Saturday, September 19, 2009

Lihat ke Dalam Sebentar...

Kalau kata teman-teman gw, belakangan ini gw kalo bicara suka satu oktaf lebih tinggi. Bukan hanya satu oktaf lebih tinggi, kalau sedang dengan pitching nada-nada rendah, gampang sekali melompat lebih tinggi.

Yang artinya....

Gw kalo ngomong sering sekali dengan nada yang setengah menyentak (kan gw dari Indonesia Timur.... pembelaan ceritanya), atau gampang sekali memberikan respon kemarahan....

Tapi di antara kemarahan itu, mereka sendiri menyatakan beberapa hal:
  1. Gw lagi pusing dengan kondisi hubby yang sakit.... -tindakan dimaklumi-
  2. Gw juga lagi overload dengan kerjaan di kantor.... -tindakan sekali lagi dimaklumi-
  3. Gw harus mengatasi banyak hal dalam hubungannya dengan bisnis.... -tindakan terus dimaklumi-
  4. Gw kurang bersenang-senang.... -tindakan masih dimaklumi-

Semua hal dimaklumi oleh teman-teman gw. Ugh... they are very understanding. Untuk banyak hal mereka selalu memberikan pengertian yang luar biasa besar.

Sangat memalukan sementara saya sendiri jarang memaklumi sikap dan tingkah laku orang lain...

  1. Mobil orang ngegunting jalur saya aja... langsung omongannya koprolll....
  2. Dimintain jalan pake dim dari belakang... kepalanya rasanya emosi
  3. Orang terlambat dikit merespon kegagalan dalam bisnis... berhari-hari sudah kepalanya mendidih...

Mungkin saya perlu banyak meminta maaf dan introspeksi diri.... Lihat ke dalam diri sebentar...

Mohon maaf ya temans... Maafkan lahir dan batin.... sekalian mengucapkan "Selamat Idul Fitri" bagi semua yang merayakan

Sunday, September 06, 2009

Maunya Apa?

Hari minggu gw seharian di rumah. Keluar rumah hanya untuk ke gereja pagi-pagi, trus sisanya di rumah. Sayang-sayang dengan hubby, nungguin dia tidur, gw buka internet, terima telepon dari orang, dan terima telpon dari orang. Jadi sementara dia tidur, gw nelpon.

Semua telpon berbicara tentang update kehidupan penelpon yang miserable

Telepon pertama:

Istri salah seorang yang gw kenal lumayan dekat memberitahukan bahwa suaminya di hari Kamis minggu yang lalu menelan semua pil yang ada di rumahnya sampai tidak sadarkan diri. Dia kemudian ditemukan oleh salah seorang staf kantornya yang menganggap kelakuannya di siang hari sebelum menelan pil tersebut cukup aneh. Tidak biasanya dia pulang kantor pada pukul 2 siang. Tidak biasanya dia merengut seharian tanpa berbicara sama sekali. Tidak biasanya dia tidak memperhatikan detil.

Alasannya menelan pil tersebut? Dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya di masa yang akan datang. Dia sudah kehilangan semangatnya. Bahkan terhadap anak-anaknya.

Telepon kedua:

Salah seorang wanita yang sudah gw kenal lama, dengan kondisi perkawinan yang morat-marit, dalam perjalanan menuju perceraian, menyatakan jika dia sedang patah hati. Beberapa saat yang lalu dia bertemu dengan seorang duda yang dianggapnya bertanggung jawab. Si duda kemudian mengajaknya berkencan. Kemudian setelah beberapa minggu (2 minggu tepatnya), si duda terpercaya tersebut menyatakan kalau dia tidak siap dengan hubungan, karena dia baru saja mengakhiri sebuah hubungan yang buruk beberapa bulan sebelumnya.

Ratapan si wanita tersebut? "Gw hanya ingin sebuah hidup yang bahagia, dengan orang yang dapat gw percayai, dengan cinta dan perasaan yang bahagia? Lalu kenapa gw selalu jatuh pada laki-laki brengsek?"

Beberapa di antara kita mungkin pernah

Jatuh cinta lalu dikhianati

Menanti cinta tetapi tidak kunjung datang

Bertemu cinta tetapi ternyata kesehatan mereka terganggu

Menyatu cinta, tetapi ditekan untuk menikah

Sudah menikah, tetapi dipertemukan dengan kematian

Lalu… kalau begitu tujuannya apa? Seringkali hidup adalah misteri, dan misteri tersebut bukan untuk dimengerti oleh akal pikiran manusia.

You were wearied by all your ways,
but you would not say, 'It is hopeless.'
You found renewal of your strength,
and so you did not faint. (Isaiah 55:8)

Friday, August 07, 2009

Recharging

Waktu gw kecil, bokap gw selalu pulang untuk makan siang bareng kami di rumah, dan kemudian berangkat lagi ke kantor setelahnya. Setiap hari kerja, kecuali jika beliau harus pergi mengajar di tempat yang jauh, atau sedang tugas luar kota, atau sedang ada meeting. Tapi pada sebagian besar waktu yang gw tau, bokap gw selalu ada di rumah untuk makan siang bersama kami.

Ketika gw sudah agak besar, gw mulai bisa merasakan betapa melelahkannya menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sebuah kota kecil, tempat tinggal kami. Perjalanan 15 menit dengan kegilaan kendaraan bermotor dan roda tiga saling memotong jalan… untuk sebuah istirahat yang hanya satu jam?

Istirahat makan siang yang dilakukan oleh bokap gw juga untuk kebanyakan waktu dilakukan dalam diam. Jadi beliau hanya diam mendengarkan kami berbicara, atau diam mendengarkan nyokap gw berbicara, mengeluarkan sepatah kata pendek untuk menimpali kami, atau semuanya diam karena gw (mungkin kakak-kakak gw tidak) takut dengan beliau. Jadi most of the time sebenarnya duduk di meja makan itu bersifat mengerikan bagi gw…

Beberapa kali gw pernah bertanya kepada bokap gw, "Kenapa sih mau repot-repot pulang makan ke rumah? Kan cape di jalan…"

Jawabannya ada beberapa versi

Pertama

"Hemat… makan di rumah bisa menghemat pengeluaran…" tapi tanggapan gw bakalan, "Kan bisa buat bekal untuk dibawa pagi-pagi"… dan semua berlanjut tanpa jawaban lebih jauh

Kedua

"Supaya anak-anak bisa berkomunikasi dengan orang tua. Komunikasi bisa dibangun di meja makan." Dan tanggapan gw dalam hati, "Sebagian besar waktu juga kita diam. Sering gw malah ketakutan."

Ketiga

"Kalau makan di kantor tidak tenang. Biasanya sambil makan akan sambil membicarakan pekerjaan. Kalau di rumah tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan." Dan tanggapan gw dalam hati, "Lah biasanya nyokap juga membicarakan pekerjaan, bertanya tentang hari di kantor."

Keempat

(kalau suasana hatinya lagi romantis dengan nyokap), "Buat ketemu mami kamu lah." Sambil giggling… lalu tanggapan gw, "Kan nanti malam juga ketemu…"

Kelima

…. Tidak dijawab… hanya diberikan kalimat, "Suatu saat kamu akan mengerti sendiri."


Lalu sampai suatu saat gw pindah dari rumah, berpacaran, putus, pacaran lagi, bertambah usianya setiap hari, ketemu dengan banyak orang, ditipu oleh pacar, merasa tidak cocok dengan pasangan, punya banyak teman, dan akhirnya punya pasangan yang bisa diandalkan… dan ternyata kami mempunyai "ritual makan siang"

Kebiasaan bertemu kami bermula dari makan siang, dan ini berlangsung mulai dari seminggu dua kali, menjadi seminggu tiga kali, kemudian menjadi seminggu empat kali, menjadi setiap hari dalam seminggu. Saya sudah hampir tidak pernah makan di kantor lagi, kecuali memang salah satu dari kami berhalangan untuk urusan pekerjaan yang sangat penting.

Dan kemudian terjawablah semua pertanyaan gw waktu kecil kepada bokap gw

"Kenapa mau repot-repot meninggalkan kantor untuk makan siang di rumah?"

Atau kalau dalam versi gw, "Kenapa mau keluar dari kantor (either dia maupun gw) untuk makan siang bareng di tempat lain?"

Gw hanya bisa bilang, "Itu ya, Pap…"

Dan jawabannya hanya pendek, "Makan siang bersama itu akan me-restart energi hari itu dari awal."

Semua menjadi seperti pagi hari lagi, dengan tenaga baru untuk kembali bekerja menghadapi kegilaan paruh kedua hari.


Wednesday, August 05, 2009

Do You Care

My boyfriend has a fetish of wearing things in pairs with me....

Jadi ceritanya dia kan baru pulang liburan tuh dari tanah di mana barang asli dan palsu semuanya berharga murah... dan sepanjang jalan di sana dia hampir selalu berbelanja sepasang.
Kaos V neck sepasang
Kemeja sepasang
Celana kargo sepasang
Gelang sepasang
Kaos kaki sepasang
Sampe celana dalam pun sepasang
Dan demikianlah gw tiba-tiba punya banyak baju dengan V-Neck, V-Shape, sexy underwear (which I never had before)....

Last Saturday, setelah leyeh-leyeh dan ngobrol-ngobrol pagi on our love bed, gw mandilah mau pergi sarapan. Keluar dari kamar mandi, tiba-tiba di tempat tidur sudah ada sepasang celana kargo dan baju v-neck, yang gw gak tau dari mana asalnya... lengkap dengan celana dalam eksotis... warnanya semua berbeda...

I was told to wear the green one, while he's wearing his favourite purple colour. Setelah berpakaian dan akan memakai sepatu... ternyata baru sadar... (yang ini tidak dicocok-cocokin) kalau sepatu kita juga sama persis (modelnya), hanya beda di warna...

Dan aktivitas hari itu mulai berjalan... dengan baju yang sama... dan obviously intimacy yang tidak biasa juga di antara dua anak lelaki...
Kegiatan pertama:
Makan di Koko Bogana Cipaku... makanannya enak. Mbak-mbak dan mas-masnya ngelayanin kita makan seperti biasa... gak ada pandangan luar biasa atau aneh, melihat kita berdua berpakaian seperti itu.

Kegiatan kedua:
Ke bengkel bayar perbaikan mobil di Kebon Jeruk... mas yang nerima kami di sana juga tidak menunjukkan raut wajah aneh melihat kami berdua dengan pakaian yang sama dan omongan dengan aku dan kamu... Waktu bayar di kasir, ketika kartu kredit gw bermasalah, dan lelaki yang menutup mata gw dari belakang itu menawarkan menggunakan kartu kreditnya, dan gw tolak, tidak memberikan pandangan spesial dari mbaknya... (atau ada kali tapi gw juga gak terlalu peduli)

Kegiatan berikutnya:
Ke fx untuk makan siang... sama juga... gak ada tuh yang memperdulikan kita... semua tampak biasa-biasa aja kali (mungkin karna di mall kali ya... banyak cong-cong yang lebih ngondek dan obvious berkeliaran...)

Kegiatan keempat:
Ke QFF... ya iyalah... kita di sini diperhatiin... secara cong berdua berpasangan... sambil pegang-pegang dan peluk-peluk... dan aku kamu... pokoknya gesturenya udah gak tertahankan aja waktu itu

Kegiatan kelima:
Ke Grand Indonesia untuk acara ulang tahunnya salah satu sahabat kami. Di sana jalan aja keliling, sebelahan, duduk sebelahan... kadang-kadang sedikit bersentuhan, bersenggolan, merangkul ringan, ketawa kecil... dan kelihatannya juga gak ada yang notice, or even care about it...

We called it a day... untuk kembali ke peraduan kami...

ternyata orang-orang di Jakarta juga tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka... atau mereka sendiri sudah terlalu biasa dengan cong yang berkeliaran di sekitar mereka...

Obviously we were looked as a cong couple...
But anyway who cares? Nobody cares...

It's just lovely...

Monday, July 27, 2009

Pulang Juga AKHIRNYA!!!

Hari Minggu… hari kepulangannya dari liburan panjang yang sudah direncanakan bertahun-tahun (lebay! Kalo kata si oom lebay = daysandminds, tidak lebay = gw gak kenal) lalu. Dari pagi gw berusaha untuk gak mikirin jam berapa ya sekarang. Untungnya malam minggunya abis dugem sampe jam 3. Jadi ceritanya ngantuk… tapi ngantuk-ngantuk juga matanya kebuka aja gitu jam 6 pagi… guling-guling… berpikiran kotor, berdoa… segala macam dilakukan, tetep aja gak bisa bikin gw tidur…

Gw akhirnya pergi gereja jam 9, dan seperti biasa selesai jam 10an, trus pulang makan… eh ternyata ketiduran… dan hebatnya… gw tidur sampe jam 3 sore… wah enak banget tidurnya… gak pake mimpi, hanya kebangun setiap BBM bunyi, atau ada telpon masuk… yang lain-lain gw langsung tidur dengan nikmatnya… Asli nikmat…

Bangun-bangun udah sore, pergi ngegym. Tepatnya sejak pagi sebelum tidur, dan setelah tidur gw gelisah… Kenapa gelisah? Aduuh pikirannya campur aduk… Gw sendiri sampe ngga jelas kenapa gw gelisah… Call me stupid, but these are my stupid minds:

  1. H1N1 worries me… meskipun di kantor gw bolak balik bertemu dan menenangkan orang-orang dengan H1N1, ternyata gw kesulitan untuk menenangkan diri gw sendiri
  2. Gw kok worry kalo dia ternyata merasa I'm not that interesting karna dia baru pulang dari tempat yang begitu gemerlapan…
  3. Waktu dia pulang, ternyata perasaannya tentang gw yang ada sebelum pergi hilang…

Dalam perjalanan menuju airport, gw bisa melihat pesawat dari kejauhan turun… It's his flight… I drove 120km/hr… Afraid for getting late… with all the crazy thoughts…

Gw nunggu sambil was was di arrival… Duuh lama

Sampai akhirnya orang yang gw tunggu dengan was-was keluar dengan baju t-shirt ungu, bercelana pendek…

    Tersenyum hangat

    Gw dipeluk erat

    Matanya menenangkan

Hilang semua pikiran gila gw… hilang tidak berbekas

Gw yakin bahwa memang gw nungguin dia… Whatever it is…

We just have to be sure, that we will face everything together in the future…

Sunday, July 26, 2009

Enjoying The Club No More

Akhirnya sejak gw mulai berhubungan dengan orang yang gw putuskan untuk menjadi pasangan gw... ini pertama kali gw pergi ke club lagi, karena ada undangan "bachelor" party dari salah seorang teman dekat yang terlalu sering gw deny undangannya. They were really thought to have a big fun last night, and since I'm well know as the fun going clubber, and I am their friend, then they asked me to bright up the night (hehehehe... situ Cher?)...

Beberapa attitude standard gw kalau di club:
  • Flirty : Hidup bukan ke club kalo gak flirting... I will love every second of the flirting session. Saling melihat, senyum-senyum, trus jalan pergi, matanya ngikutin dari belakang ke mana pun gw pergi, sok-sok lewat di depannya, kadang nyenggol dikit, senyum lagi.
  • Dance til you drop : Gw PASTI turun ke dance floor, dan bukan hanya turun ke dance floor, gw SERING KALI naik ke stage... I really love dancing, along with the good musics, dan biasanya dengan dance gitu, efek flirty bisa diperkuat...
  • Drink like there is no tomorrow : hahahaha... gak selalu juga... tapi it happens many times. I drink til I get tipsy, then I will move from tipsy to nearly drunk. I get to the drunken state after, and sometimes I look out for the jackpot.
  • Hot kisser : It's a common questions from my friends, "How many lips had you got?"I will at least got one pair of lips everytime I visit club.
  • Going home late : gw kalau pergi club, biasanya pulang kalau clubnya udah agak-agak kosong. Yang tempatnya udah lengang...
Then last night NONE of it happened.
I was losing interest of going to club
I'm even losing my interest in enjoying the sound of musics
I felt very sleepy when everybody was enjoying the show
I didn't think I would have more than a glass of beer
I just thought that at that time, it would have been good to give a kiss good night, fall asleep cuddling my hubby

I was very surprised, I have changed

Thursday, July 23, 2009

Anak Kecil

Berharap seperti anak kecil, bertindak seperti orang dewasa....

Gw selalu ingat kalau orang bilang kita harus punya mimpi-mimpi... seribu satu mimpi harus digantung di atas langit, hingga kaki-kakinya turun menyentuh bumi. Dengan itu kita bisa memanjat mimpi itu untuk mencapai puncaknya dan meraih langit...

Ketika masih kecil (sampai remaja) gw inget dengan gampangnya gw bermimpi...
Mimpi punya rumah besar
Mimpi punya perpustakaan besar
Mimpi punya usaha franchise yang besar
Mimpi punya gedung dengan ruangan gw membelakangi sebuah kaca besar
Mimpi tinggal di New York, di daerah Central Park (ini gara-gara nonton Bold and The Beautiful)
Mimpi punya pacar cowo yang mencintai gw banget... (ini setelah gw meletek nih mimpinya)

Mungkin masih banyak lagi mimpi yang gw belum sebut... itu sedikit dari sekian banyak mimpi gw yang berlari-lari di kepala gw...

Semakin besar, gw sering melihat, atau kalau boleh gw bilang... berhenti percaya dengan mimpi-mimpi gw.
Kerja susah payah, penghasilannya baru segitu
Punya perpustakaan? Baca buku aja kalau sempat
Franchise... hmmm... buka satu toko ternyata susahnya setengah mati...
New York, New York... susah ya, hanya untuk masuk Amerika... gimana mau tinggal di New York?
Aduuhh punya pasangan ribet... yang ada gw diporotin, gw disuruh-suruh, gw dianiaya... (halah lebay)... ada aja cacatnya...

Sampai I met this guy... who in turn really nice to me... really really nice to me...

Trus gw mulai keingetan kembali sama mimpi-mimpi masa kecil gw
... yang sekarang mau gw impikan dengan dia
... yang mencintai gw lebih dari yang gw inginkan
... yang kalau gw sedih ternyata dia bisa restart hari gw
... yang kalau gw marah, ternyata sumbu gw bisa dipadamin sama dia
... yang kalau gw ketawa, jadinya lebih lengkap kalau sama dia
... yang mana membuat gw percaya kalau miracle do happens in real life...

Maka gw mulai lagi belajar bermimpi dan berdoa... seperti seorang anak kecil

Sebuah pengingat kecil
“Jesus said, "Let the little children come to me, and do not hinder them, for the kingdom of heaven belongs to such as these.” Matthew 19:14