Sunday, August 31, 2008

Gimmick Geron Gaya Gagah

Pernah gak sih pas lagi di gym, atau lagi jalan di supermarket, atau mungkin di pasar, atau lagi di kantor, atau lagi hanya nongkrong dan lihat orang bawa-bawa tas atau merchandise sesuatu?

Contohnya kurang lebih seperti gini:
  1. Di gym, ada orang taro tempat baju kotor di laundry bag dengan tulisan Ritz-Carlton Jakarta
  2. Di supermarket, ada ibu-ibu muda yang concern dengan gerakan go-green berbelanja dengan goody bag hitam dari ELLE
  3. Ada cowok metroseksual (atau gay?) yang baru aja pulang dari kantor dengan baju kemeja full-pressed body, sambil membawa tas kertas merah bekas belanja di ESPRIT
  4. Atau mungkin hanya sekedar bulpen yang agak mirip Parker dengan tulisan Burj Al-Arab
  5. ... (mention more as you know)
Mungkin yang mengganggu bukan masalah laundry bag, atau goody bag, atau tas kertas merah, atau bulpen. Masalah juga bukan pada nama Ritz-Carlton, atau ELLE, atau ESPRIT, atau Burj Al-Arab. Yang sedikit banyak menggelitik (meskipun ini juga sifatnya judgemental dan kebenarannya banyak diragukan) adalah tujuan pemakaian tas-tas itu.

Kebanyakan dari mereka ketika ditanya alasan penggunaannya adalah
"Tas-tasnya kuat untuk digunakan, lagian... modelnya juga okay."
Atau mungkin dengan jawaban seperti ini,
"Di rumah hanya ada ini, jadi ya... ambilnya ini aja."
Atau mungkin bisa seperti ini,
"Emang sih gw nyimpen tas-tas seperti ini untuk dipake belanja ke supermarket, kebetulan aja yang ketarik yang ini. Lagian kan kita kan go green ya, boo!" (sambil cekikikan dengan sesama ibu-ibu fashionista dengan baju terusan putih dari south haven yang dibeli di Singapore)
Benar itu alasannya? Syukurlah kalau itu memang alasan yang sebenarnya. Bagaimana kalau itu adalah alasan yang disadari oleh pemilik, sedangkan alasan yang jujur (yang jauh disimpan di lubuk hati yang paling dalam, yang sampai-sampai mungkin tidak disadari) bukan seperti yang diucapkan?

Seumpama alasan yang 'jujur' tadi ternyata keinginan terpendam untuk 'tampil', karena paling tidak bawa merchandise dari tempat-tempat yang bagus, atau mungkin supaya orang menyangka dia mempunyai barang dari merek tertera, pernah tinggal di tempat tertera, atau sesuatu yang berhubungan dengan yang tertera tetapi pada kenyataannya dia sendiri tidak pernah mengalaminya? Akankah orang-orang tersebut ingin menggunakan tas yang bentuk dan mutunya cukup bagus dengan tulisan "Lokakarya Pembangunan Jalan dan Jembatan..." atau "Kongres Nasional Asosiasi Psikoterapi..." atau "Honda Genuine Part..."

Sedikit banyak dunia ini memang mendorong manusia untuk hebat atau paling tidak tampil hebat dalam kalau dia tidak mampu menjadi hebat benar-benar. Harga diri dan penghargaan orang lain (terutama dalam hal materi) adalah sesuatu yang menjadi kejaran. Kalau tidak bisa mendapatkan yang dianggap hebat, mungkin yang mendekati hebat itu juga cukup... Memegang gimmick aja kadang sudah menjadi sebuah kebanggaan....

Benar begitu?
(A) sungguh benar
(B) benar tak sungguh-sungguh

Saturday, August 30, 2008

Heterocountry, Gay Nation, dan Dual Citizenship


Barusan ada tulisan dari teman gw yang berbicara tentang kebiasaan suami-suami di Iran untuk memiliki istri lebih dari satu. Istri pertama adalah seorang wanita yang bertujuan untuk mendapatkan anak, dan istri kedua adalah seorang TRANSEKSUAL untuk senang-senang. Awalnya sih gw pikir mungkin itu akan tampak sangat 'normal' (once again define normality) karena itu sudah menjadi unsur budaya setempat, di mana hal itu menjadi common-thing among the society.

Bertolak dari situ, gw kembali lagi ke 'negara' gay, back to the gay nation, yang banyak di antara masyarakatnya yang berencana untuk berpindah kewarganegaraan, sedang memegang dual citizenship, atau berencana untuk suatu hari memperoleh kewarganegaraan ganda. Ya dual citizenship di mana dia akan tinggal di heterocountry tetapi masih punya akses bebas ke gay nation, melakukan beberapa penipuan di gay nation, menjarah hasil bumi yang baru panen, serta merusak bibit-bibit unggul yang belum ditanam.

Somehow... pasti sebagian besar (kalau tidak semua) dari penduduk gay nation pernah terpikirkan untuk berpulang di heterocountry, atau setidaknya memiliki dual citizenship. Untuk mereka yang memang ingin bermigrasi, maka pergilah dengan damai sejahtera, jangan pernah berpaling lagi, petiklah buah termanis di negara itu, dan nikmatilah susu madu yang berlimpah ruah. Tapi untuk mereka yang ingin memiliki dual citizenship, mungkin perlu mempertimbangkan faktor kesetiaan dan perasaan orang lain.

Semua orang mengejar kebahagiaan dalam hidupnya. Standar bahagia bagi setiap orang berbeda-beda. Ada yang bahagia bila kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi. Adapula yang bahagia bila dia bisa hidup berlebihan, kelebihan materi, kelebihan 'anggota keluarga', kelebihan 'spiritualitas'. Ada yang tidak memiliki titik batas bahagia, sehingga seumur hidupnya dia tidak pernah (kalaupun pernah, itu adalah potongan kecil yang tidak memenuhi syarat) bahagia. Bahagia dalam bentuk apapun merupakan sesuatu yang menjadi pusat perhatian seluruh manusia.

Dual-citizenship sering kali menjadi penyelesaian masalah paling mudah dan cepat. Dengan demikian mereka dapat memenuhi kebutuhan keluarga besar mereka untuk menikah, dan tetap menikmati buah cinta yang tidak bisa mereka lupakan. Syukur-syukur 'suatu hari nanti' (ngga tau kapan deh... no certain date) dual-citizenship bisa menjadi single citizenship of heterocountry, tapi selagi gak bisa, ya pake aja dulu yang ada sekarang. Paling tidak ketika sudah tua nanti, ketika seks bukanlah hal yang penting lagi, ketika dunia sudah hampir berhenti berputar, akan ada keluarga (normal... define normality, honey!) yang bisa mengurus diri mereka, menjadikannya orang tua yang sewajarnya.

Lalu bagaimana perasaan perempuan yang dinikahinya seumpama tau kejadian sebenarnya? Bakalan ngamuk. Kayaknya sih gak juga... perempuan kadang tidak ngamuk, bahkan tidak complain dengan kondisi suaminya. Mereka hanya akan mengeluh dalam hati, menjadi pahit dan kehilangan kepercayaan pada banyak orang. Satu hati terluka, yang akan menularkan luka pada anak-anaknya dan orang lain yang kemungkinan berhubungan dengan dirinya.

Bagaimana dengan pasangan dari gay nation? Pasangan tersebut mungkin aja pasrah-pasrah aja. Udah tau sendiri, dan rela jadi simpanan, ya konsekuensi diterima aja. Berusaha untuk menganggap bahwa setelah menikah (kalau mereka jadian sebelum pasangannya menikah) si calon dual-citizenship tidak akan berubah (do you buy that?). Percaya dengan cinta yang penuh kalau dia akan selalu dicintai, dan akhirnya karena seringkali dikecewakan dengan kesibukan dengan keluarga di heterocountry sehingga dirinya tersia-siakan, maka mulailah dia mencoba-coba orang lain. Katanya tidak menggunakan perasaan, tanpa rasa cinta. Ya karena rasa cinta yang ada di hati pasangan di gay nation tersebut sudah mulai buram. Bukan hilang, tapi sudah menjadi terlalu abstrak untuk dimengerti, sulit dibedakan antara cinta dan seks. Kemudian mengakibatkan promiskuitas, yang berakhir pada ketidakpercayaan pada cinta, yang ada hanya seks.

Sementara dalam hidupnya, dual-citizenship mendapatkan seluruh keinginannya. Seluruh EGOnya terpenuhi. Disadari atau tidak, dia mengakibatkan kerusakan pada banyak pihak. Baik di heterocountry, maupun di gay nation. Kebahagiaan pribadi mungkin diperoleh, tapi apakah harus dengan merusak orang lain? Perlukah mendapatkan kepuasan dengan menginjak orang lain? Karena yang dirusak akan menganggap bahwa tindakan pengrusakan adalah sesuatu yang seharusnya terjadi pada hubungan cinta sesama jenis, sehingga dia akan melakukan hal yang mirip jika tidak serupa terhadap orang lain yang pada saat diperlakukan masih 'polos'.

Seringkali manusia tidak menyadari, bahwa tindakan kecil dapat berakibat besar seperti halnya biji yang kecil dapat menjadi sumber pohon yang besar dan menghasilkan buah yang besar pula. Baik atau buruk, sekecil apapun tindakan dapat berbuah besar di kemudian hari.

Wednesday, August 27, 2008

Beware of Temptation


Ngomong soal habit pasangan bukan gay lagi. Nah, pada umumnya... meskipun umumnya juga sudah tidak umum lagi... pasangan bukan gay maunya 'menyimpan' hubungan seks sampai di malam pertama. Menurut mereka seks itu adalah kegiatan prokreasi, dengan bonus rekreasi. Untuk beberapa orang yang bukan gay, seks adalah sesuatu yang sacred, harus dijaga, dan dipertahankan dalam sebuah koridor yang sangat sempit, dan sulit dilalui. Intinya mereka hanya mau melakukan itu kalau 'waktu'-nya sudah tiba.

Untuk pasangan bukan gay yang tidak mau mempertahankan 'kesucian' sampai malam pernikahan, biasanya tidak akan melakukan hubungan seks pada pertama kali bertemu. Hubungan seks akan terjadi setelah beberapa malam berlalu. Setelah banyak hari-hari gombalisme dikerjakan, setelah semuanya menjadi lebih 'dalam' mungkin, atau paling tidak ada 'sesuatu' dalam hubungan mereka. Mereka sebenarnya juga melakukan intercourse pada saat pertama kali bertemu bila: berhubungan dengan kupu-kupu malam (meskipun kupu-kupunya bisa juga berkeliaran siang hari); atau sama-sama dalam kondisi "bitch".

Hal ini beda dengan gay persons... gay cenderung (walaupun ada yang tidak) untuk berhubungan di awal ketemu. Semakin cepat semakin baik. Mau orangnya sudah kenal atau belum, yang penting sambet dulu. Malah ada istilahnya, "Jangan sampe beli kucing di dalam karung" -maksudnya kalo meliawatinya gak enak, tinggal aja, gak perlu jatuh cinta, mau jatuh cinta dengan yang gak bisa meli? ngga lah ya!!!-

Mungkin karena gay adalah dua orang laki-laki yang mau berpasangan, dengan nafsu a la laki-laki, yang menggebu-gebu, trus mana gay juga gak ada tanggung jawab melahirkan anak, jadi satu-satunya tujuan seks itu hanyalah buat rekreasi... never been prokreasi... kata siapa bukan buat prokreasi? Menurut gw beberapa hal bisa didefinisikan sebagai prokreasi
  • Menciptakan perasaan mendalam, saling memiliki, dan saling mengerti
  • Saling menghormati dalam kiebutuhan masing-masing
  • Menjaga kesetiaan satu sama lain untuk penciptaan makna hubungan yang lebih mendalam
  • Menciptakan hati yang menjadi milik bersama
Prokreasi menurut gw bukan hanya sebuah kegiatan untuk menghasilkan anak, beranak binak memenuhi muka bumi seperti halnya yang tertulis di dalam kitab suci, dan akhirnya ketika bumi udah penuh mulai kebingungan mau taro anaknya di mana lagi. Kegiatan prokreasi adalah kegiatan yang juga menciptakan seorang manusia yang utuh, yang membuat manusia mencapai kemanusiaannya secara penuh untuk memenuhkan orang lain.

Mungkin atas dasar ini juga (baik secara langsung maupun tidak langsung mereka berpikir tentang prokreasi), beberapa gay mau bertahan untuk tidak melakukan hubungan seksual di awal pertemuan, tidak mau melakukan hantam krama, dan secepat kilat menenggak kenikmatan yang di depan mata. Keinginan mereka tersebut bisa jadi adalah usaha untuk menciptakan kemaknaan dalam hubungan yang menurut banyak orang bukan gay tidak bermakna.

Tetapi biar begitu, banyak juga yang bahkan mengamini ketidakmaknaan dalam hubungan sesama gay. Sebagai contoh, ketika seorang teman ingin mempertahankan dirinya untuk tidak langsung melakukan tindakan seksual, maka yang lain sering kali mengeluarkan kata-kata,
"Hayolah, apalagi yang kamu cari, kan dia juga tidak akan bisa jadi pacarmu, dan lagipula dia sendiri memang nakal. Jadi tiduri saja lalu tinggalkan."
atau mungkin kata-katanya bisa seperti begini,
"Icip-icip, buat apa lo kayak perawan tua gitu, jadi frigid, trus akhirnya waktu ketemu orang yang tepat lo dah kehilangan semua touch lo. Insting seks harus dilatih kali."
Segitunya mengejar 'kenikmatan' sampai-sampai insting seks dijadikan alasan untuk menjadi seseorang yang menyetujui promiskuitas. Gw gak ngomong kalo gw ini orang baik, yang tidak pernah mempraktekkan kehidupan 'bebas' dan 'semau gw', tapi seseorang mungkin perlu belajar menjadi lebih dewasa dalam hidupnya, mulai memasuki tahapan baru, dan menjadi lebih bijak dalam memperlakukan hidup ini. Yang lebih bikin gw kaget lagi (sebenarnya tidak juga sih, ini udah gw denger berapa kali),
"Kita ini laki. Dan sudah memang dorongan kita sebagai laki untuk beranjak ke mana-mana, melakukan di mana-mana, dan meninggalkan di mana-mana. Mungkin seperti Vini Vidi Vici."
Blaar... dan gw terus terang kaget dengan semuanya itu. Trus akhirnya gw mulai nanya diri gw sendiri. Mau sampai kapan jadi penakluk dunia seperti itu. Kalau sudah tua nanti, setelah gw sudah terlalu lemah untuk menjadi penakluk, gw bakal jadi seperti apa. Bakalan ada yang nemenin gw gak ya...

Memang buat banyak orang usaha untuk tetap berdiri di prinsip yang dibangunnya itu susah. Sering banyak godaan yang datang. Kadang datangnya dari sumber yang tidak disangka-sangka. Boleh itu dalam bentuk ucapan, tindakan, guyonan, atau bahkan memfasilitasi. Anyway, setiap hari memang kita harus Beware of Temptation untuk menjadi diri sendiri

Wednesday, August 20, 2008

Keluarga VS Menantu


Biasanya kalau di dunia bukan gay (I object to call gay as sakit or sekong {we are not sick}, bengkok {apalagi bengkok}, ataupun memanggil the not gay one as straight {mereka juga gak selamanya berjalan di jalan yang 'lurus'}, atau normal {c'mon... define normality}), biasanya kalau ada pernikahan, maka biasanya akan ada konflik antara suami/istri dengan keluarga dari pihak yang dinikahi. Awalnya mungkin hanya gak senang tuh dengan kebiasaan dia makan di meja makan sambil "teurap", atau cara dia ngomong yang agak "slenge'an", atau mungkin kalau dia ketiduran di sofa dan agak ileran, bikin danau dan bercak-bercak tidak sopan.

Habis "acara" gak seneng - gak seneng, semuanya akan bertambah ke mengkritik ke keluarga (suami/istri yang menikahi) dan kemudian berakhir pada marah besar yang tidak ditujukan langsung, tapi pada keluarga yang bersangkutan (sekali lagi suami/istri yang menikahi)

Hal ini kejadian gak yah kalo dalam hubungan gay? Kalo hubungan gay keliatannya jarang (kalau pun ada, bentuknya beda) yang melibatkan keluarga. Kalau yang melibatkan keluarga, biasanya keluarganya akan sangat liberal dan terbuka dengan macam-macam ide, jadi keluarga akan berusaha menghadapi berbagai hal yang aneh

atau
super cuek, jadi 'menantu' bisa aja mau ngapa-ngapain

atau
sekalian aja gak ketemu keluarga, jadi anaknya dibuang jauh-jauh dari rumah, kalo datang rumah yang ada dihina dina, ditolak, sekalian juga diharamkan dan dianggap orang yang jauh dari kebenaran, tidak mungkin masuk surga

atau
sebagian anggota rumah tangga menerima, tapi yang lain menolak keras. Terjadi perpecahan di dalam rumah, lalu akhirnya ada pihak-pihak yang pergi meninggalkan rumah, dan ada yang tinggal, dan kembali lagi ke tipe keluarga pertama...

Tapi untuk banyak gay, keluarga mereka dalam kehidupan ini adalah sahabat-sahabat mereka. Dan menantu yang tercinta adalah partnernya. Biasanya (sorry kalau hanya kejadian ama gw aja), kalo salah satu temen 'gank' kita jadian sama seseorang, salah satu atau duanya akan ngomong, "Gak banget deh jadian sama si itu." atau "Apa bagusnya sih si itu jadian sama dia?" atau "Si pacarnya gak tau diri banget ngedeketin kayak gitu. Dia pikir dia pantas apa jalan ama kita-kita?" atau mungkin, "Dasar mata duitan, mentang-mentang si anu kaya, jadi deh dipacarin."

Eits.. eits.. eits..
Alasan sebenarnya biasanya bukan itu (kadang kala teman kita bener juga sih..., tapi sering juga ada biasnya)... kadang teman-teman merasa tersaingi dengan "orang baru" yang ternyata mendapat posisi yang lebih khusus dari mereka yang udah lama tinggal. Teman-teman juga biasanya merasa kalau waktu dan kebiasaan harian mereka dengan temannya direnggut oleh pacar yang tidak tahu diri itu.

Tapi sebagai teman sebenarnya apa sih yang diinginkan dari sahabat itu? Bukankah sahabat seharusnya menginginkan sahabatnya bahagia? Lalu kenapa ketika dia berbahagia, orang yang mengaku sahabat terbaik berubah aneh dan membuat situasi menjadi tidak menyenangkan? Sebagai teman sadar gak sih kalau ternyata sering melakukan hal seperti itu?

atau
ternyata ego memenangkan semua pertempuran yang ada. Ego membuat seseorang ingin terus menerus merajai temannya. Teman harus ada di saat susah, tapi sendirinya bisa pergi kapan saja dia mau kalau sudah punya pacar. Duh egois banget yah temennya...

Haruskah keluarga seperti itu? Keluarga seharusnya saling mendukung dan saling mengasihi. Kalau memang gays gak punya keluarga, dan menganggap temannya adalah keluarganya, maka mungkin sebaiknya kita berusaha untuk berlaku seperti keluarga yang semestinya:
"yang lebih banyak ada ketika susah, dan banyak menghilang ketika senang."

Monday, August 18, 2008

Sudah Meredup...


Akhirnya hari ini gw tidak menghubungi dia. Sampe sore ini gak ada kabar juga dari dia. Biasanya dia akan mulai mencari gw kalo gw gak ngabarin dia apa-apa. Tapi sudahlah... ya kalo memang semua selesai seperti ini, ya akan selesai seperti ini juga. Waktu awal gw ketemu oom, gw dah diperingatin
"Jangan marah kalo dia pergi begitu aja ninggalin elo, karna dia sendiri udah ngomong kalo dia masih bla bla bla bla... lagian gw gak percaya kalo dia jujur ama lo"
Saat itu udah datang, dan gw harus siap-siap. Tanggul gw udah harus gw bangun, supaya jangan sampe luapan perasaan gw tumpah keluar, mengacau semua pekerjaan gw. Awalnya gw berpikir gw bisa mengubah dia seperti Wnn mengubah gw dulu, yang dari biasa-biasa aja, jadi tergila-gila sama dia.

Tapi kata Ew, kondisinya berbeda. Gw tidak intent memainkan perasaan Wnn. Gw tidak mencari-cari teman tidur di luar Wnn. Gw juga tidak mencari-cari kesempatan untuk mencicipi badan-badan yang belum pernah gw cicipi. Sudahlah, kondisi memang berbeda. Tidak perlu membandingkan masa lalu dengan masa kini. Mungkin ini harus begitu saja. Paling gak gw belajar. Belajar untuk tidak mudah memberikan diriku sama orang lain. Belajar untuk mencari tahu lebih dalam. Dan belajar kalau ternyata cinta sejati itu sulit untuk ditemukan. Gw bakal menemukan punya gw.

Monday, August 11, 2008

My Funny Friend And Me




"My Funny Friend And Me"
by Sting

In the quiet time of evening
When the stars assume their patterns
And the day has made his journey

And we wondered just what happened

To the life we knew before the world changed

Sering ketika duduk sendiri, malam hari sebelum tidur, kita mulai berkontemplasi memikirkan apa yang sudah kita buat sehari ini. Kadang senang, dan kadang dengan penyesalan. Beberapa hal yang saya lakukan sehari tadi adalah melihat kembali bahwa saya telah berkata keras dengan E, menjatuhkan tuduhan bahwa dia memperlakukan mantan-mantannya seperti saya diperlakukan oleh orang-orang seperti dia. Betapa kejamnya saya menjadikan dia tempat pelampiasan kemarahanku, karena dia hanyalah mirip, bukan sama, dengan orang-orang yang pernah singgah di hatiku, sedangkan saya sebenarnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi

When not a thing I held was true

But you were kind to me and you reminded me
That the world is not my playground

There are other things that matter
And when a simple needs protecting (*see below)
My illusions all would shatter
But you stayed in my corner

The only world I know was upside down

And now the world and me,
I know you carry me


Saya beruntung punya teman yang mau memberi tahu saya, memperingatkan saya akan perilaku, perkataan, pikiran saya yang seringkali berlari-lari tidak terkendali, menabrak apapun yang ada di depannya, bahkan menghancurkan bila perlu, untuk sebuah kepuasan pribadi. Kalau kata si Ir, "Lo ini dokter jiwa, tapi sendirinya sakit jiwa, aneh!" dan pada saat itu saya ketakutan dengan diri saya sendiri. Mulai bertanya, "Apakah saya benar sakit jiwa?"
"Bagaimana saya harus mengendalikan diri saya sendiri?"
"Pikiranku tidak boleh menjadi aneh seperti orang-orang yang selama ini saya rasa aneh"
"Apakah ini menular seperti kata Prof Dig dari Pediatrik (meskipun saya tahu ini hanyalah sebuah joke)"

You see the patterns in the big sky
Those constellations look like you and I
Just like the patterns in the big sky

We could be lost we could refuse to try
But we made it through in the dark night
Would those lucky guys turn out to be

But that unusual blend of my funny friend and me

Kadang kala seorang teman (dan pendamping) adalah orang yang menjaga ketika kita lupa daratan. Mereka bisa saja jadi orang yang pergi, meninggalkan kita ketika keanehan mulai muncul. Mereka bisa saja menghilang ketika kita menjadi tidak lagi menyenangkan. Mereka bisa berkata, "Saya bukan temanmu lagi." karena kita bahkan sudah lupa memperlakukan mereka sebagai teman. Perlakuan kita seringkali lebih buruk terhadap orang yang paling baik dengan kita, dan kita seringkali menghancurkan hati mereka meskipun tindakan yang diberikan kepada kita adalah sesuatu yang baik. Tapi mereka tinggal, untuk menjadi "bumper" kita, untuk menjaga kita supaya tidak hancur lebih jauh. Seperti yang ditulis oleh Paulo Coelho dalam bukunya berjudul "The Manual of the Warrior of Light" kurang lebih seperti ini
seorang pejuang beruntung ketika dia berpaling dan melihat teman-temannya melindungi dirinya
I'm not as clever as I thought I was
I'm not the boy I used to be because
You showed me something different, you showed me something pure
I always seemed so certain but I was really never sure
But you stayed and you called my name
When others would have walked out on a lousy game
And you could've made it through
But your funny friend and me

Ketika saya masih berhubungan dengan W, saya selalu merasa bahwa diri saya ada di atas angin, bahwa saya lebih bijak dari dia, lebih berpengalaman dalam banyak hal, bahkan bisa menunjukkan padanya apa yang benar dan yang tidak benar. Tapi secara tidak sadar, saya sendiri banyak belajar darinya, bahwa kerendahan hati, kelembutan, dan pengorbanan adalah sesuatu yang luar biasa. W (kalau kata si oom dia itu soulmate) membuat saya menjadi orang yang tidak sehebat yang pernah saya sangka dahulu. Saya menjadi orang yang sadar akan kelemahan, belajar memahami kelemahan, dan mencoba menunjukkan kalau kelemahan bukanlah sesuatu yang buruk.

You see the patterns in the big sky
Those constellations look like you and I
That tiny planet in a bigger guy
I don't know whether I should laugh or cry
Just like the patterns in the big sky
We'll be together till the end is night
Don't know the answer or the reason why
We'll stick together till the day we die
If I had to do this all a second time
I won't complain or make a fuss
When the angels sing that unlikely blend
Are those two funny friends
That's us

Setelah selesainya hubungan dengan W, saya mulai mencoba mengerti apa yang namanya mencintai seseorang, bagaimana mencintai seseorang. Dalam perjalanannya saya menemukan banyak masalah dari dalam diri sendiri. Mula-mula saya tidak bisa membedakan mana yang disebut cinta, dan mana yang merupakan nafsu belaka. Masalah kedua yang muncul adalah saya tidak mengetahui cinta seperti apa yang saya cari. Masalah berikutnya ketika yang muncul adalah saya tidak bisa menyadari kebutuhan dan keinginan pasangan saya karena saya terlalu dibutakan oleh cinta. Mata saya jadi tertutup dengan segala keinginan saya untuk mencintai

Saat ini saya sedang mencoba memulai suatu hubungan dengan orang yang dianggap oleh sahabat-sahabat saya adalah orang yang tidak bisa dipercaya. Orang yang menurut banyak orang dengan segala kata-kata manisnya hanya ingin mencapai tujuan akhirnya "icip-icip". Apakah mungkin saya menjadi seperti W, yang memberikan keajaiban cinta kepada seseorang sehingga mata dan hatinya terbuka untuk itu? Bisakah saya bertahan? Hanya Tuhan yang tahu. Setiap hari saya hanya bisa mencoba, berdiam diri, bersedih, dan kemudian menjadi bahagia kembali karena cinta itu sendiri. Ya karena cinta itu sendiri

Thursday, August 07, 2008

Manusia Hanya Bisa Berharap





Yang tercinta Bapa di surga,

Hari ini, saya yakin Kau sendiri sudah tahu kalau saya dibangun dengan sms yang kurang lebih intinya menyatakan kalau orang yang selama ini saya suka, hatinya masih dipenuhi oleh mantan kekasihnya yang terdahulu, dan dengan demikian, saya tidak memperoleh kesempatan dengan dia.

Saya juga yakin Engkau juga tahu kalau anakMu ini tidak lama kemudian menyalakan laptop, dan berharap bertemu dengan orang yang disukainya di dunia maya. Dan karena itu terjadilah kami bertemu di dunia maya. Selanjutnya Engkau pasti sudah melihat dengan sendirinya ketika dia menyatakan bahwa dia sedih telah menyakiti saya, lalu mulai bercerita tentang hubungannya dan bagaimana dia dengan kekasih-kekasihnya yang terdahulu. Mungkin dia tidak sadar kalau itu bahkan lebih menyakitkan saya, tapi saya Kau berkati dengan kebijaksanaan, dengan ketenangan dalam menghadapi dia.

Bapa, saya yakin Kau juga tau kalau saya sedikit banyak marah sama Engkau karna saya harus merasakan rasa tidak enak ini, rasa sedih, rasa tidak berarti, rasa tidak bahagia. Karena perasaan kosong yang begitu besar dan ketidakmampuanku untuk mengatasinya. Saya tahu Engkau mengerti kemarahan saya ketika merasa iri dengan hubungan orang lain yang panjang dan baik. Saya yakin Engkau juga tahu bahwa saya merasa tidak senang karena Engkau mengetahui rasa cinta sejati, dan perasaan bahwa saya telah menemukan seseorang tapi ternyata semua itu seperti dirampas lagi dari saya.

Tapi Tuhan, sebenarnya yang saya perlukan hanya bersyukur pada Engkau karna sudah mengizinkan saya untuk menjalani 2 minggu yang indah dengan dia. Tidak peduli itu singkat , yang pasti saya hanya bisa akui sama Engkau (dan saya yakin Kau juga tau), kalau saya menikmati hari-hari itu dengan dia. Saya sangat menikmati memberikan cinta yang ada di dalam hati. Menikmati memberikan seluruh kemampuan di sepotong waktu yang ada dalam dunia ini, bagi orang yang boleh saya cintai dengan tulus. Betapa sentuhan dan ciuman kecil yang saya dapatkan, baik di jidat, mata, pipi, maupun bibir begitu berharga. Keindahan ketika memeluknya, menyentuh pipinya, tersenyum untuk dia, memberikan jiwa yang besar, dan memberikan uluran tangan. Saya juga tidak menyesali semua waktu ketika saya pergi nonton, atau waktu saya ke fountain lounge, atau waktu di eX, bahkan waktu di Starbucks. Semua keindahan itu memang patut saya syukuri dan karena Kau yang memberkati saat-saat kecil itu.

Apapun itu Kau sudah rencanakan yang paling baik buat saya, dan saya hanya perlu bersyukur untuk segala sesuatu. Satu hal yang saya yakin Engkau tahu adalah harapanku. Engkau tahu kalau saya selalu berharap memiliki cinta sejati, seseorang yang sungguh dapat saya cintai, yang juga mencintai saya. Saya mengharapkan seorang pria yang bisa hidup dan tua dengan saya. Sampai akhirnya ketika saya menutup mata, saya dapat menyatakan bahwa saya tidak pernah kesepian dan kenangan indah itu tinggal dengan saya. Bapa, saya tahu bahwa Engkau akan memberkatiku, dan apabila pria ini sungguh Kau tentukan untuk tinggal bersamaku, maka saya tahu saya akan mendapatkannya kembali untuk sesuatu yang lebih baik.... di saat yang telah Engkau tentukan indah.

AMIN

Deus Omni Potenti

Tuesday, August 05, 2008

Bertanya untuk Hubungan yang Stabil



Menjalin hubungan untuk jangka panjang menurut gw adalah sesuatu yang sulit. Gw pernah tanya sama bokap nyokap gw tentang itu (secara mereka dah nikah dari tahun 72, jadi gw harap mereka mengerti dengan baik). Jawaban yang gw ingat waktu itu hanya:
"Semua akan baik-baik saja, selama dijalani dengan tulus."
Jadi gw mulai dengan kesimpulan bahwa hubungan itu harus tulus. Tapi ternyata ketika gw mencintai dengan tulus, hubungan gw dengan mantan-mantan gw tidak berjalan semestinya. Gw gak tau apa gw benar-benar tulus atau itu adalah manifestasi narsisistik dalam diri gw. Tapi selalu akhirnya setelah sebuah kegagalan, saya akan berusaha (lebih cenderung ke craving mungkin) menjalin hubungan baru. Setelah hubungan pertama, gw berusaha untuk menemukan cinta baru, demikian juga dengan setelah hubungan kedua, dan ketiga. Di antaranya gw pernah berbicara dengan tante gw yang ketika suaminya meninggal baru-baru ini mereka telah menjalani usia perkawinan selama 59 tahun. Mungkin dengan demikian, dia bisa memberikan nasihat yang baik. Waktu itu omongannya kurang lebih seperti ini:
"Dalam sebuah hubungan jika salah satu dari pasangan sudah berhenti menyesuaikan diri, maka hubungan akan berakhir."
Lalu gw berpikir, apa selama ini kesalahan ada di gw yang terlalu rigid sama keinginan dan mimpi-mimpi gw akan pasangan yang sempurna, sedangkan gw gak sadar kalo diri gw sebenarnya jauh dari sempurna juga, sampai akhirnya pacar-pacar gw jadi jengah sama gw sendiri. Tapi apa pertanyaan-pertanyaan yang gw tanyain itu bisa gw aplikasikan ke gw? Mungkin tidak jadi tidak bisa diterapkan karna gw ini gay, sementara gw bertanya sama orang yang straight. Jadi gw juga mulai bertanya dengan sobat gw yang mempunyai hubungan 12 tahun (ini selalu bikin gw kagum). Omongan dia ke gw selalu bunyinya:
"Just follow your heart"

Follow your heart? Seperti apa sih? Maksudnya kalau suka ya suka aja? Gak usah terlalu mikir gitu? Tapi bagaimana kalau kita suka sama yang salah. Temen gw pernah bilang
"Hati lo gak bakal pernah salah"

Oh ya? Lalu kenapa gw jatuh cinta dan tergila-gila dengan si fen dan RW, tapi akhirnya ternyata gw ditinggalin, disakitin, dengan kesimpulan bahwa mereka kemungkinan besar tidak pernah mencintai atau menginginkan gw? Akhirnya gw pernah bertanya dengan salah satu teman gw yang pacarnya di akhir tahun ini mau menikah setelah mereka berpacaran 8 tahun. (MY GOODNESS!!!) Dia ngomong gini ama gw
"Kalau jatuh cinta jangan terlalu dalam, karna itu juga untuk membantu diri elo. Supaya gak terlalu sakit."
Dalam pikiran gw jadinya ngapain lo jatuh cinta kalo emang lo gak mau dalam-dalam? Mungkin maksudnya bukan begitu kali ya? Gw coba melihat pernyataannya dari sisi yang lain. Mungkin maksudnya begini: kalau jatuh cinta itu meningan pelan-pelan (make it slow). Jadi waktu pertama ketemu jangan membabi buta mencintai dan langsung termehe-mehe, tapi lebih baik kalo pelan-pelan. Biarkan perasaan itu tumbuh sejalan dengan perjalanan hubungan lo. Jadi dari hubungan yang sederhana dengan rasa cinta yang biasa-biasa saja, sejalan dengan waktu menjadi hubungan yang lebih kompleks dengan rasa cinta yang luar biasa, sampai akhirnya lo bakal meninggal dunia dengan perasaan cinta yang luar biasa.

Mungkin begitu maksudnya. Itu yang ingin gw pelajari, dan menurut gw memang seharusnya cinta itu melihat dengan jelas, supaya ketika pasangan kita jatuh, bisa kita angkat, waktu pasangan kita tersesat, bisa kita tuntun. Cinta itu sebaiknya mendengar dengan baik, supaya ketika dia berteriak minta tolong, bisa kita dengarkan. Ketika ada keluh kesah bisa kita tampung. Bisa berbicara dengan jelas, supaya ketika dia tidak mengerti bisa kita jelaskan, ketika dia bertanya bisa kita jawab.

Beberapa nasihat-nasihat tentang bagaimana mencintai dan dicintai dari orang-orang yang gw kenal. Kalau tertarik silahkan dibaca, kalau mau diikutin, silahkan, tidak ada yang melarang.
  1. Gak perlu jatuh cinta. They (males) are all jerk (c'mon, friend, we are all males)
  2. Jangan pernah mikir apa yang pernah lo berikan dengan cinta, dan jangan pernah berharap ada kembalian yang setimpal
  3. Kalau takut merasa sakit, jangan pernah jatuh cinta. Tapi kalau berani mengambil konsekuensi jatuh cintalah.
  4. Hubungan dibangun atas dasar saling pengertian, saling mengisi, saling mencukupkan. Bukan minta pengertian, merasa tidak pernah penuh, dan perlu dicukupkan
  5. ....