Wednesday, February 20, 2008

Kacau balau, lari-larian


belakangan kepala gw lagi gak bisa konsentrasi banget... rasanya hidup lagi lari-larian di depan mata gw, tapi gw sendiri gak punya cukup tenaga dan waktu untuk melakukan segala sesuatunya. Pusing kan lo? Gw sendiri juga pusing.

banyak urusan sekolah gw yang gak selesai. seperti contohnya besok gw harus presentasi untuk seminar psikopatologi, dan kerjaan itu sebenarnya udah gw cicil dari 3 minggu yang lalu, tapi sampai hari ini, jam segini, belum selesai. kenapa belum selesai, gw sendiri gak nemu jawabannya. benernya nemu sih jawabannya. gw gak ngerjain. tapi apa yang membuat gw gak ngerjain? mungkin lagi kekurangan dorongan dalam kehendak gw.

bukan hanya masalah presentasi gw, tapi masalah tesis gw juga gak selesai-selesai. gw udah punya judul, udah punya beberapa kepustakaan, tapi kok gw gak maju2. yang ada gw hanya tinggal diam, meratap, merasa sedih, merasa terbebani, merasa jadi victim. urusan bangsal gw juga gak beres. berapa hari gw masuk bangsal, tapi baru tadi gw sadar kalau gw gak pernah ngisi status. kalaupun gw ngisi, gw salah ngisi status. kerjaan yang bukan kerjaan gw seperti ngurusin pasien puput, malah gw kerjain, gw wawancara pasiennya, gw periksa extrapyramidal syndrome-nya, sampe gw bilang rencana terapinya, padahal jelas2 bukan pasien gw.

gw pusing banget... asli pusing banget. rada amburadul belakangan gw. sakit kali gw. ada gangguan di jiwa. tapi gw berasa kehilangan semua dorongan kehendak gw. satu-satunya dorongan kehendak gw yang masih utuh adalah ketemu ama cowo gw. hanya itu. yang lain rasanya rontok jatuh ke tanah semua.

gw pernah cerita ini ama cowo gw, trus dia bilang kalau hubungan yang baik itu adalah hubungan yang membangun, bukan yang ngehilangin semangat kayak gini. sebenarnya masalah bukan sama dia, dan bukan sama hubungan ini, tapi masalahnya ada di gw yang cenderung merasa exaggerate, merasa berbeban banyak. gw yang belakangan merasa ego-distonik (tidak nyaman) dengan keadaan diri gw sendiri. rasanya nyawa gw abis gitu. apa yang harus gw lakukan? kok kayaknya gw gak menemukan hidup gw ya? sepertinya gw merasa gw ingin sesuatu yang lain, tapi gw gak bisa...

gw pengen kerja dan menghasilkan duit. gw pengen tidak mengkhawatirkan keadaan gw kalo gw harus hidup sendiri. gw pengen cepet selesai sekolah. gw pengen bersemangat, menjadi orang yang punya banyak ide orisinil. gimana coba? gw pengen jalan2 liburan. gw pengen tinggal bareng ama cowo gw. gw pengen punya duit banyak. gw pengen tidak mengkhawatirkan pekerjaan gw setelah gw lulus sekolah. gw pengen hidup tenang. tapi apa yang terjadi? pikiran gw lari-larian sendiri. kayaknya semua event lari-larian di otak gw, gw cape, tapi gw gak bisa mikir jelas. ada yang bisa tolong gw ga? tolooooonggg......

Friday, February 15, 2008

Depresi?


Gw udah kayak orang gila hari ini. Udah berapa hari ini gw kerasa kayak orang gila... atau berapa minggu mungkin lebih tepatnya. Somehow, I feel like hating almost everything. The only thing that cheers me up is my hubby, RW. Gw merasa gak bahagia dengan berada di rumah sakit, gw juga tidak terlalu bahagia dengan praktek gw. Gw males buat pergi ke toko. Gw bahkan tidak bahagia dengan isi pikiran gw sendiri. Gw setiap hari merasa kalau gw sedang kelelahan, kehilangan kesenangan.

Satu hal yang lebih mengejutkan, bahkan diri gw sendiri adalah, gw bahkan tidak terpikirkan untuk mendengar musik lagi. I'm not even enjoying listening to it. Banyak hal yang menjadi kesenangan gw dulu, hilang begitu saja. Kadang gw wondering, apakah gw udah masuk ke dalam depresi atau gak. Mungkin Serotonin di otak gw lagi gak berproduksi dengan baik. Padahal kalau dipikir gw sekarang gak terlalu banyak masalah. Hidup gw juga lancar-lancar aja. Praktek gw juga rame. Jualan gw juga laku, meskipun gw baru aja naikin harga, dan lebih penting lagi, gw sekarang punya pacar, yang sangat menyenangkan buat gw. My life is in it's smoothest now, and I should be thankful for that. Tapi tetap meskipun semua mindset gw, gw atur seperti itu, kepala gw tetap rasanya berat. Kepenuhan.

Out of my happiness, memang juga ada challanges. Such as, gw tadi abis ngurus thesis gw, n dari hasil bicara sama pembimbing akademik gw, muncullah sebuah nama untuk pembimbing metodologi penelitian gw, Kita sebut dia dengan dr. Sempurna. dr Sempurna ini tidak puas kalau segala sesuatu tidak tertata rapi sesuai aturan, dan dia mau semuanya penuh kesempurnaan, bahkan somehow, dia menjadi terlalu kaku untuk dunia yang membutuhkan fleksibilitas ini. Kalau dalam istilah psikiatrinya , dia masuk dalam tipe kepribadian Anankastik. Tipe kepribadian yang menuntut semua-semuanya sempurna, harus berada pada jalur yang telah ditetapkan, dan semuanya harus dalam aturannya.

Tantangan lainnya dalam hidup gw adalah kemaren (dalam terminologi jawa -red) ada teman seangkatan gw yang nyolong sub bagian penelitian dan judul tesis gw. Ada saksi yang mengatakan (kesannya lagi di pengadilan) kalau dia ngebuka laptop gw. Hah... cape deh... padahal dia sendiri ibu-ibu. Sudah ibu-ibu, lagi hamil lagi. Seharusnya, menurut hemat gw, dia yang sudah lebih berumur gitu, harusnya bisa lebih sadar akan kelakuannya yang gak benar itu. Tapi mungkin insight (penilaian seseorang tentang dirinya sendiri) teman gw itu agak buruk kali.

Dari dua tantangan dia atas, harusnya tidak membuat gw sedepresi itu. Life is about facing challenges, dan hal seperti di atas adalah hal yang biasa. Tapi kenapa gw gak bisa berpikir jernih. Gw jadi yang seperti gak betah di bangsal. Gak betah di mana-mana. Kalau lagi browsing bukannya nyari bahan buat thesis, tapi yang ada gw buka-buka friendster, email, atau sesuatu yang bukan-bukan.

I hope I can get through this cycle. Gw harus balik lagi ke mood gw yang normal, euthyme. Wish I could gain it real fast, real soon...

Friday, February 08, 2008

Siapakah Aku?


Sebuah cerita yang diambil dari kumpulan cerita pendek oleh A de Mello SJ yang berjudul "Burung Berkicau"

Attar dari Neishapur bercerita:

Seseorang yang sedang jatuh cinta mengetuk pintu rumah kekasihnya.
'Siapa?' tanya sang kekasih dari dalam
'Aku,' kata orang itu
'Pergi sajalah! Rumah ini tidak akan muat untuk kau dan aku.'

Orang yang cintanya ditolak ini pergi ke padang gurun. Di sana ia merenung selama berbula-bulan, memikirkan kata-kata kekasihnya. Akhirnya, ia kembali dan mengetuk pintu rumah kekasihnya lagi.

'Siapa yang mengetuk itu?'
'Engkau!'

Segera pintu dibukakan.


Cinta membutuhkan pengorbanan besar. Pengorbanan besar untuk kehilangan diri sendiri di dalam orang lain. Cinta mengakibatkan seseorang dapat menemukan diri sendiri di dalam diri orang lain. Dan kehilangan diri sendiri itu akan mengakibatkan penemuan diri yang baru. Penemuan baru yang seringkali bahkan tidak diketahui sang pribadi.

Ketika dua pribadi bersatu, ketika itulah mereka kehilangan maknanya masing-masing, dan menjadi satu pribadi yang unik, di mana dalam satu pribadi yang unik itu, kedua belah pihak menemukan dirinya masing-masing di dalamnya.

The Other


Beberapa saat yang lalu saya membaca novel karangan Paulo Coelho yang berjudul By The River Piedra I Sat Down And Wept. Ada sepenggal dari buku ini yang sangat menarik perhatian saya. Hal ini tentang bagaimana menjadi diri sendiri.

Man runs into an old friend who had somehow never been able to make it in life. “I should give him some money,” he thinks. But instead he learns that his old friend has grown rich and is actually seeking to repay the debts he had run up over the years.

They go to a bar they used to frequent together, and the friend buy drinks for everyone there. When they ask him how he became so successful, he answers that until only a few days ago, he had been living the role of the “Other”.

“What is the Other?” they ask.

“The Other is the one who taught me what I should be like, but not what I am. The Other believes that it is our obligation to spend our entire life thinking about how to get our hands on as much money as possible so that we will not die of hunger when we are old. So we think so much about money and our plans for acquiring it that we discover we are alive only when our days on earth practically done. And then it’s too late.”

“And you? Who are you?”

“I am just like everyone else who listens to their heart: a person who is enchanted by the mystery of life. Who is open to miracles, who experiences joy and enthusiasm for what they do. It’s just that the Other, afraid of disappointment, kept me from taking action.”

“But there is suffering in life,” one of the listener said.

“And there are defeats. No one can avoid them. But it’s better to lose some of the battles in the struggle for your dreams than to be defeated without ever even knowing what you’re fighting for.”

“That’s it?” another listener asked.

“Yes, that’s it. When I learned this, I resolved to become the person I had always wanted to be. The Other stood there in the corner of my room, watching me, but I will never let the Other into myself again – even though it has already tried to frighten me, warning me that it’s risky not to think about the future.

“From the moment that I ousted the Other from my life, the Divine Energy began to perform its miracles.

Setelah selesai membaca ini, banyak orang akan berpikir; “Kalau begitu saya bisa seenaknya saja menjadi diri saya, bermimpi setinggi langit, dan tidak memperdulikan apa yang dikatakan orang lain.”

Ada juga yang akan berkata, “Kalau begitu saya dapat bersenang-senang sepanjang hidup saya, tidak perlu berpikir tentang masa depan, karena kesenanganku adalah bersenang-senang, tanpa perlu bekerja. Masalah keuangan? Hal itu bukan masalah, karena banyaklah orang yang dapat menjadi penyelamatku.”

Yang lain lagi akan berpikir, “Saya tidak perlu bertanggung jawab atas hidup orang lain, karena saya adalah diri saya sendiri. Saya bisa mejadi bunga mawar yang cantik, dan biarlah duri-duri yang muncul dari diri saya menusuk orang lain, karena merekalah yang berusaha memetik dan mengagumiku.”

Keinginan menjadi diri sendiri bukanlah sebuah alasan untuk tidak memperhatikan orang lain. Keinginan untuk menjadi diri sendiri bukanlah alasan untuk melintasi batas orang lain. Keinginan menjadi diri sendiri adalah mengetahui apa yang menjadi potensi individu, menjadikannya sebuah fokus, dan melangkah di atas fokus yang kita jalankan.

Hidup bukanlah hanya menjadi diri sendiri, tetapi menjadi berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan menjadi berarti bagi orang lain, maka sebuah pribadi menjadi lebih sempurna. Seperti halnya ada kebahagiaan dalam memberikan bantuan yang tulus kepada orang lain, demikianlah kebahagiaan itu akan menjadikan seseorang menjadi pribadi yang lebih kokoh.

Cinta dan Kehidupan

Jalan Diam Diam

by Yovie and Nuno


Kuingat engkau berkata tak mungkin aku tanpa dirimu

Cinta yang terlanjur membara tak mungkin akan terpisahkan

Adakah rintangan ini lelahkan dirimu


Andaikan benar kau memilih aku

Jangan pernah kau meragukan diriku

Mereka tak setujupun aku kan menjagamu

Meski kita harus jalan diam diam


Daunpun jatuh berguguran

Ini pertanda kau untukku

Cinta yang bersemi abadi hanya mimpiku hanya mimpimu

Adakah rintangan ini lelahkan dirimu


Andaikan benar kau memilih aku

Jangan pernah kau meragukan diriku

Mereka tak setuju pun aku kan menjagamu

Meski kita harus jalan diam-diam


Dan bila engkau telah tergoyahkan

Biar aku yang menanggung luka ini

Kecewakan hatiku tapi ku takkan kusesali semua yang terjadi

Melihat engkau pergi

Mungkin mereka benar, aku tak layak, tak berhak memilikimu


Lagunya agak-agak mengerikan juga kalau didengerin dengan benar. Bukan masalah selingkuh, tapi masalah cinta yang tidak boleh menjadi cinta. Cinta lain kasta, cinta lain kepercayaan, atau cinta sesama jenis. Cinta-cinta yang menurut orang tidak bisa dijalankan, di mana seringkali orang yang menjalaninya merasa yakin akan dirinya, tetapi karena digempur oleh lingkungan, maka benteng yang didirikan menjadi roboh dan hancur.

Betapa sedihnya, betapa merananya, menjadi pihak yang ditinggalkan, menjadi pihak yang dicampakkan. Karena lebih mudah meninggalkan daripada ditinggalkan. Terbang bagaikan merpati memasuki dunia baru yang penuh tanda tanya, daripada tinggal di dalam sangkar yang menjadi lowong karena berkurangnya penghuni.

Sebuah ketakutan hati dalam membina hubungan dalam cinta sejenis. Bahwa dunia di hadapan adalah sesuatu yang tidak pasti, bahwa bayangan besar dengan kabut tebal menutupi keadaan masa depan. Ribuan pertanyaan akan menjadi sahabat di setiap masa. Akankah menikah? Siapakah pasangan hidupmu? Akankah kesepian di masa yang akan datang? Akankah dunia akan mempersulit? Akankah ada yang merawat di hari tua? Akankah hidup menjadi berarti? Akankah ada penyesalan?

Harap dan cemas menjadi keseharian, melewati hari-hari tinggal atau pergi. Ketika hidup berisi tawa dan tangis. Hati hanya meminta bahwa bukanlah penyesalan yang dialami, tetapi kesyukuran. Bukanlah kebencian, tapi kecintaan. Dan bahwa hidup ini adalah lingkaran penuh, sebagaimana selalu menjadi lingkaran penuh.

Aku mencintai kekasihku, RW, dan harapanku penuh padanya