
Barusan ada tulisan dari teman gw yang berbicara tentang kebiasaan suami-suami di Iran untuk memiliki istri lebih dari satu. Istri pertama adalah seorang wanita yang bertujuan untuk mendapatkan anak, dan istri kedua adalah seorang
TRANSEKSUAL untuk senang-senang. Awalnya sih gw pikir mungkin itu akan tampak sangat 'normal' (once again define normality) karena itu sudah menjadi unsur budaya setempat, di mana hal itu menjadi
common-thing among the society.
Bertolak dari situ, gw kembali lagi ke 'negara' gay,
back to the gay nation, yang banyak di antara masyarakatnya yang berencana untuk berpindah kewarganegaraan, sedang memegang
dual citizenship, atau berencana untuk suatu hari memperoleh kewarganegaraan ganda. Ya
dual citizenship di mana dia akan tinggal di heterocountry tetapi masih punya akses bebas ke gay nation, melakukan beberapa penipuan di gay nation, menjarah hasil bumi yang baru panen, serta merusak bibit-bibit unggul yang belum ditanam.
Somehow... pasti sebagian besar (kalau tidak semua) dari penduduk gay nation pernah terpikirkan untuk berpulang di heterocountry, atau setidaknya memiliki dual citizenship. Untuk mereka yang memang ingin bermigrasi, maka pergilah dengan damai sejahtera, jangan pernah berpaling lagi, petiklah buah termanis di negara itu, dan nikmatilah susu madu yang berlimpah ruah. Tapi untuk mereka yang ingin memiliki dual citizenship, mungkin perlu mempertimbangkan faktor kesetiaan dan perasaan orang lain.
Semua orang mengejar kebahagiaan dalam hidupnya. Standar bahagia bagi setiap orang berbeda-beda. Ada yang bahagia bila kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi. Adapula yang bahagia bila dia bisa hidup berlebihan, kelebihan materi, kelebihan 'anggota keluarga', kelebihan 'spiritualitas'. Ada yang tidak memiliki titik batas bahagia, sehingga seumur hidupnya dia tidak pernah (kalaupun pernah, itu adalah potongan kecil yang tidak memenuhi syarat) bahagia. Bahagia dalam bentuk apapun merupakan sesuatu yang menjadi pusat perhatian seluruh manusia.
Dual-citizenship sering kali menjadi penyelesaian masalah paling mudah dan cepat. Dengan demikian mereka dapat memenuhi kebutuhan keluarga besar mereka untuk menikah, dan tetap menikmati buah cinta yang tidak bisa mereka lupakan. Syukur-syukur 'suatu hari nanti' (ngga tau kapan deh... no certain date)
dual-citizenship bisa menjadi
single citizenship of heterocountry, tapi selagi gak bisa, ya pake aja dulu yang ada sekarang. Paling tidak ketika sudah tua nanti, ketika seks bukanlah hal yang penting lagi, ketika dunia sudah hampir berhenti berputar, akan ada keluarga (normal... define normality, honey!) yang bisa mengurus diri mereka, menjadikannya orang tua yang sewajarnya.
Lalu bagaimana perasaan perempuan yang dinikahinya seumpama tau kejadian sebenarnya? Bakalan ngamuk. Kayaknya sih gak juga... perempuan kadang tidak ngamuk, bahkan tidak
complain dengan kondisi suaminya. Mereka hanya akan mengeluh dalam hati, menjadi pahit dan kehilangan kepercayaan pada banyak orang. Satu hati terluka, yang akan menularkan luka pada anak-anaknya dan orang lain yang kemungkinan berhubungan dengan dirinya.
Bagaimana dengan pasangan dari
gay nation? Pasangan tersebut mungkin aja pasrah-pasrah aja. Udah tau sendiri, dan rela jadi simpanan, ya konsekuensi diterima aja. Berusaha untuk menganggap bahwa setelah menikah (kalau mereka jadian sebelum pasangannya menikah) si calon
dual-citizenship tidak akan berubah (do you buy that?). Percaya dengan cinta yang penuh kalau dia akan selalu dicintai, dan akhirnya karena seringkali dikecewakan dengan kesibukan dengan keluarga di
heterocountry sehingga dirinya tersia-siakan, maka mulailah dia mencoba-coba orang lain. Katanya tidak menggunakan perasaan, tanpa rasa cinta. Ya karena rasa cinta yang ada di hati pasangan di
gay nation tersebut sudah mulai buram. Bukan hilang, tapi sudah menjadi terlalu abstrak untuk dimengerti, sulit dibedakan antara cinta dan seks. Kemudian mengakibatkan promiskuitas, yang berakhir pada ketidakpercayaan pada cinta, yang ada hanya seks.
Sementara dalam hidupnya,
dual-citizenship mendapatkan seluruh keinginannya. Seluruh
EGOnya terpenuhi. Disadari atau tidak, dia mengakibatkan kerusakan pada banyak pihak. Baik di
heterocountry, maupun di
gay nation. Kebahagiaan pribadi mungkin diperoleh, tapi apakah harus dengan merusak orang lain? Perlukah mendapatkan kepuasan dengan menginjak orang lain? Karena yang dirusak akan menganggap bahwa tindakan pengrusakan adalah sesuatu yang seharusnya terjadi pada hubungan cinta sesama jenis, sehingga dia akan melakukan hal yang mirip jika tidak serupa terhadap orang lain yang pada saat diperlakukan masih 'polos'.
Seringkali manusia tidak menyadari, bahwa tindakan kecil dapat berakibat besar seperti halnya biji yang kecil dapat menjadi sumber pohon yang besar dan menghasilkan buah yang besar pula. Baik atau buruk, sekecil apapun tindakan dapat berbuah besar di kemudian hari.