Tuesday, May 19, 2009
Anak
Thursday, May 07, 2009
Andri Tidak Tahu...
Andri kecil duduk seorang diri di pojok kelas, melihat anak-anak lainnya bermain. Anak-anak perempuan bercerita tentang pakaian barunya, tentang ikat rambutnya, tentang kemampuan bermain karet, tentang bola bekel. Andri kecil ingin bergabung dan berbicara dengan mereka tetapi dia adalah seorang anak laki-laki, dan berdasarkan budaya yang merangkulnya, anak laki-laki tidaklah boleh bergabung dengan perempuan.
Di pojok kelas, Andri kecil merasa kesepian. Kepalanya ditundukkan, dan sambil menutup mata rapat-rapat berharap supaya dunia hilang, atau bila memungkinkan, ia menjadi idola banyak orang. Andri kecil ingin mati, atau Andri kecil ingin menjadi orang yang dipuja.
Sepanjang hidupnya, setiap siang dan malam, ketika sadar maupun hampir hilang kesadarannya, Andri kecil mendoakan supaya dunia menghilang, atau bila memungkinkan, menjadi idola banyak orang.
Andri kecil menjadi Andri remaja. Dalam keremajaannya, masih dipanjatkannya doa kematian atau idola. Yang menciptakan diharapkan untuk memilih. Karena dia tidak boleh mematikan, maka dipelajarinya segala trik ketampanan. Dengan segala kemampuannya dijadikanlah dirinya tampan di berbagai lapisan kulitnya. Indah di sisi dalam dirinya.
Andri remaja bersusah payah dan menekan dirinya untuk menjadi idola karena mati bukanlah keputusannya. Andri remaja berhasil mengumpulkan kelompoknya sendiri. Kumpulan anak-anak yang kurang diharapkan. Kumpulan mereka yang kurang terlihat. Kumpulan yang sebenarnya ingin dijadikannya sama hebatnya dengan kumpulan anak laki-laki yang meloncat ke arah ring basket, dan memasukkan bola dari lemparan tiga angka.
Andri remaja beranjak dewasa, dan dalam ketajaman pikirannya, mulai mengenali kemampuan menarik orang-orang. Pikiran strategisnya dipakai oleh orang-orang untuk menyelesaikan masalahnya. Dan mulai saat itu disadarinya, bahwa dia adalah orang yang dicari. Bahwa laki-laki dan perempuan yang cukup dewasa mendekatinya karena membutuhkannya. Andri dewasa menjadikan dirinya dibutuhkan. Pemenuhan kebutuhan yang dicari orang-orang dari dirinya.
Andri dewasa enggan dijadikan pemenuhan kebutuhan, maka dipelajarinya teknologi percakapan, dan tingkah laku manusia, sehingga pemenuhan kebutuhan berkembang menjadi kenyamanan. Andri dewasa menjadi sumber suasana. Ketika dikehendakinya mendung, maka mendunglah lingkungan sekitarnya. Ketika hujan dijadikan, maka terisak-isaklah dunia. Matahari yang bersahabat dengan angin semilir pun menjadi kendalinya. Andri dewasa menjadi sumber kenyamanan. Kenyamanan yang dikendalikannya.
Hidupnya baik adanya hingga diingatnya bahwa baik adanya bila manusia memiliki pasangan. Selama hidupnya, Andri kecil, remaja, dan dewasa tidak pernah tahu apa yang harus dilakukan untuk memiliki pasangan. Andri dewasa diajarkan oleh dirinya yang remaja untuk lebih memperhatikan dirinya. Andri remaja diingatkan oleh dirinya yang kecil untuk memelihara dirinya. Lalu apakah itu berpasangan?
Andri dewasa duduk di tengah taman dan melihat orang-orang memiliki pasangan yang saling membutuhkan. Andri dewasa merasa dirinya kesepian. Andri dewasa ingin ditemani duduk di bangku taman. Tapi apa daya, Andri dewasa tidak pernah mengenal orang lain selain dirinya sendiri.
Andri tidak tahu bagaimana mencintai...
Andri tidak tahu...
Monday, April 27, 2009
Gak Tau Diri...
Trus setelah siap-siap, baru deh keingetan kalau hari itu ada simposium yang sama lamanya sudah dipersiapkan sebelumnya. Tapi masih bisa diakali.
"Ok deh, biar lo ikutan kita mulainya sorean aja."
"Ceu, lo pada di mana? Gw join ya? Tapi abis itu gw cabut bentar... si Bapak ngajak gw nonton."
(gila lo yah... dah ditungguin aja masih ninggal-ninggalin... situ cantik?)
"Gak papa kok... tapi ntar malam lo ikutan kan? Jangan sampe kita terima sms kalau gak jadi keluar."
"Iya ikutan... ntar gw kabarin deh kalo gw dah selesai."
(lama bener gak ada kabarnya)
"Situ selesai jam 9, tapi jam 11 masih aja gak ada kabarnya... dipake di Sency ya?"
"Bentar lagi gw selesai, gw lagi makan bareng si Bapak..."
"Ok... kita tungguin deh..."
"Aduh gw kena macet berat nih... kalau mau berangkat duluan gak papa deh... gw pasti nyusul."
"Ntar kita rembukan dulu..."
"Eh, macetnya dah selesai. Gitu sampe rumah gw kabarin lagi... gw hanya butuh 10 menit buat siap-siap."
"Percaya kok... ntar ketemu di deket tempat lo aja ya..."
... (menanti di atas taksi)...
"Lo dah selesai belum?"
"Bentar... lagi pake sepatu..." (dooh orang ini ditungguin mulu ya... berasa cantik bener sih?)
... (sampe di tempat hura-hura bersama)...
"Kita ke depan bareng yuk... ke tengah..."
"Ok..." (gak lama kemudian) "eh, gw jalan bentar ya..." (dan tidak kembali-kembali... dan tiba-tiba terlihat sudah pelukan aja dengan orang di tempat yang jauh...)
(gak lama ada sms lagi)... "eh, si oom mabok berat nih... gw mesti nyetirin dia pulang..." (dateng bareng kok pulang gak bareng... gak sopan banget! Ini yang kedua kali tau kayak gitu...)
"Ok..."
Aduh nyebelin banget sih orang kayak gitu? Maaf ya teman-teman...
Monday, April 20, 2009
Berlari Dikejar Tanggung Jawab
"Gw harus menanggung keluarga gw karna bokap gw udah gak ada, dan nyokap gw gak kerja."
"Sejak kecil, gw sering ngedenger nyokap gw curhat sama gw."
"Gw sering disuruh ngomong ke kakak gw kalo orang tua ada masalah dengan mereka."
"Bokap gw sakit dan gak mau makan. Dia hanya mau denger kalo gw yang suruh."
"Kakak elo akan menjadi tanggung jawab elo kelak. Harus elo yang jagain."
...
...
dan begitulah ceritanya. Sebagian (kalau tidak semua) dari mereka merasa terbebani dengan tanggung jawab tersebut. Terbebani karena harus bertanggung jawab terhadap hidup yang sebenarnya bukan miliknya.
Lalu banyak di antaranya yang ingin lari dari tanggung jawab itu, tetapi tidak mampu. Kemudian karena tidak mampu, ada yang pasrah dengan keadaan (dan menerima) kewajiban bertanggung jawab dengan lapang dada (menikah, membiayai, mengurusi), ada juga yang mengerjakannya sambil bersungut-sungut di dalam hatinya diikuti perasaan terbebani, sedangkan yang lain lagi berlari sama sekali dari tanggung jawabnya. Tidak mau mengingat dan melihat, bila mungkin tidak pulang ke rumah.
Pada banyak potongan, semua bercerita tentang tanggung jawab di luar yang biasa terjadi pada anak-anak umumnya. Dan sampai pada suatu titik mereka hanya bisa menangisi diri mereka sendiri karena mereka tidak bisa menangis pada keluarganya. Setelah itu mereka pun akan mencari orang lain (yang dianggap kuat) untuk berbagi tanggung jawab dengannya... dan voila they are all gay...
Halah... berteori saja kau ini... teori tak berdasar... tidak juga bisa dijadikan alasan untuk menjadi gay... kalo sekong yang sekong aja kaleeee....
Sunday, April 19, 2009
Mau Yang Mana? Mana Yang Mau? Mau Mau Aja?
Kalo kata Lucky "Big is Overrated", maka gw baru aja membaca tulisan di Fridae kalau "Love is Overrated by Gays". Bener ga sih? Tulisan ini kurang lebih menggambarkan bahwa romantic relationship seringkali ditinggikan di atas persahabatan.
Setahu gw, di dunia ini banyak orang yang membuat sebuah relationship baik itu man-woman, woman-woman, ataupun man-man yang diketahui sebagai romantic relationship (yang mana sebagian besar akan melibatkan seks) menjadi sangat penting di dunia ini. Beberapa kalimat yang familiar banget buat gw.
"Lo harus punya pasangan. Tidak bisa seseorang hidup sendirian di dunia ini."
"Kalau tidak punya pasangan, siapa yang bakalan nemenin waktu tua nanti?"
"Apapun menjadi ringan kalau kita punya pasangan."
"Terbukti bahwa seorang pria akan menjadi kurang beresiko menderita gangguan jiwa jika telah menikah."
"Sebelumnya gw adalah orang yang lebih content dengan diri gw. Gw bisa sendirian dan tidak berharap macam-macam. Tapi setahun terakhir ini, gw benar-benar membutuhkan orang untuk menemani gw."
… (I'd like to hear related sentences from you)
…
…
Lalu, dengan berbagai alasan yang ada di atas, maka sebuah lembaga pernikahan yang diakui maupun tidak diakui (lesbian dan gay) menjadi sesuatu yang sangat penting bagi sebagian besar orang. Dengan susah payah mereka akan berusaha membentuknya, memperolehnya, kemudian memilikinya. Kadang kala sampai manusia rela mengorbankan banyak hal penting di dunia ini demi relationship tersebut yang (benar atau tidak) dianggap sangat penting, atau bahkan paling penting.
Tapi benarkah itu begitu penting? Gw termasuk orang yang sangat berada di dalam lembaga itu, mengharapkan memiliki orang yang dapat menemani gw, sampai ketika gw menutup mata. Orang yang mencintai gw dan sebaliknya juga gw cintai dengan sepenuh hati gw.
Kalau kata orang, "Pacar tidak selalu ada, teman akan selalu ada." Benarkah? Dalam beberapa hari yang lalu, gw sempat melihat-lihat phonebook gw untuk mencari-cari siapa yang bisa gw telpon sambil menunggu habisnya waktu. Ternyata setelah dua kali berputar dari atas ke bawah, gw tidak menemukan teman yang bisa ditelepon. Beberapa alasan:
- Teman yang bisa gw hubungin sedang kerja atau sibuk (jumlahnya ada 5)
- Yang lainnya pernah riwayat memiliki hubungan dengan gw (dan berakhirnya kurang sedap…) jadi susah kali dimasukkan kategori teman (untuk diajak ngobrol)
- Beberapa lainnya lagi merupakan teman-teman yang tidak cukup dekat tanpa alasan tertentu, yang sepertinya kalau gw telpon juga gak akan ada bahan pembicaraan
- Sisanya adalah anggota keluarga yang gak mungkin gw ajak ngondek-ngondekan.
- Mungkin ada yang terlewat mata gw kali ya???
Lalu kalau memang love overrated over friends… kenapa teman juga masih sulit dicari?
Pilih mana? Teman, Pasangan, Dua-duanya, atau Diri Sendiri? Dooh… cinta diri benerrr….
Friday, April 17, 2009
Situ Cantik?
Gw baru aja kehilangan seorang teman lagi. Kehilangan dalam arti dia meninggal dunia. Kali ini karena sakit. Mendadak banget. Hanya sakit 3 minggu, masuk rumah sakit, keluar rumah sakit, masuk lagi rumah sakit, kemudian… GONE. Yup sepertinya mudah sekali.
Meskipun begitu… sebenarnya gw tidak terlalu rapat sama dia. Sedikit pembicaraan antara dua orang sahabat pada saat itu
"Semalam setelah ngelayat ke mana?"
"Gak kemana-mana kok! Hanya berdua doang. Pergi nonton trus pulang."
"Oh, ya? Ada apa kok gak ke mana-mana?"
"Dia masih mellow gara-gara dari acara kematian. Jadinya kesian banget deh."
"Iya… bisa dimengerti kok… Dulu waktu Adit meninggal kecelakaan juga gw mellow banget. Sampe 3 hari…"
"Ceritanya mesti ya kembali ke diri sendiri?" …(dengan nada nyinyir)…
…(terdiam karena malu, lalu menyambung)… "Gw kan sun in the milky way. Maunya dunia berputar di sekeliling gw." …(ugh)…
Untung ada teman yang mau mengingatkan… daripada orang yang tidak dikenal mengingatkan… pasti lebih malu lagi… "situ cantik?"
Friday, April 03, 2009
Aneh... aneh... aneh...
"Eh, di hotel itu ada acara... pasti yang datang tuh orang-orang dari kalangan jet zet itu..."
"Kalo mau jetzet ke Dragon Fly kali..."
"Wah kalo di sini pasti lebih segmented kali dari DF. Orang-orang dari kalangan terbatas. Aneh..."
"Maksud lo?"
"Ya aneh aja, ngumpul kayak gitu... ngabis-ngabisin duit gak karu-karuan."
"Hmm? Kok aneh? Biasa aja kali..."
"Aneh lah..."
"Menurut elo aneh, tapi menurut mereka biasa aja kali..." (ya... ngomong aneh karena merasa tidak bisa membelanjakan uang seperti itu?)
"Ya gw sih bilang mereka aneh... hidupnya ngeluarin duit mulu."
"Kalau menurut mereka elo aneh gimana?"
"Ya bisa aja mereka bilangin gw aneh."
"Kalau gitu mereka bisa dong bilangin lo aneh."
"Asal gak di depan gw aja bilangnya."
(Diam saja supaya tidak menambah masalah)
Bentuk rasa iri terhadap kepemilikan orang?
Jadi keingetan hukum ke-10 dari Taurat Musa. Seperti yang tertera di Keluaran 20:17
"Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."
