengan pemandangan yang lebih indah di luar kamar. Gw bisa menikmati interior kamar itu sebagaimana dia dibuat untuk dinikmati... secara kamar hotel, bo, bukan kost-kost-an...
Di bawah ini juga penilaian gw tentang orang-orang yang memilih ocean view dan garden view (buntut-buntutnya ada unsur narsisistik di dalam penilaian gw. Kalau kata eR gw judgmental... sorry ya, eR)

Mereka dengan ocean view:
  1. Para pencinta kamar dengan ocean view adalah orang-orang yang tidak menutup mata akan keindahan di dunia luar meskipun dia sudah punya pasangan. Tidak menutup mata bukan berarti selingkuh lho... bisa aja dia bilang ini cakep, itu lucu, kono bagus, kene guanteng... jadi mereka menikmati indahnya dunia luar
  2. Mereka ini adalah orang yang sangat peduli dengan penampilan, ya secara kalo pemandangannya jelek mereka gak mau
  3. Mereka rela mengeluarkan duit lebih untuk maintenance yang lebih pula
  4. Mereka adalah orang yang cenderung picky dan rela menunggu lama-lama kalau memang waktunya tidak pas...
  5. Orang-orang dengan pilihan ini biasanya bersikap lebih mapan, lebih matang, dan sebagai orang yang dibutuhkan...
Nah kalau mereka dengan garden view menurut gw kebalikannya
  1. Mereka cenderung langsung tutup mata, tutup telinga, dan semua lubang-lubang serta panca indera ditutup... takut tergoda kali... ato emang bodoh aja...
  2. Mereka cenderung milih karna suka aja. Penampilan... pengaruhnya cukup kecil
  3. Agak-agak merki... pelit... kopet... atau bahasa apa lagi yang bisa dikeluarkan buat mereka. Lagian kan yang low-maintenance itu baik untuk survive... halah alasan, pelit mah pelit aja
  4. Mereka cenderung senang untuk available di kala susah melanda (duh bahasanya)
  5. Cenderung mau memilih dan mencari yang mapan, matang, dan menjadi orang yang dibutuhkan, tapi kalo kepepet mah ya... kurang mapan juga gak papa, agak-agak medium rare juga gak papa, dan mereka akan cenderung menjadi orang yang membutuhkan pasangannya... jadi kalo ditinggalin kadang-kadang sakit-sesakit-sakitnya sempritan.
  6. Orang garden view akan sangat content dengan keadaan pasangannya. Kadang jelek banget pun akan mereka nikmati, karna mereka menutup mata dari pemandangan indah di luar sana
Mungkin ini sedikit interpretasi dari gw. Ini pendapat gw aja lho... jadi kalo ada yang menurutnya gak pas... nyuwun pangapunten...

Nah... lo sendiri apa?

Saturday, October 18, 2008

Ganggu... Ganggu... Genggez


Sore ini gw ke gym nih seperti biasa... setelah doa gw dikabulkan... (gak jadi pergi nonton ama temen-temen dari tempat kerja. Bukan masalah film yang mau ditonton [Mamma Mia], tapi masalah pergi ama siapanya... ibu-ibu tukang lapor dan suka menasihati dengan nilai-nilai agama yang dianutnya sampe gw cape sendiri). Intinya gw ngegym, menikmati waktu di gym yang lebih longgar, jadi gw bisa latihan lebih banyak item, dan lebih serius. Latihannya menyenangkan

Nah... habis latihan itu... karena gw gak kejar waktu, dan latihan gw rada berat... sampe dada gw rasanya ketarik-tarik, jadi gw masuklah ke ruang steam yang sudah cukup lama tidak pernah gw kunjungi. Menurut hemat gw, lagi sepi nih, karna baru pada mulai olahraga, jadi gw gak bakal terganggu dengan godaan-godaan mata-mata nakal.

Pas gw masuk ada satu orang dengan kepala ditutupi handuk kecil... BADANNYA BAGUS BOOO! Kulitnya tan, dan bahkan tanpa tanline. Coklat tanpa tanline itu sangat menggoda buat gw! Tarik napas dalam, tarik napas dalam. Dan dia menurunkan handuk kecilnya, dan dia ngeliatin gw... (GeeR gw!). Gak lama dia berdiri, membelakangi gw, dan menghadap gw, dan membelakangi gw lagi. Sekali-sekali matanya ketemu ama gw. Dan akhirnya dia keluar. Dan karena gw juga dah kepanasan, akhirnya gw keluar juga. Mandi, dan secepatnya ganti baju. Akhirnya gw berpakaian juga. Dia keluar... berdiri di depan cermin dekat gw ganti baju, dan gw bisa melihat matanya dari pantulan cermin di belakangnya. Dan he is tempting. Ugh... badan bagus, tan, tanpa tanline, dan menggoda... Akhirnya gw keluar juga dari ruang ganti.

Setelah keluar dari ruang ganti, gw jalan keluar menyusuri lorong panjang dan melalui alat-alat gym yang bergelimpangan laki-laki yang lucu bangeD, lucu ajah, dan kurang lucu... trus, tiba-tiba mata gw kaget ngeliat ada orang yang dah lama gw gak ketemu. The man in his thirties... badannya biasa aja... gak jadi banget... cukup tone... tapi senyumnya itu lho... MAWUT. Dengan ekor ikan di ujung matanya kalau lagi senyum. Gw sempet punya fling dengan dia beberapa waktu yang lalu. Sebelum sama bika Ambon Zulaikha, dan setelah dengan kehilangan tanpa alasan. Katanya dia baru balik dari perjalanan rohani panjang ke negeri antah berantah dan katanya dia jadi lebih tenang. Tapi jujur... tampangnya jauh lebih bersih dari biasanya... dan gw kaget ngeliat dia. Sampe sempet keluar kata-kata dari mulut gw, "Lo keliatan bersihan mukanya." (What a BITCH!), tapi akhirnya semua pembicaraan gw selesaikan secepatnya... dan gw pulang.

Fiuuuhhhh....

Ternyata mau jadi anak baik-baik yang gak tengok kanan dan kiri itu susah ya? Apalagi mantan pelacur kayak gw... yang in one period of my life, dengan mudahnya gw bisa nangkep ikan, menunya mau goreng, bakar, atau saus tiram tinggal pilih. Makan di tempat atau bungkus bawa pulang juga bisa. Ugh... but I think I have to leave that period behind... sudah tidak saatnya seperti itu.

Kenapa gw tinggalin periode itu? Gw pernah ngeliat temen gw, yang umurnya udah 30an, trus setiap minggu menjaring ikan yang berbeda. Ya... kadang-kadang ikannya bisa bertahan dua atau tiga minggu, tapi bisa kadang megang dua ikan. Trus kalau udah sendiri, ntar ngomongnya,
"Kok gw gak punya pacar ya?"
Ya... bagaimana mau punya pacar kalau pas dapet satu ikan yang rada bagus, bisa bosen dan ganti dengan ikan yang lebih jelek dikit dua minggu kemudian. Trus karena berasa ikannya jelek, jadi nyari lagi deh ikan yang lebih bagus... dan begitulah siklusnya selalu berputar. Ugh... (mudah-mudahan gak deh gw kayak gini... gw takut)

Gw hanya berharap gw suatu hari dapet orang yang beneran... yang seperti di tulisan gw sebelum-sebelumnya... bisa nemenin gw sampe tua... dan ketika gw akan menutup mata gw, gw bisa melihat ke belakang dan mengatakan... okay... gw dah punya cinta yang sebenarnya... dan hidup gw sudah cukup... Terima kasih... gw bisa "pergi"

Makanya... harus bisa dipertahankan tuh prinsip... Iya gak? Kesetiaan harus DILATIH
Kalau bukan kita yang setia sama diri sendiri, bagaimana orang lain bisa setia?

Thursday, October 16, 2008

New Fortune Cookies


It's just blank... 
It's just silent... 
It's simple too... I hope
It's time to rewrite the fortune cookies...

Friendship: Understanding Needed!


Gw punya dua orang yang sangat dekat sama gw (di luar my first ex yang juga cukup banyak ngerti gw, mau mereka nganggap iya ato gak... itu dari perspektif gw), yang somehow kalo pas kita ketemu bisa ngomong apa aja ke ujung-ujung dunia, dengan bahasa-bahasa yang kalau orang lain denger belum tentu ngerti.

Contohnya kurang lebih gini:
A: "lo merindukan peaceful world sampe kelimpungan."
B: "pieceful world kali... piece... huahahahaha... edoisme"
C: "Emangnya piece bisa dipake piss?"

Kurang lebih seperti itu... dan itu sedang membahas salah satu dari kami yang lagi menjadi bodoh karena cinta.... (Ngerti ga percakapannya?) Itu kalau pas lagi pada konek dengan aura yang lagi berdekatan, bisa kayak gitu... ngomongnya gak jelas, bahasanya kacau, isi pikirnya juga tidak runtut. Tapi kami mengerti satu sama lain... Enak yah punya teman seperti itu...

Sebenernya kami bertiga baru rada deket juga belum lama. Setaonan kali ya? Dengan salah satunya udah lumayan lama, tapi yang satunya lagi setaonan itu. Kalau kata mantan gw, "umur mentalnya ketemu", padahal rentang umur kami dari yang paling atas sampe paling bawah itu 11 tahun. Kata temen gw... mungkin dia yang terlalu kayak anak-anak... tapi kalo menurut gw dia biasa-biasa aja... gw yang ketuaan mungkin. Masalahnya gw di rumah sakit aja pernah dibilang dah 3oan jauh...

Back to us... Status waktu kami mulai dekat adalah satu jadi, dua mentah... maksudnya satu punya pacar, yang duanya single... Ya pastilah gw berada di antara dua... hehehehe... secara mereka emang yang dikejar-kejar (jadi harap maklum...). Sampai pada suatu saat, yang satunya statusnya berubah jadi setengah matang. Wah kedua sahabat mental gw dah punya pasangan, meskipun masih setengah matang, paling gak dia punya...

Jadinya kadang karena seperti itu (ngerti lah...) gw kadang mau nelpon mereka kalo pulang kerja malam-malam dan tidak jadi, karna keingetan yang satunya dah ada janji ama partnernya. Trus pas gw telpon yang satunya lagi, lagi keluar ama telor setengah matangnya. Dan kalo gitu gw balik aja dah ke kost. Nonton Star World, selesain blog, baca novel, dan kemudian tidur sambil berharap-harap cemas dapet pacar juga.

Cemburu? Rada kali ya... cemburu karna mereka punya 'hubungan' hehehehe... dan gw tidak laku (inferioristic features). Bukan cemburu ama pacarnya... Tapi sebagai teman seperti kata temen gw juga, "Harus tahu posisi di mana lo berdiri ketika berhadapan dengan temenmu." Itu baru jadi teman sejati. Jadi lebih baik gw mengerti sajalah... lagian kan mereka akan tetap jadi temanmu

Iya... iya... cuman mupeng kok... dan sedikit kesepian... tapi seneng kok, teman... gw seneng kalian lagi pada seneng...

Love you, Guys!..

Wednesday, October 15, 2008

Surplus Setelah Lebaran


Waktu Lebaran... Jakarta sepiiii banget... jalanan lengang... temen-temen pada pulang kampung... dan gw bekerja mengisi kekosongan (secara gak lebaran), jadi kenapa tidak cari duit? Selain itu paling gw ngumpul ama teman-teman gw yang tersisa di Jakarta. Di hari-hari H Lebaran agak susah cari makan. Waktu itu banyakan makannya McD, Burger King, something in Senayan City, atau makan di rumah temen yang kebetulan lebaran (alasannya sih silaturahmi... tapi sekali tepuk benefit lain juga terpenuhi... kenyang)

Seminggu setelah lebaran, Jakarta dah mulai rame pelan-pelan, teman-teman pada berdatangan... dan kami mulai kumpul-kumpul lagi. Hai apa kabar... dan mulai lah... oleh-oleh berdatangan (semuanya makanan) dan gw mulai kelebihan makanan banget...
  1. Oleh-oleh pertama yang gw dapet adalah coklat bulet-bulet isi kacang dari Malaysia, yang dibawain sama ipar temen deket gw... gila enak banget coklatnya... dan karena tahan lama, jadi gw cicil makannya, gw masukin tupperware kecil-kecil, dan gw bawa ke rumah sakit dikit-dikit. Gw jatah sehari makannya hanya boleh satu tupperware paling kecil
  2. Yang orang kedua ini lumayan banyak ngasih gwnya... ada bika ambon Zulaikha rasa keju, plus enting-enting Pematang Siantar (namanya apa Top... gw lupa), trus dengan manisan jambu... Gw waktu dikasih sebanyak itu panik... yang pertama gw panik karna... gila bika ambon kan lemaknya minta ampun... bisa gendut gw... yang kedua... gw ngabisin ini semua... lebih gendut lagi gw... yang ketiga... kalo gak diabisin ntar mubazir... yaolo... paniknya banyak bener
  3. Trus gak lama kemudian bidan gw juga dateng dari Jawa Tengah, dan gw dapet pula oleh-oleh dari Jawa Tengah.... yang isinya jenang, sale pisang, keripik singkong, dan kue lebaran. Dan gw panik lagi... mak... yang kemaren baru aja gw bagi-bagiin sekarang dapet lemak lagi... apa kabarnya lemak perut gw? Dan akhirnya gw bawa ke rumah sakit lagi dan dibagi-bagiin lagi ama temen-temen gw.
  4. Sehari kemudian gw dapet lagi nopia dari temen gw yang baru balik dari Purbalingga. Awalnya gw bawa ke rumah sakit lagi, dan orang-orang seneng banget makannya... tapi karena lagi pada sibuk, dan gw rada stres dengan kerjaan, akhirnya gw di depan laptop ngabisin nopia itu tanpa terasa... waktu abis langsung dalam pikiran gw (kardio harus gila-gilaan nih... tapi tetep minggu kemaren olahraga gw ga efektif)
  5. Malamnya tiba-tiba gw ditelpon, gw ada panada... lo mau ga? (Hah... Panada... itu kan enak banget... isinya ikan ya? Langsung dari kampung halaman gw? MAAAUUUU...) dan langsung gw ngebatalin gym demi panada yang tercinta itu... gorengan man! another lemak
  6. Beberapa hari kemudian masih ada menyusul lagi Meranti rasa Keju... GILAAAA... benernya gw gak rela bagi-bagi yang satu ini... tapi karna gw juga sayang ama badan gw... jadilah gw bawa lagi ke rumah sakit... dan begitu gw keluarin dari kantong plastik... langsung disambet habis... sampe ada yang nengok-nengok ke dalam kotak kosongnya... nanya "Masih ada ga?", dengan muka memelas
  7. Gak lama kemudian... ada yang datang dari Padang dan membawakan satu kotak bolu gulung 3 rasa... langsung gw bingung.... (guilty pleasure bangeD)
Overall gw seneng banget dapet makanan-makanan itu semua... karna
(1) perhatian orang-orang dah begitu besar ama gw... makasih ya... (2) gw jadi kesannya baik banget karna bagi-bagi makanan di rumah sakit mulu (orang yang ngasih juga padahal... hihihihi) (3) gw orangnya sangat mencintai makanan, meskipun sekarang gw mulai membatasi diri... (dengan bertambahnya usia, metabolisme akan semakin menurun, meningkatkan penumpukan lemak, sehingga kita akan lebih mudah gemuk, dan lebih gampang sakit.... alasan klasiknya jaga penampilan (hehehehe))

Tapi bener lho... I feel really greatful about that... THANKS YA!!!

Tuesday, October 14, 2008

Keluh Kesah Kagak Karuan Kena Kecam


Complaining complaining complaining... Kadang kalau lagi ada masalah complain atau boleh gw ucapkan mengeluh jadi sangat menyenangkan... Tapi kalau keseringan ngeluh... biasanya orang akan menstigma elo... di mana ketika elo gak mau ngeluh pun orang akan nganggap lo mengeluh.

Sebuah contoh:
N adalah seorang yang intensitas grumpying, rambling, complaining, dkk yang berbau kayak gitu lumayan tinggi. Sedangkan W adalah seseorang dengan karakter yang cenderung pendiam, berdiri di tepi, mendengarkan orang, dan menjadi orang kepercayaan. Suatu hari ada percakapan dalam perjalanan di atas taksi:
N: Gw kayaknya mau selesai aja deh....
W: Gw kasih tau ya... lo meningan jangan complain mulu deh...
N: Menurut lo gw lagi complaining?
W: Maksud gw gini lho... lo kalo lagi ada masalah di satu sisi hidup elo... jangan complain mulu... dan jangan sampe itu mempengaruhi sisi hidup lo yang lain... sisi relationship elo, sisi kehidupan sehari-hari...
N: (dalam hati... relationship gw juga lagi gak punya) ... jadi menurut lo gw lagi complain?
W: ngga... gw hanya bilang lo jangan complain mulu... karena dengan begitu lo jadi membuat masalah baru dalam hidup lo... baca gak tulisan gw yang tentang ikhlas? Hidup itu harus ikhlas... harus bla bla bla bla
N: (gw berhenti aja ngomong... kebetulan udah nyampe) Gw udah nyampe nih... talk to you later...

Thanks for telling me that I love complaining... itu jadi bahan cerminan buat gw. Tapi satu hal yang membuat gw kecewa bahwa ternyata gw sudah terstigma sebagai si tukang ngeluh. I wasn't going to complain at the time! Just telling what I'd have been doing.... ah sudahlah... gw memang harus berhenti ngeluh aja... mungkin gw hanya perlu membicarakan yang ringan-ringan.

Gw complain ama Yang Punya Hidup ajah! Iya gak?

Monday, October 13, 2008

Cong dan Operator Telepon Genggam... Mutual Partnership


Gays really love mobile phone (at least most of us, if not all). Sebagaimana dengan businessman, buat kita mobile phone, let me say it as telpon genggam aja kali ya..., bisa menjadi sarana untuk:
  1. Komunikasi... mencari tahu teman ada di mana, janjian ketemu di mana, gak ketemu tempat ngumpul baru untuk dicoba, dan kita bisa telpon-telponan. Paling gak SMS-SMSan... "Bow, gw kesasar neeh!" atau "Eh, Cong... tempat yang lo pilih susah banget sih ketemunya, napa ga di Thamrin aja sih?" atau "Eh, Kemang sebelah mana neh? Bukan di tempat sepi kan? Banyak pangeran yang turun dari gunung, kan?" dan banyak lagi....
  2. Ngingetin jadwal... "hari ini ada ketemuan dengan Kanu di Lanu jam 21.00" atau "jam 19.00 pacaran dengan Manu, jam 21.00 kencan dengan Nanu, jam 23.00 ketemu anak-anak di Kemang, trus jam 01.00 nginep di rumah Oanu."
  3. Flirting... setelah melemparkan nomer handphone ke "organ" target, dan ternyata tertangkap, mulailah keluar SMS cantik seperti, "You look really good." atau "You are so charming." atau "Selamat tidur, good night, sleep tight! Don't let the pillow bugs bite you!"
  4. Sayang-sayangan waktu baru jadian... "Sayang, udah makan siang belum?" atau "Mau ketemu jam berapa ntar? Aq selesai ngantor biasanya jam 5.30, tapi mudah-mudahan bisa tenggo jam 5" atau "Sabar ya, say... lagi bikin report nih."
  5. Sayang-sayangan setelah 3 bulan... "Hati-hati ya selama business tripnya. Drop me a message when you arrive." atau "Iya... tadi kerjaan di sini agak ribet... masakan area managernya gak bisa nyusun jadwal buat kerja anak-anaknya sih? Payah." atau "Gimana tadi di kantor?"
  6. Sayang-sayangan setelah 1 tahun... "Oh iya... ntar aku singgah beli di Food Hall dulu. Mau nitip apa lagi ga?" atau "Eh, kayaknya listrik belum dibayar. Bisa tolong cek?" atau "Happy Anniversary... it's lovely to have you with me. Always." atau "(hanya gambar smiley senyum... karena hatinya sedang tiba-tiba rasa rindu, tapi dah basi pake bahasa-bahasa manja)" atau "Ban pinggang Zara yang kemaren bagus ya? (tetep bicara fashion... cong, boo!)"
  7. Ribut dengan pacar yang baru jadian... "Tadi jalan sama siapa?" atau "Temen gw ngeliat lo gandengan sama si Ianu" atau "Di gym tadi si Janu kok kamu biarin megang-megang kamu sih?" atau "Lo tu yah... ti*@t gak bisa dijaga... ngeliat yang lucu dikit aja langsung melancong tuh barang!" atau "Kita putus aja... dah males gw sama elo"
  8. Ribut dengan pacar yang sudah lama jadian... "Lagi di mana?.... (gak dibales)" atau "Ya sudah, kamu pikirin aja dulu semuanya... nanti kalo dah siap, kita bicarain." atau "Kamu harusnya tahu, kalau ada orang lain di luar sana yang mikirin susahmu." atau "Kalau emang kamu gak menghubungi sampe hari Jumat, mungkin gw harus anggap kamu sudah pergi jauh dan gak kembali lagi."
  9. Gosip... "Eh, tau gak si Anu semalam tidur sama itu. Kebayang gak sih? Itu kan bekas pakenya si Banu, Canu, Dnu, Enu... Tapi denger-denger itunya gedong booo! Kok gw jadi pengen juga ya?" atau "Eh, iya... tadi pagi gw ketemu si Fanu di jalan Ganu, dan ternyata tambah lucu aja dia... dan hebatnya... dia sekarang dah jadi pasangan yang setia lho... masih sama si Inu sampe hari ini juga."
Dan karena itu... buat Cong (mostly), telpon genggam itu gak boleh ketinggalan. Dan kalo dah ketinggalan, seperti kehilangan tangan kanan (itu menurut gw... hehehehe) atau kehilangan hiburan harian... atau berasa telinganya ilang...

Tapi ada satu tempat di mana (mostly) cong boleh ketinggalan telepon genggam selama berjam-jam... di GYM. Alasannya?.... alasan ini gw yang buat... karena di gym dah banyak cong lucu-lucu yang juga berkeliaran... alasan lainnya adalah karna di gym cong pada ga mau keganggu dalam konsentrasi membentuk badan... kalo gak kapan jadinya tuh badan?......

What a colourful life....

Sunday, October 12, 2008

Thought of Partnership


Kalo lagi jatuh cinta apa yang ada di pikiran elo?

Kalo gw...
  1. I'm very lucky to have this love
  2. Gw pengen sesering mungkin ketemu dan tahu kabar dia
  3. Mengutip kata-kata dari When Harry Met Sally - Tell me I'll never have to be out there again
  4. Gw pengen ngeliat dia senyum
  5. Gw pengen dengerin dia cerita tentang harinya dan masalahnya
  6. Gw pengen beliin sesuatu untuk dia makan
  7. Gw pengen melakukan sesuatu yang membuat partner gw bahagia
  8. Gw pengen memenuhi kebutuhan-kebutuhan dia
  9. Gw pengen membuat dia puas dengan hubungan kami
  10. Gw pengen meluk dia kalo lagi sedih
  11. Gw pengen membuat kebiasaan-kebiasaan bersama
  12. Gw takut kehilangan dia
  13. Gw takut dia menjadi bosan
  14. Gw takut dia tidak bahagia
  15. apa lagi ya? Kayaknya biasanya banyak
Kalo disusun terus gak abis-abisnya...

Kadang kala kalau dah malam, gw bisa berdoa, "Tuhan, saya minta supaya dia bahagia dengan saya." (doanya egois)...

Pengennya dia bahagia... dan karena dia bahagia... saya pasti juga bakal bahagia dengan dia... hanya itu...

Dari semua pengen, pengen, pengen, dan takut di atas, kadang kita harus belajar menahan diri... karna sesuatu yang ada di dalam kepala kalau diwujudkan pada waktu yang tidak tepat, bisa mengakibatkan gangguan. Trus ntar pasangan lo sebel dan merasa terganggu... kalo dah terganggu, pasti jadi masalah... trus jadi malesin banget... syukur-syukur bisa dipertahankan dan bisa jadi hubungan yang langgeng dan seperti semula... kalo ntar akhirnya dia nyari orang lain... ya... jadinya selamat tinggal hubungan... dan akhirnya akan terjadi kerinduan dengan kebiasaan-kebiasaan bersama...

Tapi kapan gw bisa dapetin pasangannya? Hehehehe (curcol neeh)

It's been quite sometimes since my last relationship... and am starting to miss a real relationship

Saturday, October 11, 2008

It's Killing Time


It's killing me... 

Hopes with reality defect... killing me
Don't know what to do... killing me
Empty hopes that destroy my defences... killing me
Overtly nice... killing me
Loneliness... killing me
Stuck... killing me

Then what should I do to save me?

Human Vanity Fair


Melanjutkan tulisan dari Forrest Gump sebelumnya, gw mau mengingat apa yang membuat gw bertahan di masa-masa sulit gw.

Pada beberapa waktu gw akan bertahan karena:
(Mencoba jujur pada diri sendiri)
  1. Gw malu kalau gw harus mundur dari pilihan gw (gw kan mempertaruhkan nama baik gw! Duh, faktor budaya dari tanah berbentuk K yang mengagung-agungkan harga diri)
  2. Gw dituntut oleh keadaan keluarga gw yang nyaris sempurna, sehingga kalau gw berhenti, gw akan mempermalukan banyak orang dalam barisan kesempurnaan yang telah dirintis oleh resimen yang telah ditata (harga diri yang menurut gw terlalu memakan banyak tempat yang tidak penting)
  3. Gw sendiri tidak tahu harus melakukan apa terhadap hidup gw yang sedang berjalan
  4. Gw juga terlalu takut untuk menghadapi kenyataan bahwa pada saat memilih, salah pilih itu mungkin terjadi.
Kalau kata Pater Nico Dumais, SJ pada homily hari Minggu tanggal 5 Oktober 2008 kemaren di Gereja St. Theresia dalam misa jam 11, semua itu karena pride. Ya semua karena harga diri.

Harga diri mengakibatkan:
  1. Orang merasa iri dengan milik orang lain, yang berakibat tidak puas terhadap diri sendiri
  2. Orang menjadi bingung akan keinginan sejati dirinya, yang akhirnya berakibat pada ketakutan untuk melakukan pilihan yang salah
  3. Orang menjadi kehilangan jati diri karena pertandingan harga diri di atas kejujuran pada diri sendiri (mungkin sulit untuk jujur pada orang lain, tapi mungkin kita perlu belajar untuk jujur pada diri sendiri terlebih dahulu)
  4. Orang menjadi merasa bertanggung jawab untuk menjaga nama baik orang-orang yang berada di sekitarnya untuk mencegah pergeseran equilibrium dari dunia nyata yang sudah ada.
  5. Orang menyimpan kesombongan untuk mempertahankan harga diri tersebut
  6. Orang menjadi tidak percaya kepada orang lain karena kesombongan yang sudah berubah bentuk menjadi iri hati dan kecurigaan.
Lalu gw jadinya keingetan dengan kata-kata Al Pacino sebagai Milton/Devil dalam The Devil's Advocate, di bagian penutup film, waktu Keanu Reeves (Kevin Lomax) menerima tawaran untuk diwawancara karena dia mengundurkan diri dalam membela terdakwa pelecehan seksual pada anak, yaitu:

Vanity... definitely is my favorite sin

Ya... kesombongan (vanity) mendorong harga diri untuk menciptakan dosa-dosa lainnya

Mungkin akhirnya lebih baik menjadi orang yang naive seperti si Forrest Gump daripada menjadi tidak percaya (distrust), seperti kata Pater Nico Dumais, SJ, terhadap sesama kita.

Menurut lo?

Thursday, October 09, 2008

Forrest Gump - Simplicity On The Road


Pernah ingat gak sih pada dengan film Forrest Gump? Gw inget banget film itu. Waktu orang-orang pada nonton dan bilang bagus. Gw gak nonton. Waktu dia dapat Academy Award, gw juga gak nonton. Waktu dibilang film ini mendidik banget, gw tetap gak nonton. Gw nonton waktu gw lagi sendiri, lagi out of nowhere, tiba-tiba keluar dari kebiasaan gw, menonton film. Waktu itu gw masih kuliah, lagi ngulang ujian yang kesekian kalinya untuk sebuah bagian yang akhirnya gw terdampar di sini. Gw nonton di tengah sebuah stressful time.

Ada satu potong adegan yang gw inget banget dari film ini. Waktu dia lari keliling America, sampe akhirnya dia terkenal, diliput, masuk televisi, dan akhirnya menarik perhatian Jenny kembali. Ingat? Ada kata-katanya yang selalu gw ngingetin gw:

That day, for no particular reason, I decided to go for a little run. So I ran to the end of the road. And when I got there, I thought maybe I'd run to the end of town. And when I got there, I thought maybe I'd just run across Greenbow County. And I figured, since I run this far, maybe I'd just run across the great state of Alabama. And that's what I did. I ran clear across Alabama. For no particular reason I just kept on going. I ran clear to the ocean. And when I got there, I figured, since I'd gone this far, I might as well turn around, just keep on going. When I got to another ocean, I figured, since I'd gone this far, I might as well just turn back, keep right n going. When I got tired, I slept. When I got hungry, I ate. When I had to go... you know... I went.

Pernyataannya sederhana sekali. Dia meletakkan goalnya pendek-pendek. Forrest (sebagai orang yang sedikit kurang dibandingkan orang normal) hanya menggantungkan cita-citanya sebatas apa yang dapat dilihatnya. Tetapi itu membuat dia memasang cita-cita baru yang lebih besar dan menggapainya tanpa beban pula, karena ternyata cita-citanya itu masih sebatas jangkauannya.

Ketika dia sudah mencapai sebuah cita-cita yang sangat besar, yang teringat padanya bukanlah bagaimana lelahnya dia mencapai cita-citanya itu, tetapi karena sudah dapat dicapai, maka dia akan melanjutkan ke cita-cita berikutnya.... dan berikutnya.... dan berikutnya....

Hal ini sedikit banyak pernah kejadian waktu gw kuliah. Di tahun pertama gw kuliah, gw desperate banget ninggalin kuliah gw. Gw inget banget IP gw di semester 2 hanya 1,99. Hal itu bener-bener bikin gw gila... karena gw melihat bahwa keluarga gw adalah orang-orang yang sangat berhasil dalam bidang pendidikan. Kemudian gw merasa tidak cocok, tapi karena merasa sudah satu tahun berada di kuliah, maka saya memberikan waktu untuk semester berikutnya, yang membaik, kemudian memburuk lagi, dan membaik lagi, dan memburuk lagi... dan membaik lagi.

Di 2 tahun terakhir, gw juga pernah terbayangkan untuk meninggalkan sekolah lagi. Ketika itu gw ngeliat teman-teman gw dari bagian lain sudah mulai kerja dan mendapatkan posisi pekerjaan, sedangkan gw masih harus melanjutkan ke program profesi. Tetapi karena sisa dua tahun, maka gw mikir biar gw menyelesaikan yang sudah ada, dan akhirnya gw mendapatkan gelar gw.

Dan setelah selesai, gw mulai bekerja dan menikmati yang namanya dunia pekerjaan. Tetapi karena banyak desakan dari berbagai pihak, bahwa gw gak akan tetap tinggal sebagai orang dalam pekerjaan dan pendidikan yang sebatas itu, maka gw melanjutkan ke program pendidikan berikutnya. Selalu dengan kata-kata, "Nanggung kalau sampai di sana saja." Dan sekarang sekali lagi gw merasa terjebak dalam lingkungan sekolah itu.

Perlu gak sih gw melanjutkan semuanya itu, seperti Forrest Gump melanjutkan larinya? Dunia memang aneh, kadang kala kita hanya bisa tetap berjalan di jalan setapak yang ada, yang kadang menjadi sangat tidak jelas, karena tertutup daun-daunan dan kabut tebal. Tapi tidak mungkin tinggal diam. Yang ada hanyalah maju terus, atau kembali ke sebuah persimpangan yang ada di belakang dan berjalan ke arah yang baru...

Keputusan harus diambil cepat... harus cepat...

Tuesday, October 07, 2008

Awalnya Biasa-Biasa Aja...


Ada yang ngomong kalo blog gw katanya sedih banget. Bahkan ketika gw bercerita sesuatu yang indah katanya sedih banget... okay... coba gw tulis sesuatu yang menyenangkan ya... yang kira-kira bikin gw excited...

Banyak hal sebenarnya yang bikin gw excited. Terutama khayalan gw. Mungkin gw perlu nulis tentang khayalan gw aja. Jadi di bawah ini adalah khayalan gw.

Gw pernah bermimpi untuk tinggal di New York dalam suasana apartemen seperti apartemen punya Monica di film Friends... dengan seorang kekasih tentunya (memikirkan tinggal dengan kekasih aja membuat gw berdebar-debar)... dan tau hidup seperti apa yang gw pengen? Seperti Monica dan Chandler...

Dalam film itu, mereka adalah pasangan yang paling aneh. (Menurut gw) Dibandingkan dengan Ross dan Rachel, mereka lebih aneh. Awalnya mana ada perasaan suka di antara mereka. Mana yang satunya rada bossy, trus lakinya rada-rada clumsy... yang clumsynya parah lagi. Secara ceweknya orangnya super perfeksionis. Tapi apa yang terjadi mereka jatuh cinta...

Menurut gw adegan pertama mereka jatuh cinta itu kejadian waktu mereka liburan ke pantai bareng. Waktu itu di pantai Joey lagi menggali lubang. Trus Monica dan Chandler lagi baring-baring di atas pasir. Si Chandler nanya gini, "Kalau di dunia tinggal ada saya seorang laki-laki, kamu mau tidak berpasangan dengan saya?"

Monica kemudian jawab kalau, "keliatannya hal itu tidak mungkin terjadi." Gak lama kemudian mereka dipanggil Joey buat lihat lubangnya, dan tiba-tiba ada air laut dan Monica kena ubur-ubur. Joey, yang jarang-jarang menonton acara pendidikan, bisa ngomong kalau dia pernah denger soal kena ubur-ubur dan dikencingi. Dan ceritanya stop sampai sana.

Waktu di apartemen, mereka bertiga diam-diaman, sampai akhirnya didesak sama teman-teman yang lain, dan mereka bercerita tentang ubur-ubur dan kencing itu. Yang membingungkan karena kenapa si Chandler ikutan murung gitu. Ternyata Joey yang pertama harusnya ngencingin Monica, gak bisa melakukan itu, dan akhirnya terpaksa Chandler yang melakukan hal itu.

Akhirnya semua teman sudah tidak di apartemen dan hanya tinggal mereka berdua. Chandler kemudian nanya ulang ke Monica soal urusan bagaimana menurutnya tentang Chandler. Dan jawabannya, "Yes, you are nice, smart... but I will always remember you as the one who pee on me."

Tapi akhirnya nikah juga kan? Dan mereka tergila-gila satu sama lain. There's no time when they are not.

Monday, October 06, 2008

Tujuan Itu Berarti Banyak Baginya


I Have A Dream
By ABBA

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
Ill cross the stream - I have a dream

I have a dream, a fantasy
To help me through reality
And my destination makes it worth the while
Pushing through the darkness still another mile
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
Ill cross the stream - I have a dream
Ill cross the stream - I have a dream

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
Ill cross the stream - I have a dream
Ill cross the stream - I have a dream

Mendengarkan lagu ini mengingatkan gw dengan masa SMA gw. Waktu itu kepala sekolah gw seneng banget dengan lagu ini, dan waktu kita sedang belajar ilmu hidup, selalu diputarkan lagu ini, kita diajarkan untuk menyanyikannya, lalu kita diajak untuk memikirkan lagu ini. Waktu itu sih menyebalkan banget mikirin lagu ini. Di pikiran gw isinya, "Apaan sih lagu bokap gw, ga ada bagus-bagusnya." Hehehe...

Belakangan ini, gw keingetan lagi dengan lagu ini karena film Mamma Mia! yang udah gw bahas dengan terkagum-kagum sebelumnya, dan menurut gw isi lagu ini luar biasa kuat. Mendorong orang untuk bermimpi supaya bisa menghadapi hidup yang keras, supaya tidak kehilangan mimpi, supaya dapat mencapai cita-cita yang didambakan.

Semalam gw berbicara dengan salah seorang teman gw. Trus ada kata-kata dia yang bunyinya,
"Lo itu berharap tapi ga ngarep."
Lho... gimana tuh? Susah bener dicerna! Tanggapan gw dengan kata dia adalah dia mengeluarkan pernyataan yang ambivalen. Trus mulai dia ngomong contoh sederhananya kurang lebih seperti ini. Ada orang yang jatuh hati, tapi merasa dirinya helpless dengan perasaannya sendiri. Dia merasa dia udah melempar segala macam perasaannya dalam bentuk mimik dan gesture tapi keliatannya si penerima juga begitu-begitu aja. Kadang seperti ada tanggapan, di lain waktu seperti kosong. Dan akhirnya dia ngomong kalau dia hanya bisa ngeliat seberapa jauh dia bisa bertahan. Dia akan terus melakukan hal itu sampai suatu titik di mana dia akan berhenti karena kelelahan. Gak tau lagi mau ngapain.

Itu yang dia bilang berharap tapi gak ngarep. Si orang bodoh itu pengen, pengen mendapatkan, pengen berusaha, tapi sudah sampai di sana saja. Dia tidak menaruh harapan penuh pada keinginannya. Mungkin kalau disinkronisasi dengan lagunya ABBA, dia tidak mau bermimpi. Sedangkan kata temen gw, kalau memang mau, harusnya dia mencari jalan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia mencoba mencari apa yang dibutuhkan oleh orang yang didekatinya, sampai akhirnya dia bisa mendapatkannya. Maksudnya gak pasif. Gak berhenti karena begitu saja tidak dapat seperti apa yang diharapkan.

Kalau gw, biasanya kejadian berharap tapi gak ngarep itu terjadi karena gw takut dengan penolakan dan kegagalan. Jadi kadang kala kalau gw lihat udah gelagatnya gak keliatan apa-apa nih di depan, gw bakal mundur teratur karena gw takut merasa malu karena tidak mendapatkan apa yang gw mau. Sebenarnya, harus gw akui, pola pikir gw yang itu salah, dan perlu gw perbaiki. Karena kalau seperti itu, maka waktu di depan tidak kelihatan apa-apa, gw gak bakal maju-maju, dan gw bakal stuck di satu tempat. Kalau dalam lagu di atas, mungkin ini yang dimaksud dengan pushing through the darkness, still another miles. Berusaha karena tujuannya itu berarti banyak baginya.

Ya... KARENA TUJUANNYA ITU BERARTI BANYAK BAGINYA.

Sunday, October 05, 2008

Kenapa Sakit?


Beberapa hari lalu gw kebetulan nonton Grey's Anatomy. Di sana ada cerita tentang anak yang karena kelainan genetik, dia mengalami kerusakan di sistem syarafnya, terutama yang berurusan dengan rasa sakit. Intinya, anak itu tidak bisa merasakan yang namanya sakit. Karena dia tidak bisa merasakan sakit, dia jadinya merasa dirinya Superman. Dia minta badannya dipukulin sama temennya dengan baseball bat. Sampe babak belur dipukulin juga dia gak ngerasa sakit. Itu salah satu contoh yang mau gw ceritain, karna yang lain agak lebih ekstrem lagi.

Di akhir film ditutup dengan kalimat, "Sometimes pain is happened for a cause"

Si anak itu melakukan hal itu karena dia tidak merasakan sakit. Karena tidak merasakan sakit, jadi dia tidak menghindari penyebab rasa sakitnya. Karena tidak menghindari penyebab rasa sakitnya, jadi dia terluka. Karena terluka jadi dia membahayakan hidupnya. Kurang lebih mata rantainya jadi seperti itu

Begitu juga dengan hidup. Kadang kala kita menghadapi masalah. Masalah itu menyakitkan. Tapi karena masalah itu menyakitkan, jadi kita tahu apa yang perlu dihindari karena dapat menyebabkan kesakitan. Dan akhirnya kita menjadi manusia yang lebih bijak karena kita jadi tahu apa yang menimbulkan kesakitan tersebut, sehingga kita dapat menghindarinya.

Tapi kadang kala kesakitan yang berjalan lama, dapat mengakibatkan seseorang menjadi terbiasa dengan kesakitan. Karena seperti kata Arundhati Roy dalam bukunya Gods of Small Things, "Manusia adalah mahluk terbiasa." Terbiasa untuk dicintai, terbiasa untuk merasa nyaman, sampai akhirnya terbiasa untuk disakiti. Ketika keterbiasaan untuk disakiti itu hilang, seseorang akhirnya mencari kebiasaan itu, dan meminta untuk disakiti lagi, dan lagi, dan lagi. Sampai ketika kesakitan itu membahayakan hidup pun akan diterima. Karena kebahagiaan itu muncul karena kesakitan yang diperoleh. Mereka menikmati rasa sakit itu.

Lain lagi dengan mereka yang menikmati menyakiti. Mereka mungkin kenal dengan rasa sakit, dan mereka juga takut dengan rasa sakit. Tapi dalam pikiran mereka mungkin bergaung tanpa henti, "Daripada gw yang sakit, meningan gw menyakiti." Dan karena menyiksa juga merupakan hal yang menimbulkan kecanduan, maka menyakiti dilakukan tanpa sadar, tanpa belas kasihan, karena mungkin belas kasihan juga entah sudah bersembunyi di sebelah mana. Sudah lupa akan apa yang namanya belas kasihan.

Jika begitu, apakah kesakitan itu terjadi karena suatu sebab? Kadang kala ya... tapi sebagian lagi karena manusia sendiri menciptakannya.

Saturday, October 04, 2008

Cinta yang Sederhana


Kata orang gw desperate banget nunggu true love gw. Kata orang juga gw sial mulu ketemu sama orang yang ga genah kalo kata orang Jawa. Kalo orang Sunda bilangnya teu balek. Tapi apapun itu, dengan semua yang pernah gw lewatin, gw belajar untuk mencintai dengan benar. Paling gak dengan tulus.

That's All
Sung by Michael Buble


I can only give you love that lasts forever.

And a promise to be near each time you call.
And the only heart I own
For you and you alone
That's all,
That's all...

I can only give you country walks in springtime

And a hand to hold when leaves begin to fall;

And a love whose burning light

Will warm the winter's night
That's all,
That's all.

Mencintai dengan sederhana. Tidak dengan embel-embel. Memberikan dengan sepenuh hati, karena memang ingin memberikan. Sesuatu yang sederhana dapat berarti sangat besar ketika mencintai dengan sungguh. Karena kesungguhan akan menambah nilai kesederhanaan yang ada.


There are those I am sure who have told you,

They would give you the world for a toy.

All I have are these arms to enfold you,
And a love time can never destroy.


Akan sangat banyak orang yang dapat menjanjikan dan memberikan sesuatu yang luar biasa. Dan akan lebih banyak orang lagi yang mampu mengorbankan materi untuk hadiah yang luar biasa. Tapi ternyata kesederhanaan dengan cinta yang besar berarti lebih. Karena memang yang paling utama dari semuanya adalah kasih. Seperti kata Alkitab juga, "... dan dari kesemuanya itu yang terutama adalah Kasih."

If you're wondering what I'm asking in return, dear,

You'll be glad to know that my demands are small.
Say it's me that you'll adore,
For now and evermore

That's all,
That's all.

Dan memang akhirnya... ketika ditanya apa yang diinginkan sebagai imbalan tersebut, juga hanyalah hal yang sederhana, yaitu dicintai dengan sederhana pula. Karena imbalan cinta sederhana yang tidak habis dimakan oleh waktu adalah hadiah yang terbesar.


Beberapa orang tua yang sudah menjelang akhir usianya mengatakan bahwa mereka paling bahagia dengan masa lalunya adalah ketika mereka bersama dengan pasangannya. Dan semua itu sudah cukup untuk seluruh usianya. Saat ini mereka sudah siap untuk pergi dari dunia, karena sudah pernah mengalami kebersamaan dengan seseorang dalam cinta yang sederhana. Dan akhirnya saya menjadi sangat tenang, sangat bahagia... apapun itu, sekarang yang saya rasakan adalah sebuah kedamaian karena cinta yang sederhana...

Friday, October 03, 2008

Dunia Itu... Besar, Kecil, Atau Cukup?


Dunia itu besar dan luas...

Waktu elo mau nyari permata indah yang elo pengenin, jadi susah banget, karena tempat yang harus diobrak-abrik menjadi begitu luas, dengan pohon-pohonan, air sungai, lubang di batu karang, lautan luas, rumput laut, padang pasir, sabana,... sebutkan lagi apa yang bisa bikin kita kesusahan mencari batu permata indah itu.

Dunia juga bisa menjadi sempit dan sumpek...

Waktu suara-suara beterbangan dari mulut ke telinga, berbicara mengenai hal-hal asli dan palsu, yang kadang-kadang gak mau diceritakan. Atau ada mata-mata yang ngintip-ngintip di mall, yang melemparkan kata-kata licin ke telinga-telinga yang lebar. Atau ketika semua orang merasa khawatir dengan keadaan diri elo yang ngga jadi dua. Bahkan gak pernah ngebawa cikal bakal dua elo itu. Trus elo didorong-dorong, dipaksa-paksa, disayang-sayang, lalu dicekik. Atau ada hal lain lagi yang memperkecil dunia?

Tapi dunia itu akan menjadi cukup...

Kalau dijalani berdua... dengan orang yang memiliki potongan jantung yang pas, dengan orang yang memiliki sisi otak yang ngga elo punya, dengan orang yang mempunyai rem yang pakem gila untuk gas elo yang lebih kencang dari punya dia. Atau mungkin dengan orang yang telinganya tajam tapi matanya buram untuk telinga elo yang budek dan mata elo yang tajam.

Lalu kapan dunia itu menjadi cukup?

Sebelumnya mungkin elo harus menghadapi dulu dunia yang luas dan sempit itu. Tapi seperti kata nyokap gw, "Jalanin aja... semua itu jodoh. Mau beli rumah itu jodoh, mau sekolah jodoh juga, mau kerja juga jodoh, apalagi yang namanya orang! Yang penting diusahakan dengan tulus hati. Sisanya biarkan yang Punya Hak yang nentuin."

Ugh... berat ya ternyata...

Wednesday, October 01, 2008

Maaf dan Terima Kasih


Dari permainan "satu kata yang menggambarkan dirimu", gw dapet beberapa hal dari teman gw, antara lain: panik, cerewet, crancky, judes.

Beberapa minggu sebelumnya ada kalimat yang terucapkan, "Kalau gak judes bukan elo."

A few days ago ada kata-kata dari Jepang berupa, "Kok kamu jadi kayak gitu sih? Menjaga jarak sama aku, trus omongannya silet banget."

Akhirnya di tanggal 29 malam, dua orang teman yang peduli dengan gw mulai ngomong. Ini kurang lebihnya beberapa line yang mereka omongin ke gw:
"Lo kalo gak jutek gak bisa ya?"
"Waktu pertama kali ketemu, lo itu orangnya menyenangkan, easy-going banget"
"Mungkin karna lo punya bisnis sendiri ya, jadi lo ngomong sama temen lo kayak ngomong sama pegawai."
"Dulu sebelum lo sibuk-sibuk, kadar jutek lo mungkin di angka 1-2, sekarang di atas 5, ya... sekitar 5.5" (yakin ga lebih dari 5.5?)

Ternyata selama ini gw BERUBAH BANGET... dan gw kecewa.
Gw kecewa karena gw bukan orang yang bersahabat lagi (I know I was better)
Gw kecewa karena gw terlalu self-centered
Gw kecewa karena gw menyakiti hati banyak orang dengan sikap dan tingkah laku gw
Gw kecewa karena gw tidak bisa bertahan menjadi orang yang baik
Gw kecewa karena gw berubah bukan ke arah kebaikan

Teman (dan keluarga) yang sangat baik sekalipun, akan pergi meninggalkan ketika mereka jengah menghadapi sikap dan tingkah laku kita yang tidak terkendali. Kesadaran diri adalah hal yang penting untuk selalu dibentuk dan dibangun.

Tapi beruntung gw punya teman yang baik... yang mengingatkan gw ketika gw sudah kelebihan batas. Bukan yang diam sampai akhirnya gw merusak diri gw sendiri.

Apa yang terjadi kalau pengrusakan berjalan terus?
Kalau memang gw harus memilih antara pekerjaan dan teman... tampaknya gw akan melepaskan sesuatu yang bukan manusia. Karena menurut gw, dalam hidup ini
  1. memanusiakan manusia
  2. menjaga karakter yang baik
  3. membenahi diri yang buruk menjadi baik
adalah sesuatu yang sangat penting...

Maaf yah sobat, kalau selama ini kalian udah harus menanggung gw.
Terima kasih untuk segala kemurahan hatinya.

Mumpung temanya gini... sekalian

SELAMAT LEBARAN
MAAF LAHIR DAN BATIN YA...