Tuesday, May 19, 2009

Anak

Anakku sayang, hari ini kamu datang ke duniaku. Ayahmu ini tidak mampu menahan harunya. Terutama ketika kamu melihat ayah dengan matamu yang gelap, tergelak, dan menggapai telunjuk kanan ini serta enggan melepaskan. Ketika engkau bahagia berada dalam pelukan ayah, dan menangis memberontak ketika harus kulepaskan, bahkan kepada ibumu sendiri.

Hari ini, adalah hari imunisasimu yang pertama. Ayah kuatir kamu kesakitan. Lebih takut lagi bila kamu mengalami efek samping dari imunisasi tersebut. Rasanya ingin menangis melihat kamu disuntik. Tapi ayah tahu ayah harus kuat. Karena kamu merasa tenang ketika memeluk ayahmu ini.

Dan ketika kamu sakit, sayang. Kamu hanya mau tidur bersama ayahmu. Ayah tidak berkeberatan tidur sambil duduk. Semuanya supaya kamu dapat beristirahat di dada ayah, di dalam pelukan ayah. Hingga akhirnya kamu sembuh dan menjadi matahari lagi bagi ayah. Ayah bangga padamu.

Anakku sayang, kamu akan memiliki adik. Kata dokter kandungan ibumu, adikmu adalah laki-laki. Kamu akan dipanggil kakak dan dia dengan dede. Selama masa mengandung ibumu, ayah kuatir tidak dapat membagikan cinta dengan baik kepada kalian berdua. Entah bagaimana caranya. Ayahmu tidak tahu bagaimana memperlakukan kedua anak tercintanya ini. Ayah hanya bisa berjanji berusaha mencintai kalian berdua sama besarnya.

Kakak, hari ini kamu masuk sekolah pertama kali. Jangan takut, sayang, ada ayah di dekatmu. Ayah berjanji menunggu di depan pintu sekolah, menunggumu hingga pulang. Kamu menangis keras minta digendong oleh ayah, ketakutan dan tidak mau bergabung dengan yang lain. Ayah bukannya kejam melepaskanmu masuk ke dalam kelas dan membiarkanmu menangis, kak, tapi supaya kamu melihat dunia baru yang menarik, yang akan membuatmu terpana, yang akan menambahkan warna dalam hidupmu, dan menjadikanmu lebih baik. Ayahmu ini bangga karena kamu berhasil melalui hari pertamamu dengan baik. Lebih gembira lagi perasaan ini, karena kamu berlari menuju ayah seselesai sekolah. Genggamanmu erat, ciumanmu hangat. Ayah mencintaimu, Kak!

Ayah mencintaimu juga, De! Dede tidak dilupakan oleh ayah. Ayah hanya kebingungan membagikan perasaan hati ini di antara kakak dan dede. Maafkan ayah karena ayah tidak cukup pandai menjadi ayah yang penuh cinta kepada dede. Tapi dede nanti akan melihat sendiri, bahwa ayah akan berusaha keras memberikan cinta ayah sepenuhnya kepada kalian berdua. Sama banyaknya, dan sama rasanya. Ayah minta maaf karena memintamu memberikan waktu bagi ayah dalam belajar mencintaimu.

Kalian sudah beranjak remaja, Nak! Dan ayahmu sekarang tampak sebagai ayah yang kejam kepada kalian. Setiap saat ayah tampak harus memarahi kalian karena tidak belajar, karena belum mandi siang, dan bermain di rumah teman hingga jam makan malam. Semoga suatu saat kalian tahu, bahwa maksud ayah ini bukanlah memenjarakan kalian, tapi untuk mengajarkan kepada kalian bahwa hidup itu terkadang harus mengikuti aturan untuk dapat menjadi lebih baik. Ayahmu tidak mau menjadi ayah yang kejam. Memarahi kalian adalah hal yang sangat menyakitkan bagi ayah sendiri. Ampuni ayah sayang.

Kakak, hari ini adalah hari pernikahanmu. Kamu adalah belahan hati ayah. Saat ini kamu akan meninggalkan ayah di rumah dan pergi bersama kekasihmu, membangun keluargamu sendiri. Ayah bisa melihat bahwa kamu sangat mencintainya, dan itu sudah cukup bagi ayah untuk mencintainya juga sebagai anak ayah sendiri. Nak, kalau engkau membutuhkan pertolongan, jangan segan-segan berbalik ke ayahmu ini. Semua daya usaha akan ayah berikan untukmu. Semua tenaga yang tersisa masih bisa untukmu.

Dede, kamu jangan patah semangat. Ayah tahu bahwa beban pekerjaanmu besar. Bukannya ayah tidak mau membantumu, tetapi hal ini ayah lakukan supaya kelak ketika kamu sudah berkeluarga, kamu dapat menjadi tulang punggung bagi istri dan anak-anakmu. Ayah akan berdiri di dekatmu, De. Sadar maupun tidak. Ayah akan menangkapmu ketika engkau jatuh, supaya janganlah semua menjadi terasa sangat sakit. Ayah sedih melihatmu kesakitan. Percayalah, rasa pedih itu sangat mendalam dan mengkhawatirkan ayahmu ini.

Nak, maafkan ayah atas semua kesalahan yang sudah ayah buat. Maafkan karena sudah menimbulkan luka dan kemarahan di dalam hati kalian. Sekarang ayah hanya seorang diri, dan meskipun hati ini sangat mencintai kalian, ayah tahu bahwa ayah tidak pantas mendekati kalian lagi. Kemarahan yang ayah timbulkan memang tidak terampuni. Ayah cuma ingin melihat kalian dari jauh. Ayah cuma ingin melihat senyuman keluarga kalian. Ayah cuma ingin sekali lagi melihat semua itu, karena sekarang ayah kedinginan seorang diri, menanti waktu yang akan habis. Maafkan ayahmu ini, Nak! Satu yang ingin ayah katakan, "Kamu adalah keajaiban besar dalam hidup ayah."

Thursday, May 07, 2009

Andri Tidak Tahu...

Andri kecil adalah seorang anak yang pemalu. Duduk seorang diri di pojok kelas, melihat anak-anak lainnya bermain. Anak laki-laki bermain kertas wayang, membicarakan bola basket, serta merencanakan perjalanan dengan motor mereka. Andri kecil hanya bisa melihat dari jauh, berharap bisa dipanggil untuk bermain wayang, mengerti bola basket, atau memiliki motor yang cukup baik untuk digunakan.

Andri kecil duduk seorang diri di pojok kelas, melihat anak-anak lainnya bermain. Anak-anak perempuan bercerita tentang pakaian barunya, tentang ikat rambutnya, tentang kemampuan bermain karet, tentang bola bekel. Andri kecil ingin bergabung dan berbicara dengan mereka tetapi dia adalah seorang anak laki-laki, dan berdasarkan budaya yang merangkulnya, anak laki-laki tidaklah boleh bergabung dengan perempuan.

Di pojok kelas, Andri kecil merasa kesepian. Kepalanya ditundukkan, dan sambil menutup mata rapat-rapat berharap supaya dunia hilang, atau bila memungkinkan, ia menjadi idola banyak orang. Andri kecil ingin mati, atau Andri kecil ingin menjadi orang yang dipuja.

Sepanjang hidupnya, setiap siang dan malam, ketika sadar maupun hampir hilang kesadarannya, Andri kecil mendoakan supaya dunia menghilang, atau bila memungkinkan, menjadi idola banyak orang.

Andri kecil menjadi Andri remaja. Dalam keremajaannya, masih dipanjatkannya doa kematian atau idola. Yang menciptakan diharapkan untuk memilih. Karena dia tidak boleh mematikan, maka dipelajarinya segala trik ketampanan. Dengan segala kemampuannya dijadikanlah dirinya tampan di berbagai lapisan kulitnya. Indah di sisi dalam dirinya.

Andri remaja bersusah payah dan menekan dirinya untuk menjadi idola karena mati bukanlah keputusannya. Andri remaja berhasil mengumpulkan kelompoknya sendiri. Kumpulan anak-anak yang kurang diharapkan. Kumpulan mereka yang kurang terlihat. Kumpulan yang sebenarnya ingin dijadikannya sama hebatnya dengan kumpulan anak laki-laki yang meloncat ke arah ring basket, dan memasukkan bola dari lemparan tiga angka.

Andri remaja beranjak dewasa, dan dalam ketajaman pikirannya, mulai mengenali kemampuan menarik orang-orang. Pikiran strategisnya dipakai oleh orang-orang untuk menyelesaikan masalahnya. Dan mulai saat itu disadarinya, bahwa dia adalah orang yang dicari. Bahwa laki-laki dan perempuan yang cukup dewasa mendekatinya karena membutuhkannya. Andri dewasa menjadikan dirinya dibutuhkan. Pemenuhan kebutuhan yang dicari orang-orang dari dirinya.

Andri dewasa enggan dijadikan pemenuhan kebutuhan, maka dipelajarinya teknologi percakapan, dan tingkah laku manusia, sehingga pemenuhan kebutuhan berkembang menjadi kenyamanan. Andri dewasa menjadi sumber suasana. Ketika dikehendakinya mendung, maka mendunglah lingkungan sekitarnya. Ketika hujan dijadikan, maka terisak-isaklah dunia. Matahari yang bersahabat dengan angin semilir pun menjadi kendalinya. Andri dewasa menjadi sumber kenyamanan. Kenyamanan yang dikendalikannya.

Hidupnya baik adanya hingga diingatnya bahwa baik adanya bila manusia memiliki pasangan. Selama hidupnya, Andri kecil, remaja, dan dewasa tidak pernah tahu apa yang harus dilakukan untuk memiliki pasangan. Andri dewasa diajarkan oleh dirinya yang remaja untuk lebih memperhatikan dirinya. Andri remaja diingatkan oleh dirinya yang kecil untuk memelihara dirinya. Lalu apakah itu berpasangan?

Andri dewasa duduk di tengah taman dan melihat orang-orang memiliki pasangan yang saling membutuhkan. Andri dewasa merasa dirinya kesepian. Andri dewasa ingin ditemani duduk di bangku taman. Tapi apa daya, Andri dewasa tidak pernah mengenal orang lain selain dirinya sendiri.

Andri tidak tahu bagaimana mencintai...

Andri tidak tahu...

Monday, April 27, 2009

Gak Tau Diri...

"Ceu, kita jalan-jalan ya minggu depan... Siap-siap... udah ngetek loh dari jauh-jauh hari."

Trus setelah siap-siap, baru deh keingetan kalau hari itu ada simposium yang sama lamanya sudah dipersiapkan sebelumnya. Tapi masih bisa diakali.

"Ok deh, biar lo ikutan kita mulainya sorean aja."

"Ceu, lo pada di mana? Gw join ya? Tapi abis itu gw cabut bentar... si Bapak ngajak gw nonton."

(gila lo yah... dah ditungguin aja masih ninggal-ninggalin... situ cantik?)

"Gak papa kok... tapi ntar malam lo ikutan kan? Jangan sampe kita terima sms kalau gak jadi keluar."

"Iya ikutan... ntar gw kabarin deh kalo gw dah selesai."

(lama bener gak ada kabarnya)

"Situ selesai jam 9, tapi jam 11 masih aja gak ada kabarnya... dipake di Sency ya?"

"Bentar lagi gw selesai, gw lagi makan bareng si Bapak..."

"Ok... kita tungguin deh..."

"Aduh gw kena macet berat nih... kalau mau berangkat duluan gak papa deh... gw pasti nyusul."

"Ntar kita rembukan dulu..."

"Eh, macetnya dah selesai. Gitu sampe rumah gw kabarin lagi... gw hanya butuh 10 menit buat siap-siap."

"Percaya kok... ntar ketemu di deket tempat lo aja ya..."

... (menanti di atas taksi)...

"Lo dah selesai belum?"

"Bentar... lagi pake sepatu..." (dooh orang ini ditungguin mulu ya... berasa cantik bener sih?)

... (sampe di tempat hura-hura bersama)...

"Kita ke depan bareng yuk... ke tengah..."

"Ok..." (gak lama kemudian) "eh, gw jalan bentar ya..." (dan tidak kembali-kembali... dan tiba-tiba terlihat sudah pelukan aja dengan orang di tempat yang jauh...)

(gak lama ada sms lagi)... "eh, si oom mabok berat nih... gw mesti nyetirin dia pulang..." (dateng bareng kok pulang gak bareng... gak sopan banget! Ini yang kedua kali tau kayak gitu...)

"Ok..."

Aduh nyebelin banget sih orang kayak gitu? Maaf ya teman-teman...

Monday, April 20, 2009

Berlari Dikejar Tanggung Jawab

Sejak kecil, kita diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap diri kita, keluarga, dan lingkungan. Beberapa orang yang gw temui (kalau tidak semuanya), bercerita tentang tanggung jawab. Beberapa kalimat yang bisa gw kutip

"Gw harus menanggung keluarga gw karna bokap gw udah gak ada, dan nyokap gw gak kerja."

"Sejak kecil, gw sering ngedenger nyokap gw curhat sama gw."

"Gw sering disuruh ngomong ke kakak gw kalo orang tua ada masalah dengan mereka."

"Bokap gw sakit dan gak mau makan. Dia hanya mau denger kalo gw yang suruh."

"Kakak elo akan menjadi tanggung jawab elo kelak. Harus elo yang jagain."

...

...

dan begitulah ceritanya. Sebagian (kalau tidak semua) dari mereka merasa terbebani dengan tanggung jawab tersebut. Terbebani karena harus bertanggung jawab terhadap hidup yang sebenarnya bukan miliknya.

Lalu banyak di antaranya yang ingin lari dari tanggung jawab itu, tetapi tidak mampu. Kemudian karena tidak mampu, ada yang pasrah dengan keadaan (dan menerima) kewajiban bertanggung jawab dengan lapang dada (menikah, membiayai, mengurusi), ada juga yang mengerjakannya sambil bersungut-sungut di dalam hatinya diikuti perasaan terbebani, sedangkan yang lain lagi berlari sama sekali dari tanggung jawabnya. Tidak mau mengingat dan melihat, bila mungkin tidak pulang ke rumah.

Pada banyak potongan, semua bercerita tentang tanggung jawab di luar yang biasa terjadi pada anak-anak umumnya. Dan sampai pada suatu titik mereka hanya bisa menangisi diri mereka sendiri karena mereka tidak bisa menangis pada keluarganya. Setelah itu mereka pun akan mencari orang lain (yang dianggap kuat) untuk berbagi tanggung jawab dengannya... dan voila they are all gay...

Halah... berteori saja kau ini... teori tak berdasar... tidak juga bisa dijadikan alasan untuk menjadi gay... kalo sekong yang sekong aja kaleeee....

Sunday, April 19, 2009

Mau Yang Mana? Mana Yang Mau? Mau Mau Aja?

Kalo kata Lucky "Big is Overrated", maka gw baru aja membaca tulisan di Fridae kalau "Love is Overrated by Gays". Bener ga sih? Tulisan ini kurang lebih menggambarkan bahwa romantic relationship seringkali ditinggikan di atas persahabatan.

Setahu gw, di dunia ini banyak orang yang membuat sebuah relationship baik itu man-woman, woman-woman, ataupun man-man yang diketahui sebagai romantic relationship (yang mana sebagian besar akan melibatkan seks) menjadi sangat penting di dunia ini. Beberapa kalimat yang familiar banget buat gw.

"Lo harus punya pasangan. Tidak bisa seseorang hidup sendirian di dunia ini."

"Kalau tidak punya pasangan, siapa yang bakalan nemenin waktu tua nanti?"

"Apapun menjadi ringan kalau kita punya pasangan."

"Terbukti bahwa seorang pria akan menjadi kurang beresiko menderita gangguan jiwa jika telah menikah."

"Sebelumnya gw adalah orang yang lebih content dengan diri gw. Gw bisa sendirian dan tidak berharap macam-macam. Tapi setahun terakhir ini, gw benar-benar membutuhkan orang untuk menemani gw."

… (I'd like to hear related sentences from you)



Lalu, dengan berbagai alasan yang ada di atas, maka sebuah lembaga pernikahan yang diakui maupun tidak diakui (lesbian dan gay) menjadi sesuatu yang sangat penting bagi sebagian besar orang. Dengan susah payah mereka akan berusaha membentuknya, memperolehnya, kemudian memilikinya. Kadang kala sampai manusia rela mengorbankan banyak hal penting di dunia ini demi relationship tersebut yang (benar atau tidak) dianggap sangat penting, atau bahkan paling penting.

Tapi benarkah itu begitu penting? Gw termasuk orang yang sangat berada di dalam lembaga itu, mengharapkan memiliki orang yang dapat menemani gw, sampai ketika gw menutup mata. Orang yang mencintai gw dan sebaliknya juga gw cintai dengan sepenuh hati gw.

Kalau kata orang, "Pacar tidak selalu ada, teman akan selalu ada." Benarkah? Dalam beberapa hari yang lalu, gw sempat melihat-lihat phonebook gw untuk mencari-cari siapa yang bisa gw telpon sambil menunggu habisnya waktu. Ternyata setelah dua kali berputar dari atas ke bawah, gw tidak menemukan teman yang bisa ditelepon. Beberapa alasan:

  1. Teman yang bisa gw hubungin sedang kerja atau sibuk (jumlahnya ada 5)
  2. Yang lainnya pernah riwayat memiliki hubungan dengan gw (dan berakhirnya kurang sedap…) jadi susah kali dimasukkan kategori teman (untuk diajak ngobrol)
  3. Beberapa lainnya lagi merupakan teman-teman yang tidak cukup dekat tanpa alasan tertentu, yang sepertinya kalau gw telpon juga gak akan ada bahan pembicaraan
  4. Sisanya adalah anggota keluarga yang gak mungkin gw ajak ngondek-ngondekan.
  5. Mungkin ada yang terlewat mata gw kali ya???

Lalu kalau memang love overrated over friends… kenapa teman juga masih sulit dicari?

Pilih mana? Teman, Pasangan, Dua-duanya, atau Diri Sendiri? Dooh… cinta diri benerrr….

Friday, April 17, 2009

Situ Cantik?

Gw baru aja kehilangan seorang teman lagi. Kehilangan dalam arti dia meninggal dunia. Kali ini karena sakit. Mendadak banget. Hanya sakit 3 minggu, masuk rumah sakit, keluar rumah sakit, masuk lagi rumah sakit, kemudian… GONE. Yup sepertinya mudah sekali.

Meskipun begitu… sebenarnya gw tidak terlalu rapat sama dia. Sedikit pembicaraan antara dua orang sahabat pada saat itu

"Semalam setelah ngelayat ke mana?"

"Gak kemana-mana kok! Hanya berdua doang. Pergi nonton trus pulang."

"Oh, ya? Ada apa kok gak ke mana-mana?"

"Dia masih mellow gara-gara dari acara kematian. Jadinya kesian banget deh."

"Iya… bisa dimengerti kok… Dulu waktu Adit meninggal kecelakaan juga gw mellow banget. Sampe 3 hari…"

"Ceritanya mesti ya kembali ke diri sendiri?" …(dengan nada nyinyir)…

…(terdiam karena malu, lalu menyambung)… "Gw kan sun in the milky way. Maunya dunia berputar di sekeliling gw." …(ugh)…

Untung ada teman yang mau mengingatkan… daripada orang yang tidak dikenal mengingatkan… pasti lebih malu lagi… "situ cantik?"

Friday, April 03, 2009

Aneh... aneh... aneh...

Dalam perjalanan di atas sebuah taksi setelah melewati sebuah hotel mewah di bilangan Semanggi

"Eh, di hotel itu ada acara... pasti yang datang tuh orang-orang dari kalangan jet zet itu..."

"Kalo mau jetzet ke Dragon Fly kali..."

"Wah kalo di sini pasti lebih segmented kali dari DF. Orang-orang dari kalangan terbatas. Aneh..."

"Maksud lo?"

"Ya aneh aja, ngumpul kayak gitu... ngabis-ngabisin duit gak karu-karuan."

"Hmm? Kok aneh? Biasa aja kali..."

"Aneh lah..."

"Menurut elo aneh, tapi menurut mereka biasa aja kali..." (ya... ngomong aneh karena merasa tidak bisa membelanjakan uang seperti itu?)

"Ya gw sih bilang mereka aneh... hidupnya ngeluarin duit mulu."

"Kalau menurut mereka elo aneh gimana?"

"Ya bisa aja mereka bilangin gw aneh."

"Kalau gitu mereka bisa dong bilangin lo aneh."

"Asal gak di depan gw aja bilangnya."

(Diam saja supaya tidak menambah masalah)

Bentuk rasa iri terhadap kepemilikan orang?
Jadi keingetan hukum ke-10 dari Taurat Musa. Seperti yang tertera di Keluaran 20:17
"Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."